header-daun_01 kayon_01
iklan logoUKM kayon_02
kayon_03
Selamat Datang di PESANTREN BUDAYA NUSANTARA

Dilematika Grebeg Mulud Aboge & Asapon

oleh: Syamsuddin Suryo Baskoro
                  Di Indonesia ternyata tidak hanya masalah kapan datangnya Idul Fitri saja yang seringkali menimbulkan masalah karena berbagai perbedaan dalam menghitung kalender. Terkait dengan peringatan lahirnya Nabi Muhammad Saw yang dikenal dengan istilah Maulid Nabi pun seringkali menimbulkan berbagai perbedaan. Hal ini terutama dipicu oleh keyakinan bahwa hari kelahiran Nabi Muhammad Saw, khususnya yang jatuh  pada tahun Dal mesti jatuh pada hari Senin Pon. Untuk ini, Maulid Nabi Saw jatuh pada hari Senin Kliwon, yaitu tanggal 5 Februari sore.
                Jika hendak membuat Grebeg Mulud tahun Dal dalam kurup Asapon tetap jatuh pada hari Senin Pon,  maka diperlukan beberapa penyesuaian. Baik dari tahun wuntu dan wastunya ataupun terkait dengan jumlah hari pada tiap bulan di tahun Dal kurup Asapon
                Masalahnya muncul karena bahkan di kurub Aboge tahun Dal, mulud jatuh pada hari Sabtu Legi. Ini menunjukkan bahwa sejak kita mengikuti kurup Aboge kita tidak lagi mematuhi aturan Grebeg Mulud jatuh pada hari Senin Pon.  Bahkan kalau kita mau tahu kenapa muncul asumsi bahwa Grebeg Mulud mesti jatuh pada hari Senin Pon adalah karena kita memulai kalender dengan kurup jumngiah (Jum'iyyah). Jadi jika kita menggunakan kurup Arbangiah (Arba'iyyah) tahun Dal-nya jatuh pada hari Sabtu Legi, maka Kurup Kamsiah tahun Dal-nya jatuh  Minggu Pahing. Sehingga pada Kurup jumngiah tahun Dal-nya jatuh pada hari Senin Pon.
Begitu pentingnya arti waktu bagi nenek moyang kita. Semua tidak terlepas dari ajaran agama yang dianut. Sehingga secara moral kita selalu terdidik untuk optimis terhadap keputusan Yang Maha Baik.
                 Jadi kebenaran akan lahirnya Nabi Muhammad Saw pada  tahun Dal hari  Senin Pon tentu saja patut kita teliti lebih lanjut. Tentu saja pencapaian yang sudah dilakukan oleh nenek moyang kita amat sangatlah patut kita hargai.
Jika kita merujuk pada data bahwa Nabi Muhammad Saw lahir pada tanggal 22 April 571 Masehi, maka itu berarti Nabi Saw lahir pada hari Senin Legi tahun Ehe tanggal  8 Mulud Wuku  Julungpujut. Ada lagi pendapat lain yang menyebut lahir  Nabi Saw tanggal  5 Mei 570 Masehi. Ternyata ini justru tidak jatuh pada hari Senin tetapi malah hari Sabtu. Yang paling dekat adalah 7 Mei 570. Tetapi ini juga tidak jatuh pada Senin Pon melainkan jatuh pada hari Senin Legi tahun Alip 12 Mulud Wuku Bolo.
                  Upaya untuk menjadikan Grebeg Mulud tetap jatuh pada hari Senin Pon sebenarnya sangat luar biasa. Sayangnya generasi muda Indonesia berikutnya tidak begitu memahami apa yang sebenarnya tengah terjadi dengan kalender mereka. Ini  diperparah dengan diresmikannya penggunaan kalender Masehi melalui peraturan colonial Belanda sehingga kita malah semakin acuh pada upaya maha dahsyat dari Sultan Agung.
                  Hampir seluruh kalender yang beredar sekarang ini memiliki kesalahan fatal dalam penentuan tanggal 1 Suro 1935 (tahun Jawa yang sama dengan tahun 2002). Dalam kalender itu disebutkan, tanggal 1 Suro yang bersamaan dengan 1 Muharam, jatuh pada Jumat Kliwon. Padahal, tanggal 1 Suro 1935 Jawa jatuh pada Sabtu Legi, bukan Jumat Kliwon.
                Kebanyakan dari pembuat kalender tidak ingat bahwa menurut perhitungan Jawa, tahun 1934 merupakan tahun kabisat. Sehingga, penempatan bulan Besar adalah 29 hari. Berdasarkan patokan perhitungan tahun Jawa, dalam satu windu (delapan tahun), terdapat tiga tahun kabisat, yakni ketika jatuh pada tahun-tahun Ehe, Je, dan Jimakir. Sedangkan pada 1935 Jawa, adalah tahun Jawa dalam perhitungan windu sebagai tahun Je, sehingga tahun 1934 adalah tahun kabisat.
              Dalam tahun kabisat Jawa,  umur bulan Besar adalah 30 hari, sedangkan umur bulan Dzulhijah dalam perhitungan tahun Hijriah berumur 29 hari. Selain bulan Besar, dalam sistem kalender Jawa, yang biasanya berumur 29 hari, yakni bulan Sapar, juga berumur 30 hari. Sementara, bulan Safar (tahun Hijriah) tetap berumur 29 hari. Tahun kabisat dalam perhitungan kalender Jawa,  dalam satu windu terdapat tiga tahun kabisat. Sedangkan dalam perhitungan tahun Hijriah, dalam 30 tahun terdapat 11 tahun kabisat. Adanya perbedaan jumlah tahun kabisat ini mengakibatkan, antara tahun Jawa dan tahun Hijriah harus ada pergantian kuruf agar antara kedua perhitungan tahun itu sesuai lagi. Ini terjadi setiap 120 tahun, kalender Jawa harus dimajukan satu hari. Untuk mendatang terjadi pada 2056 masehi.
               Panjang tahun Jawa dengan tahun Hijriah sendiri, terdapat perbedaan. Satu tahun Jawa berumur 354 3/8 hari, sedangkan tahun Hijriah berumur 354 11/30 hari. Salah satu alasan penempatan tanggal 1 Suro tahun Dal --seperti tahun 1935 mendatang-- pada hari Sabtu Legi atau menempatkan bulan Besar dengan umur 30 hari,  adalah untuk menempatkan Garebeg Mulud tahun Dal jatuh pada Senin Pon (hari kelahiran Nabi Muhammad saw).  1 Muharam mendatang akan jatuh pada Jumat Kliwon. Kemudian, pada bulan Sapar pada tahun Dal juga akan berumur 30 hari, sedangkan bulan Safar hanya 29 hari. Itu disengaja agar dalam kalender Jawa, Garebeg Mulud tahun Dal tetap jatuh pada Senin Pon.
                Tahun Jawa dan tahun Hijriah akan kembali bersesuaian dan kesalahan kalender Jawa  selesai pada 9 Agustus 2002. Tahun Jawa Sultan Agungan dalam kuruf Asapon ini menetapkan umur hari dalam bulan Suro (30 hari), Sapar 29 hari (kecuali tahun Dal 30 hari), Mulud (30 hari), Bakdamulud (29 hari), Jumadilawal (30 hari (kecuali tahun Dal 29 hari), Jumadilakir (29 hari), Rejeb (30 hari), Ruwah (29 hari), Pasa 30 hari), Sawal 29 hari, Dulkaidah (30 hari), Besar (29 hari) kecuali kabisat 30 hari.
           Tahun kabisat dalam perhitungan Jawa adalah tahun Ehe, Je, dan Jimakir.

  
2012-01-28


script_end

..lebih lama
.:: ALMANAK - 9/9 ::.

DAFTAR 9 ARTIKEL TERBARU KATEGORI ALMANAK
Free counters!
SEKRETARIAT:
Jl. Karya Timur IV/68 Malang 65122 Telp/Fax. 0341-416711
email: info@pesantrenbudaya.com

DEVELOPED from SCRATCH by AGUS WIDODO