header-daun_01 kayon_01
iklan logoUKM kayon_02
kayon_03
Selamat Datang di PESANTREN BUDAYA NUSANTARA

Pemikiran Abu Ishaq As-Syathibi

oleh: Widyayu Kusumawati

A.Ilmu Ushul Fiqh
    Didalam perkembangan studinya Syatibi mendapatkan berbagai ilmu dari para pakarnya pada saat itu, untuk aspek bahasa arab dia belajar langsung pada mentornya Abu Abdillah Muhammad ibn Fakhhar Al-Albiri yang dikenal sebagai guru tata bahasa arab di Andalusia. Sedangkan dalam bidang ulumul Qur'an Syatibi banyak belajar pada Abu al-Qosim dan Syamsudin Al-Tilimsani, sementara untuk ilmu theology dan falsafah diperoleh dari Abu Ali Mansur Ibn Muhammad Al Zawawi, sedangkan pada bidang Usul fiqih Syatibi banyak memperoleh ilmu dari Abu Abdillah Muhammad ibn Ahmad Al MAqqari dan dari imam ternama madzhab maliki di Spanyol, Abu Abdillah Muhammad Ibn Ahmad Al-Syarif Al-Tilimsani. Tidak hanya belajar dari para mentornya Syatibi juga melakukan banyak diskusi dengan para ulama pada saat itu serta ketekunan dan kerajinan Syatibi yang didukung lingkungan dan suasana ilmiah yang cukup kondusif dengan Universitas Granada sebagai pusat kajian intelektual waktu itu telah turut mengantarkan Syatibi untuk menjadi seorang tokoh intelektual islam yang di segani. Ketokohan Syatibi sebagai ilmuwan terus diperkukuh dengan berjibun karya monumental  yang lahir dari tangannya, posisinya yang mantap sebagai seorang ilmuan brilian terus menarik simpati, sehinnga banyak orang yang bersedia menjadi muridnya.
    Sebagaimana kita ketahui bahwa manfaat dari ilmu ushul fiqh amat dirasakan dalam menangkap "pesan-pesan" Tuhan, salah satunya yang berhubungan dengan amaliyah sehari-hari, hubungan antar makhluk, serta masalah aqidah. Upaya-upaya di kalangan dulu dalam membuat metodologi pengambilan hukum sungguh amat penting bagi generasi selanjutnya dan perlu mendapatkan apresiasi yang tinggi. Tetapi apa yang telah dirumuskan oleh pendahulu tadi bukanlah hal baku yang tidak mengalami perkembangan dan bahkan perubahan, tetapi sebaliknya. Pada era dimana ilmu tersebut lahir, ushul fiqh telah mengalami perkembangan, bahkan berbeda satu teori dengan yang lainnya
    Seiring dengan perputaran poros waktu, permasalahan-permasalahan pun kian bergulir. Hal inilah yang menggelitik para fuqoha' untuk terus menggali sumber-sumber hukum demi mencari solusi masalah kekinian yang terus menjamur. Dan hal ini pula yang mengakumulasi pemikiran-pemikiran yang berbeda satu sama lain, sehingga terjadilah pemetakan umat Islam dalam beberapa madzhab. Methodologi inferensi hukum (istinbath al-hukm) yang diterapkan pun berbeda-beda hal ini disebabkan karena ruang dan waktu serta permasalahan yang dihadapi berbeda-beda, hal ini terbukti dengan semakin berkembangnya pengetahuan dan tekhnologi serta perkembangan zaman yang terus bergulir.
    Dalam wacana keagamaan modern, istilah maqashid asy-syari‘ah sering dilontarkan terutama oleh para cendekiawan muslim akhir-akhir ini. Istilah ini sebetulnya merupakan istilah lama yang digagas oleh Imam Asy-Syatibi, yang kemudian kembali dipopulerkan. Belakangan, nama Syatibi hampir selalu tercantum disetiap lembar diskursus pembaharuan pemikiran hukum Islam, baik di dalam negeri Indonesia yang umumnya bermadzhab syafi'i maupun di negeri-negeri muslim yang lain dengan aneka ragam madzhab bahkan semenjak abad 19 hingga kuartal pertama abad ini, nuktah pemikiran-pemikiran hukum Syatibi telah menjadi referensi utama kalangan pemikir islam.

B.Konsep Maqashid al-Syari'ah

    Ada beberapa pengertian terkait dengan tema di atas salah satunya secara bahasa, maqashid al-syariah terdiri diri dari dua kata; maqashid dan al-syariah. Maqashid berarti kesengajaan atau tujuan, sedangkan al-syari'ah berarti jalan menuju sumber air. Imam asy-Syatibi menyatakan, menurut istilah: sesungguhnya syariah itu bertujuan untuk mewujudkan kemaslahatan manusia di dunia dan akhirat. Secara umum, maqashid syari'ah berarti tujuan diundangkanya sebuah syari'ah (ketentuan hukum). Dalam konteks maqashid syari'ah, Syatibi mengatakan bahwa sesungguhnya syari'at itu bertujuan untuk mewujudkan kemaslahatan manusia baik di dunia maupun di akhirat. Dalam ungkapan lain, Syatibi mengatakan bahwa hukum-hukum disyari'atkan untuk kemaslahatan hamba secara mutlak tidak satupun hukum Allah dalam pandangan Syatibi yang tidak mengemban misi kemaslahatan kemanusiaan secara universal, bahkan ia mengatakan bahwa semua ketentuan hukum yang dibuat oleh Allah bukanlah untuk menaikkan kedudukan Tuhan di depan hambanya, melainkan justru untuk kepentingan hamba sendiri, yaitu untuk kemaslahatan diri baik dunia maupun akhirat.
    Sebagai sumber utama agama Islam, Alquran mengandung berbagai ajaran. Ulama membagi kandungan Alquran dalam tiga bagian besar, yaitu akidah, akhlak, dan syariah. Akidah berkaitan dengan dasar-dasar keimanan, akhlak berkaitan dengan etika dan syariah berkaitan dengan berbagai aspek hukum yang muncul dari aqwal (perkataan) dan af'al (perbuatan). Kelompok terakhir (syariah), dalam sistematika hukum Islam, dibagi dalam dua hal, yakni ibadah (habl min Allah) dan muamalah (habl min al-nas). Alquran tidak memuat berbagai aturan yang terperinci tentang ibadah dan muamalah. Ia hanya mengandung dasar-dasar atau prinsip-prinsip bagi berbagai masalah hukum dalam Islam. Bertitik tolak dari dasar atau prinsip ini, Nabi Muhammad saw menjelaskan melalui berbagai hadisnya. Kedua sumber inilah (Alquran dan hadis Nabi) yang kemudian dijadikan pijakan ulama dalam mengembangkan hukum Islam, terutama di bidang muamalah. Dalam kerangka ini, asy-Syatibi mengemukakan konsep maqashid al-syariah. Secara bahasa, Maqashid al-Syari'ah terdiri dari dua kata, yakni maqashid dan al-syari'ah. Maqashid berarti kesengajaan atau tujuan, sedangkan al-syariah berarti jalan menuju sumber air, dapat pula dikatakan sebagai jalan ke arah sumber pokok kehidupan.4 Menurut istilah, asy-Syatibi menyatakan :
                 "Sesungguhnya syariah bertujuan untuk mewujudkan kemaslahatan manusia di dunia dan di akhirat"
    Dari pengertian tersebut, dapat dikatakan bahwa tujuan syariah menurut Asy-Syatibi adalah kemaslahatan umat manusia. Lebih jauh, ia menyatakan bahwa tidak satu pun hukum Allah swt yang tidak mempunyai tujuan karena hukum yang tidak mempunyai tujuan sama dengan membebankan sesuatu yang tidak dapat dilaksanakan.Kemaslahatan, dalam hal ini, diartikannya sebagai segala sesuatu yang menyangkut rezeki manusia, pemenuhan Penghidupan manusia, dan perolehan apa-apa yang dituntut oleh kualitaskualitas emosional dan intelektualnya, dalam pengertian yang mutlak. Dengan demikian, kewajiban-kewajiban dalam syariah menyangkut perlindungan maqashid al-syari'ah yang pada gilirannya bertujuan melindungi kemaslahatan manusia. Asy-Syatibi menjelaskan bahwa syariah berurusan dengan perlindungan mashalih, baik dengan cara yang positif, seperti demi menjaga eksistensi mashalih, syariah mengambil berbagai tindakan untuk menunjang landasan-landasan mashalih, maupun dengan cara preventif, seperti syariah mengambil berbagai tindakan untuk melenyapkan unsur apa pun yang yang secara aktual atau potensial merusak mashalih.

C.Kategorisasi Maqashid Asy-Syariah
         Maqashid syari'ah oleh Syatibi dilihat melalui beberapa sudut pandang yaitu:
1.Maqashid asy-syari' (tujuan Tuhan), dalam arti maqashid asy-syari'ah dalam tujuan Tuhan memuat empat aspek utama:
a).Tujuan awal dari syari'ah yaitu kemaslahatan manusia baik di dunia maupun di akhirat
b).Syari'ah sebagai sesuatu yang harus dipahami, aspek kedua ini berkaitan dengan dimensi bahasa dalam konteks ini adalah bahasa arab, agar syari'ah dapat dipahami 

    sehingga kemaslahatan yang dikandungnya dapat dicapai.
c).Syari'ah sebagai hukum taklif yang harus dilaksanakan. Aspek ke tiga ini berkaitan dengan pelaksanaan ketentuan-ketentuan syari'ah dalam rangka mewujudkan kemaslahatan. Dalam kaitan ini hukum harus berada dalam kemampuan mukallaf, jika mukallaf tidak mampu melakukannya taklif tidak sah secara syara', contoh:        
Maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam
            Dalam hadits Nabi:
         Jadilah hamba Allah yang terbunuh dan jangan menjadi hamba Allah sebagai pembunuh.
         Janganlah mati dalam keadaan dhalim.

                Dari ayat dan hadits tersebut jelas tidak ada tuntutan kecuali sesuai dengan kemampuan manusia. Yaitu mati dalam keadaan Islam, meninggalkan kedhaliman, tidak membunuh. Sedangkan contoh yang menujukan mukallaf tidak mampu, seperti cacat. Hal tersebut Tuhan tidak menuntut umatnya untuk memberbaikinya.
d).Tujuan syari'ah adalah membawa manusia kebawah naungan hukum. Aspek yang terakhir ini berkaitan dengan ketaan manusia sebagai mukallaf untuk tetap tunduk dengan hukum-hukum Allah. Dalam ungkapan yang lebih tegas syari'ah juga bertujuan membebaskan manusia dari dorongan hawa nafsu, karena kemaslahatan dunia maupun akhirat tidak akan berhasil jika hanya mengikuti hawa nafsu.
         Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.
2.Maqashid al-mukallaf (tujuan mukallaf)
              Maqashid mukallaf tidak dibahas lebih lanjut dalam kajian ini karena lebih menggambarkan sikap mukallaf terhadap maqashid as-syari'.

D.Pembagian Maqashid al-Syari'ah
                  Menurut Asy-Syatibi, kemaslahatan manusia dapat terealisasi apabila lima unsur pokok kehidupan manusia dapat diwujudkan dan dipelihara, yaitu agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta. Dalam kerangka ini, ia membagi maqashid menjadi tiga tingkatan, yaitu dharuriyat, hajiyat dan tahsiniyat.
a.Dharuriyat
                    Jenis maqashid ini merupakan kemestian dan landasan dalam menegakkan kesejahteraan manusia di dunia dan di akhirat yang mencakup pemeliharaan lima unsur pokok dalam kehidupan manusia, yakni agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta. Pengabaian terhadap kelima unsur pokok tersebut akan menimbulkan kerusakan di muka bumi serta kerugian yang nyata di akhirat kelak. Pemeliharaan terhadap agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta dapat dilakukan dengan cara memelihara eksistensi kelima unsur pokok tersebut dalam kehidupan manusia dan melindunginya dari berbagai hal yang dapat merusak. Sebagai contoh, penunaian rukun Islam, pelaksanaan kehidupan manusiawi serta larangan mencuri masing-masing merupakan salah satu bentuk pemeliharaan eksistensi agama dan jiwa serta perlindungan terhadap eksistensi harta.
b.Hajiyat
                Jenis maqashid ini dimaksudkan untuk memudahkan kehidupan, menghilangkan kesulitan atau menjadikan pemeliharaan yang lebih baik terhadap lima unsur pokok kehidupan manusia. Contoh jenis maqashid ini antara lain mencakup kebolehan untuk melaksanakan akad mudharabah, musaqat, muzara'ah dan bai salam, serta berbagai aktivitas ekonomi lainnya yang bertujuan untuk memudahkan kehidupan atau menghilangkan kesulitan manusia di dunia.
c.Tahsiniyat
             Tujuan jenis maqashid yang ketiga ini adalah agar manusia dapat melakukan yang terbaik untuk menyempurnakan pemeliharaan lima unsur pokok kehidupan manusia. Ia tidak dimaksudkan untuk menghilangkan atau mengurangi berbagai kesulitan, tetapi hanya bertindak sebagai pelengkap, penerang dan penghias kehidupan manusia. Contoh jenis maqashid ini antara lain mencakup kehalusan dalam berbicara dan bertindak serta pengembangan kualitas produksi dan hasil pekerjaan.

E. Korelasi Antara Dharuriyat, Hajiyat dan Tahsiniyat

                Dari hasil penelaahannya secara lebih mendalam, Asy-Syatibi menyimpulkan korelasi antara dharuriyat, hajiyat dan tahsiniyat sebagai berikut:
a)Maqashid dharuriyat merupakan dasar bagi maqashid hajiyat dan maqashid tahsiniyat
b)Kerusakan pada maqashid dharuriyat akan membawa kerusakan pula pada maqashid      hajiyat dan maqashid tahsiniyat.
c)Sebaliknya, kerusakan pada maqashid hajiyat dan maqashid tahsiniyat tidak dapat merusak maqashid dharuriyat.
d)Kerusakan pada maqashid hajiyat dan maqashid tahsiniyat yang bersifat absolut terkadang dapat merusak maqashid dharuriyat.
ePemeliharaan maqashid hajiyat dan maqashid tahsiniyat diperlukan demi pemeliharaan maqashid dharuriyat secara tepat.
    Dengan demikian, jika dianalisis lebih jauh, dalam usaha mencapai pemeliharaan lima unsur pokok secara sempurna, ketiga tingkat maqashid tersebut tidak dapat dipisahkan. Bagi Asy-Syatibi, tingkat hajiyat merupakan penyempurna tingkat dharuriyat, tingkat tahsiniyat merupakan penyempurna lagi bagi tingkat hajiyat, sedangkan dharuriyat menjadi pokok hajiyat dan tahsiniyat. Pengklasifikasian yang dilakukan Asy-Syatibi tersebut menunjukkan betapa pentingnya pemeliharaan lima unsur pokok itu dalam kehidupan manusia. Di samping itu, pengklasifikasian tersebut juga mengacu pada pengembangan dan dinamika pemahaman hukum yang diciptakan Allah SWT dalam rangka mewujudkan kemaslahatan manusia. Berkenaan dengan hal tersebut, Mustafa Anas Zarqa menjelaskan bahwa tidak terwujudnya aspek dharuriyat dapat merusak kehidupan manusia dunia dan akhirat secara keseluruhan. Pengabaian terhadap aspek hajiyat tidak sampai merusak keberadaan lima unsur pokok, tetapi hanya membawa kesulitan bagi manusia sebagai mukallaf dalam merealisasikannya. Adapun pengabaian terhadap aspek tahsiniyat mengakibatkan upaya pemeliharaanlima unsur pokok tidak sempurna.12 Lebih jauh, ia menyatakan bahwa segalaaktivitas atau sesuatu yang bersifat tahsiniyat harus dikesampingkan jikabertentangan dengan maqashid yang lebih tinggi (dharuriyat dan hajiyat).

F. Beberapa Pandangan asy-Syatibi di Bidang Ekonomi:
(1) Objek Kepemilikan.
    Pada dasarnya, Asy-Syatibi mengakui hak milik individu. Namun, ia menolak kepemilikan individu terhadap setiap sumber daya yang dapat menguasai hajat hidup orang banyak. Ia menegaskan bahwa air bukanlah objek kepemilikan dan penggunaannya tidak bisa dimiliki oleh seorang pun.
    Dalam hal ini, ia membedakan dua macam air, yaitu air yang tidak dapat dijadikan sebagai objek kepemilikan, seperti air sungai dan oase; dan air yang bisa dijadikan sebagai objek kepemilikan, seperti air yang dibeli atau termasuk bagian dari sebidang tanah milik individu. Lebih jauh, ia menyatakan bahwa tidak ada hak kepemilikan yang dapat diklaim terhadap sungai dikarenakan adanya pembangunan dam.
(2) Pajak.
     Dalam pandangan Asy-Syatibi, pemungutan pajak harus dilihat dari sudut pandang maslahah (kepentingan umum). Dengan mengutip pendapat para pendahulunya, seperti Al-Ghazali dan Ibnu al-Farra', ia menyatakan bahwa pemeliharaan kepentingan umum secara esensial adalah tanggung jawab masyarakat.
Dalam kondisi tidak mampu melaksanakan tanggung jawab ini, masyarakat bisa mengalihkannya kepada Baitul mal serta menyumbangkan sebagian kekayaan mereka sendiri untuk tujuan tersebut. Oleh karena itu, pemerintah dapat mengenakan pajak-pajak baru terhadap rakyatnya, sekalipun pajak tersebut belum pernah dikenal dalam sejarah Islam.

G. Wawasan Modern Teori asy-Syatibi
    Dari pemaparan konsep Maqashid Asy-Syariah di atas, terlihat jelas bahwa syariah menginginkan setiap individu memperhatikan kesejahteraan mereka. Asy-Syatibi menggunakan istilah maslahah untuk menggambarkan tujuan syariah ini. Dengan kata lain, manusia senantiasa dituntut untuk mencari kemaslahatan. Aktivitas ekonomi produksi, konsumsi, dan pertukaran yang menyertakan kemaslahatan seperti didefinisikan syariah harus diikuti sebagai kewajiban agama untuk memperoleh kebaikan di dunia dan akhirat. Dengan demikian, seluruh aktivitas ekonomi yang mengandung kemaslahatan bagi umat manusia disebut sebagai kebutuhan (needs). Pemenuhan kebutuhan dalam pengertian tersebut adalah tujuan aktivitas ekonomi, dan pencarian terhadap tujuan ini adalah kewajiban agama. Dengan kata lain, manusia berkewajiban untuk memecahkan berbagai permasalahan ekonominya. Oleh karena itu, problematika ekonomi manusia dalam perspektif Islam adalah pemenuhan kebutuhan (fulfillment needs) dengan sumber daya alam yang tersedia. Bila ditelaah dari sudut pandang ilmu manajemen kontemporer, konsep Maqashid Al-Syariah mempunyai relevansi yang begitu erat dengan konsep Motivasi. Seperti yang telah kita kenal, konsep motivasi lahir seiring dengan munculnya persoalan "mengapa" seseorang berperilaku. Motivasi itu sendiri didefinisikan sebagai seluruh kondisi usaha keras yang timbul dari dalam diri manusia yang digambarkan dengan keinginan, hasrat, dorongan dan sebagainya.
    Bila dikaitkan dengan konsep maqashid al-syari'ah, jelas bahwa, dalam pandangan Islam, motivasi manusia dalam melakukan aktivitas ekonomi adalah untuk memenuhi kebutuhannya dalam arti memperoleh kemaslahatan hidup di dunia dan di akhirat. Kebutuhan yang belum terpenuhi merupakan kunci utama dalam suatu proses motivasi. Seorang individu akan terdorong untuk berperilaku bila terdapat suatu kekurangan dalam dirinya, baik secara psikis maupun psikologis. Motivasi itu sendiri meliputi usaha, ketekunan dan tujuan.
       Menurut Maslow, apabila seluruh kebutuhan seseorang belum terpenuhi pada waktu yang bersamaan, pemenuhan kebutuhan yang paling mendasar merupakan hal menjadi prioritas. Dengan kata lain, seorang individu baru akan beralih untuk memenuhi kebutuhan hidup yang lebih tinggi jika kebutuhan dasarnya telah terpenuhi. Lebih jauh, berdasarkan konsep hierarchy of needs, ia berpendapat bahwa garis hirarkis kebutuhan manusia berdasarkan skala prioritasnya terdiri dari :
1. Kebutuhan Fisiologi (Physiological Needs), mencakup kebutuhan dasar manusia,   seperti makan dan minum. Jika belum terpenuhi, kebutuhan dasar ini akan menjadi prioritas manusia dan mengenyampingkan seluruh kebutuhan hidup lainnya.
2. Kebutuhan Keamanan (Safety Needs), mencakup kebutuhan perlindungan terhadap gangguan fisik dan kesehatan serta krisis ekonomi.
3. Kebutuhan Sosial (Social Needs), mencakup kebutuhan akan cinta, kasih sayang dan persahabatan. Tidak terpenuhinya kebutuhan ini akan mempengaruhi kesehatan jiwa seseorang.
4. Kebutuhan Akan Penghargaan (Esteem Needs), mencakup kebutuhan terhadap penghormatan dan pengakuan diri. Pemenuhan kebutuhan ini akan mempengaruhi rasa percaya diri dan prestise seseorang.
5. Kebutuhan Aktualisasi Diri (Self-Actualization Needs), mencakup kebutuhan memberdayakan seluruh potensi dan kemampuan diri.Kebutuhan ini merupakan tingkat kebutuhan yang paling tinggi.
                   Dalam dunia manajemen, kebutuhan-kebutuhan yang dikemukakan oleh Maslow tersebut dapat diaplikasikan sebagai berikut:
1. Pemenuhan kebutuhan fisiologi antara lain dapat diaplikasikan dalam hal pemberian upah atau gaji yang adil dan lingkungan kerja yang nyaman.
2. Pemenuhan kebutuhan keamanan antara lain dapat diaplikasikan dalam hal pemberian tunjangan, keamanan kerja dan lingkungan kerja yang aman.
3. Pemenuhan kebutuhan sosial antara lain dapat diaplikasikan dalam hal dorongan terhadap kerjasama, stabilitas kelompok dan kesempatan berinteraksi sosial.
4. Pemenuhan kebutuhan akan penghargaan antara lain dapat diaplikasikan dalam hal penghormatan terhadap jenis pekerjaan, signifikansi aktivitas pekerjaan dan pengakuan publik terhadap performance yang baik.
5. Pemenuhan kebutuhan aktualisasi diri antara lain dapat diaplikasikan dalam hal pilihan dalam berkreativitas dan tantangan pekerjaan.
    Bila ditelaah lebih dalam, berbagai tingkat kebutuhan yang dikemukakan oleh Maslow di atas sepenuhnya telah terakomodasi dalam konsep Maqashid Al-Syariah. Bahkan, konsep yang telah dikemukakn oleh asy-Syatibi mempunyai keunggulan komparatif yang sangat signifikan, yakni menempatkan agama sebagai faktor utama dalam elemen kebutuhan dasar manusia, satu hal yang luput dari perhatian Maslow. Seperti yang telah dimaklumi bersama, agama merupakan fitrah manusia dan menjadi faktor penentu dalam mengarahkan kehidupan umat manusia di dunia ini. Dalam perspektif Islam, berpijak pada doktrin keagamaan yang menyatakan bahwa pemenuhan kebutuhan hidup manusia dalam rangka memperoleh kemaslahatan di dunia dan di akhirat merupakan bagian dari kewajiban agama, manusia akan termotivasi untuk selalu berkreasi dan bekerja keras. Hal ini, pada akhirnya, tentu akan meningkatkan produktivitas kerja dan pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.

H. Piranti Pembacaan Teks Syari'
    Sebagaimana dikemukakan sebelumnya bahwa maqashid syari'ah menurut Syatibi terdapat dalam ayat-ayat Al-Qur'an yang kemudian mendapatkan penjabaran teknis dari sunnah oleh karena itu untuk memahami secara utuh dan komprehensif teks-teks keTuhanan di perlukan seperangkat alat untuk memahami teks tersebut:
1)Memiliki pengetahuan bahasa arab yang tangguh. Syarat pertama berpangkal dari alasan bahwa Al-Qur'an sebagai sumber hukum diturunkan oleh Tuhan dalam bentuk bahasa Arab.
2)Memiliki pengetahuan tentang sunnah, karena tidak semua ayat yang sulit dipahami ada penjelasannya dalam Al-Qur'an atau tidak semua penjelasan itu dapat ditemukan atau diketahui. Sunnah Rasul sangat diperlukan dalam usaha memahami ayat-ayat Al-Qur'an karena tanpa itu hampir dapat dipastikan tidak dapat memahami dan mengamalkan ayat-ayat tertentu dalam Al-Qur'an. Fungsi sunnah dalam memahami Al-Qur'an termasuk dalam memahami maqashid syari'ah yaitu sebagai penguat terhadap hukum yang ditetapkan oleh Al-Qur'an, penjelas terhadap apa yang ditetapkan oleh Al-Qur'an secara global dan memberikan spesifikasi terhadap hukum yang ditetapkan oleh Al-Qur'an secara umum.
3)Memahami sebab-sebab turunnya ayat, menurut Syatibi pengetahuan tentang sebab turun ayat merupakan syarat mutlak yang diperlukan untuk memahami petunjuk Al-Qur'an. Termasuk kedalam permasalahan asbabun nuzul, menurut Syatibi adalah adanya keharusan untuk mengetahui tradisi dan kultur masyarakat Arab serta situasi yang berlangsung ketika turunnya suatu ayat.

I. Memahami Maqsid Syari'ah
    Dalam kaitan dan upaya pemahaman maqashid syari'ah, menurut Syatibi para ulama terbagi menjadi tiga kelompok dengan cara yang berbeda-beda. Pertama, adalah ulama yang berpendapat bahwa maqashid syari'ah adalah sesuatu yang abstrak, tidak dapat diketahui kecuali melalui petunjuk Tuhan, dalam bentuk lahir teks pandangan ini menolak analisis lewat jalan qiyas (analogi) kelompok ini disebut ulama Skriptualis. Kedua ulama yang tidak menempuh pendekatan lahir lafadz dalam mengetahui maqashid syari'ah kelompok ini di bagi menjadi dua: (a) ulama yang berpendapat bahwa maqashid syari'ah bukan dalam bentuk dhahir dan bukan pula sesuatu yang dipahami dari petunjuk dhahir ayat itu. Maqashid syari'ah adalah hal lain yang berada dibalik petunjuk suatu ayat dengan demikian, tak seorang pun dapat berpegang pada dhahirnya ayat sehingga dapat memperoleh pengertian maqashid syari'ah kelompok ini disebut kelompok substansialis (b) kelompok yang berpendapat bahwa maqashid syari'ah harus dikaitkan dengan makna-makna lafad, artinya lafad harus ditangkap dari sudut maknanya dan apabila ada pertentangan antara dhahir makna dan nalar maka yang diutamakan adalah pengertian nalar kelompok ini di sebut kelompok rasionalis. ketiga ulama yang menggabungkan kedua pendekatan sebelumnya secara sekaligus antara dhahir lafad dan pertimbangan makna dengan tidak merusak dhahir lafad dan tidak pula merusak kandungan maknanya, agar syari'ah tetap berjalan secara harmonis tanpa kontradiksi, kelompok ini di sebut kelompok konvergensionis.
    Dalam memahami maqashid syari'ah Syatibi termasuk dalam kelompok ketiga ini. Penilaian ini didasarkan pada tiga cara yang dikemukakan oleh Syatibi dalam upaya memahami maqashid syari'ah. Tiga cara itu adalah:
               (1) melakukan analisis terhadap lafad perintah dan larangan. Karena setiap lafadz yang mengandung perintah tidak selamanya merupakan suatu kewajiban, begitu juga lafadz larangan. Contoh:
Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum'at, Maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu Mengetahui.
                  Larangan berjual beli dalam ayat tersebut bukan larangan sepenuhnya, karena larangan tersebut sebagai ta'kid atau penguat terhadap perintah bersegera mengingat Allah, tetapi larangan tersebut dimaksudkan sebagai maksud yang kedua, karena jual beli bukan hal yang terlarang.
                (2) kajian terhadap illat (kausa/motif) perintah dan larangan, illat hukum ada kalanya dapat diketahui secara langsung dan kadangkala tidak dapat diketahui secaara langsung. Terhadap illat yang sudah diketahui menurut Syatibi tidak ada pilihan lain kecuali mengikuti apa yang ada dalam teks dan terhadap illat yang belum diketahui ada dua hal yang dilakukan:
(a) tidak boleh melakukan perluasan cakupan terhadap apa yang ditetapkan oleh nash
(b) bahwa pada prinsipnya melakukan perluasan itu tidak diperkenankan namun perluasan ini dapat dilakukan jika dimungkinkan dapat mengetahui tujuan hukumnya.
                (3) dengan membedakan mana yang maqashid asliyah atau maqashid pertama dengan maqashid tabi'ah atau maqashid kedua. Contoh: tujuan utama (maqashid asli) dari pernikahan adalah untuk mengembang biyakan makhluk hidup salah satunya manusia agar tidak punah hal ini didasarkan pada hadits nabi yang memerintahkan umatnya dalam berlomba-lomba utuk memperbanyak umat (anak), sedangkan maqashid tabi'ah atau yang kedua dari sebuah pernikahan adalah untuk menggapai ketenangan, bersenang-senang dengan pasangan, menjaga diri dari perbuatan maksiat. Dengan demikian dengan contoh pernikahan diatas keberadaan maqashid kedua bukan untuk menegasikan maqashid pertama melainkan justru memperkuat keberadaannya, meneguhkan hikmah-hikmahnya.Contoh kedua dalam hal ibadah, tujuan pokok disyari'atkannya shalat untuk tunduk kepada Allah, ikhlas menghadap Allah, sebagaimana dalam firman Allah:
                 Sesungguhnya Aku Ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, Maka sembahlah Aku dan Dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.
                      Maqasid tabi'ah dalam shalat adalah menghindarkan dari perbuatan keji dan mungkar dan meminta rizki, sebagaimana dalam ayat al-Qur'an:
                 Bacalah apa yang Telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan Dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. dan Sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.
                (4) analisis terhadap sukut al-syari', mengkaji terhadap permasalahan-permasalahan hukum yang tidak disebutkan oleh syari' hal ini dibagi menjadi dua bagian:
(a) Syari' diam karena tidak ada motif yang mendorongnya untuk bertindak dengan menetapkan suatu ketentuan hukum. Contoh: penerapan hukum terhadap masalah-masalah yang muncul setelah Nabi wafat, dimana hal tersebut tidak terjadi sebelumnya dan membutuhkan pemikiran dari ahli Syari'ah. Seperti  pengkodifikasian Al-Qur'an, pembukuan ilmu.
(b) Syari' secara sengaja diam sekalipun ada motif yang mendorongnya untuk bergerak menetapkan hukum. Sikap ini menurut Syatibi harus dipahami bahwa suatu hukum yang diberlakukan dalam masyarakat harus sesuai dengan tuntunan yang sudah ditetapkan oleh syari' tanpa perlu untuk menambah dan mengurangi syari'ah karena manusia tidak memiliki otoritas untuk menciptakan syari'ah baru.                      

           Sebagai contohnya yaitu sujud syukur dalam madzhab Maliki, beliau menetapkan dari hadits yang diriwayatkan oleh 'Utaibah dan Ibnu Nafi', bahwa ketika seorang laki-laki datang dalam keadaan senang dan bertanya kepada Imam Malik, maka Imam Malik menyuruhnya untuk bersujud karena syukur kepada Allah. Hal ini didasarkan pada riwayat Abu Bakar yang melakukan sujud syukur setelah kaum muslimin beroleh kemenangan pada perang Yamamah menumpas nabi palsu Musailamah al-Kadzab.

Widyayu Kusumawati, mahasiswi Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris FIB Universitas Brawijaya

2012-03-02


script_end

..lebih lama
.:: EPISTEMOLOGI - 11/11 ::.

DAFTAR 10 ARTIKEL TERBARU KATEGORI EPISTEMOLOGI
Free counters!
SEKRETARIAT:
Jl. Karya Timur IV/68 Malang 65122 Telp/Fax. 0341-416711
email: info@pesantrenbudaya.com

DEVELOPED from SCRATCH by AGUS WIDODO