header-daun_01 kayon_01
iklan logoUKM kayon_02
kayon_03
Selamat Datang di PESANTREN BUDAYA NUSANTARA

Kekeliruan Berpikir

oleh: Iqbal Febrian Perdana

1. Kesesatan-Kesesatan dalam Penalaran

Menalar adalah berpikir dengan tepat. Oleh karena hanya manusia saja yang mampu berpikir, maka menalar itu obyeknya juga manusia. Manusia itu didalam kegiatannya berusaha mengolah apa yang dapat diketahui dengan indera untuk sampai pada suatu kebenaran. Dengan demikian sasaran dari penyelidikan penalaran itu adalah manusia.

Untuk sampai pada suatu ketepatan bernalar, terdapat rambu-rambu yang sangat perlu diperhatikan, agar tidak terjadi kesesatan.

Kesesatan penalaran dapat terjadi pada siapa saja, bukan karena kesesatan dalam fakta-fakta, tetapi dari bentuk penarikan kesimpulan yang sesat, karena tidak dari premis-premis yang menjadi acuannya .

2. Kemungkinan Kesesatan Berpikir Deduktif

a. Kesesatan Yang Bersifat Semantik atau Ambiguitas (Ambiguity)

a.1. Kesesatan-kesesatn Ambiguitas

1. Kesesatan Ekuivoka

Suatu kesesatan karena anggapan bahwa kata-kata selalu dapat dipakai dalam pengertian yang sama sedangkan sebenarnya terdapat ambiguitas.

Kesesatan seperti ini dapat diatasi dengan cara menyusun definisi secara hati-hati.

2. Kesesatan Amfiboli

Amfiboli itu merupakan kesalahan dalam susunan kalimat atau proposisi. Seluruh argument terkena penafsiran ganda. Penafsiran ganda seperti itu menyebabkan ketidak jelasan karena susunan kalimatnya begitu sulit dipahami. Untuk keraguan, sering kali ditempuh jalan dengan membuat pertanyaan terhadap kalimat yang disusun itu.

3. Kesesatan Komposisi

Kesesatan itu mungkin sekali terjadi, bila kata atu sekumpulan kata yang disebut. Term di dalam satu bagian dipandang "secar distributive", dan pada bagian lain term sebagai akibatnya adalah bahwa uraian penjelas yang disusun itu berangkat dari pola piker "masing-masing" atau particular, dipergunakan secar distributive itu berfungsi sebagai proposisi individual. Proposisi individual adalah suatu proposisi yang menyatakan masing-masing anggota suatu golongan dan secara individual.

Sedangkan term "semua" itu dipergunakan secara kolektif apabila dipergunakan untuk menyatakan seluruh ataupun semua anggota golongan secara bersama-sama.

4. Kesesatan dalam Pembagian

Kesesatan ini berkebalikan dari kesesatan komposisi, yang telah dibicarakan di atas.

Hal ini bisa terjadi karena mempergunakan istilah atau pengertian dalam arti kolektif pada sebuah proposisi, dan tetap saja mempergunakannya secara distributive pada premis lain atau dalam suatu konskuens. Hal itu akan membawa akibat bahwa uraian dari "semua" akan menjadi masing-masing atau dari universal ke individual.

Kesesatan ini karena orang menganggap apa yang benar bagi keseluruhan, juga benar bagi setiap orang secara individual. Suatu kebenaran yang berlaku bagi keseluruhan terjadi juga akan benar bagi bagian-bagiannya. Sebaliknya terjadi pula apa yang tidak benar bagi keseluruhan juga dianggap tidak benar bagi bagian-bagiannya.

5. Kesesatan Aksentuasi

Semula berarti bahwa kata-kata yang ambiguitas yaitu pengertiannya akan berbeda, bila aksen ataupun tekanan dalam bicaranya berbeda pula. Sehingga aksen itu yang menyebabkan ambiguitas.

Anak-anak sering mengalami kesulitan dalam hal seperti ini.

Agar ambiguitas itu dapat dihindari, seharusnya diberikan porsi tekanan yang cukup pada waktu pengucapannya, sehingga tidak ada yang luput dari perhatian. Kesalahan terjadi pada pembicaraan verbal.

b. Kesesatan Yang Bersifat Materiil

1. Kesesatan Aksidensia

Aksidensia adalah hal-hal yang ditambahkan ke dalam hal ang substansial (hakikat). Aristoteles dengan teori 10 kategorialnya, mengajarkan tentang 1 substansi dan 9 aksidensia bagi semua yang "ada".

Kesesatan ini biasa terjadi karena orang mengira bahwa apa yagn dianggap benar dalam substansi itu, juga benar dalam aksidensinya atau sifat-sifastnya, maupun keadaan-keadaan yang eksistensinya secara kebetulan (aksidensi). Sedangkan setiap subyek tertenu itu mempunyai cirri-ciri khusus yang telah menjadi kodratnya sejak adanya eksistensi diri dan yang membedakannya dengan subyek lain.

2. Kesesatan sebaliknya tentang aksidensia

Ksesatan terjadi oleh karena kebenaran yang hanya kebetulan (aksidensia), dianggapnya sebagai hal yang kebenarannya substansial.

3. Kesesatan tentang Hal-hal yang Tidak Relevan

Kesesatan tentang hal-hal yang tidak relevan sering kali disengaja guna membangkitkan emosi atau mengalihkan perhatian seseorang ataupun sekelompok orang dari masalah yang dipersoalkan. Hal seperti ini sering dipergunakan untuk memperdayakan lawan bicara. Cara penyajiannya yang sering meyakinkan, tertapi faktanya justru sangat kabur ataupun bukan yang sedang dibahas. Keterpedayaan seseorang atau sekelompok orang itu karena memang sudah tidak tahu lagi bagaimana akan membantah suatu pernyataan.

Kesesatan itu dapat dibedakan atas :

a. Argumentum Ad Hominem

(ditujukan kepada orangnya)

b. Argumentum Ad Populum

(ditujukan kepada masyarakat, guna mempengaruhi pendapat umum)

c. Argumentum Ad Mesericundiam

(belas kasihan)

d. Argumentum Ad Verecundiam

(menggunakan ketenaran seseorang untuk pembenaran argument)

e. Argumentum Ad Ignorantiam

(pembuktian tanpa dasar, tetapi lawan bicara juga tidak dapat membuktiakan sebaliknya).

f. Argumentum Ad Baculum

(berwujud suatu paksaan)

 

c. Kesesatan Berdasarkan Anggapan yang Tidak Benar

c.1. Kesesatan Karena Menganggap Bahwa Kebenarnnya telah terbukti

Sering pula disebut sebagi "petition principii" atau "fallacy of begging the question".

Ksesesatan ini terjadi oleh karena tidak memberi bukti yang seharusnya diterangkan dalam proses penalarannya. Pembicara hanya mengulang-ulangi pernyataannya itu dengan kata-kata lain yang sama artinya. Sangatlah disayangkan bahwa dengan demikian itu, ia yakin telah menciptakan kemajuan-kemajuan dalam penalaran.

c.2. Kesesatan karena sebab yang salah

Tidak jarang kesesatan ini sulit dibedakan dengan kesesatan dalam induksi, yang menyatakan "post hoc propter ohc". Post hoc propter artinya adalah sesuatu memang terjadi setelahnya, tetapi bukanlah sebagai akibatnya.

Kesesatan ini dapat terjadi, karena adanya anggapan, bahwa lebih dari satu peristiwa yang terjadi secara berturut-turut, lalau dianggap mempunyai hubungan sebab akibat.

c.3. Kesesatan atas dasar konsekuens ataupun atas dasar nonsequitur

Dalam pengertian yang luas, nonesequitur itu bisa diartikan suatu argumen non-selogisme. Suatu kesimpulan yang ditarik, tidak berdasarkan premis-premis, ataupun seandainya dari premis, namun premisnya tidak relevan. Meskipun tidak tertutup kemungkinan bahwa kesimpulan itu benar.

c.4. Kesesatan berdasarkan pertanyaan yang kompleks

Pengajuan pertanyaan yang kompleks dan bersifat pancingan, sehingga jawabnnya dapat mengandung salah satu pengakuan, atau juga mungkin dua-duanya sebagai pengakuan, yang sebenarnya hal itu tidak dikehendaki oleh yang ditanyai. Hal semacam itu sering kali dilakukan untuk merugikan dirinya dalam suatu pemeriksaan.

3. Kemungkinan Kesesatan Perpikir Induktif

A. Kesesatan Dalam Pengamatan

1. Pengamatan yang tidak lengkap

Bahwa pengamatan yang telah dilakukan itu tidak lengkap memang besar sekali peluangnya, hal itu sering kali disebabkan karena terbatasnya waktu dan dana. Atau memang sengaja hanya memperhatikan hal-hal tertentu yang relevan saja.

2. Pengamatan yang tidak teliti

Sering kali para ilmuwan menghadapi jalan buntu dalam membenarkan cara kerja induktif yang akan diterapkan dalam ilmu pengetahuan itu.

Ketatnya logika deduktif dipakai oleh Popper untuk memperlihatkan cara kerja ilmu alam yang bentuk perjalanannya secara induktif. Dasarnya sederhana, yang dapat dicontohkan sebagai berikut :

Ada beberapa sebab mengapa pengamatan itu dapat disebut tidak teliti. Sebab-sebab ketidaktelitian itu diidentifikasi sebagai sebab kejiwaan, sebab indrawi, sebab alamiah sebagai obyek pengamatan, dan ditambah dengan pengotoran lapangan.

B. Kesesatan Dalam Penggolongan

1. Penggolongan yang tidak lengkap

2. Penggolongan yang tumpang tindih

3. Penggolongan yang campur aduk

C. Kesesatan Dalam Penentuan Hipotesis

1. Hipotesis yang meragukan

Sebenarnya ada suatu keinginan bahwa di dalam menyusun hipotesis itu, kita memperoleh kebebasan sebesar-sebesarnya, namun bila tidak memperhatikan pedoman yang telah ditentukan, dapat mengakibatkan kekeliruan.

2. Hipotesis yang bertentangan dengan fakta

Hipotesis disusun sesuai dengan apa yang benar-benar terjadi dan bukan spekulasi

D. Kesesatan-kesesatan Dalam Penentuan Sebab

1. Post Hoc Propter Hoc

Arti kalimat di atas itu adalah bahwa sesuatu itu memang terjadi setelahnya, tetapi tidak disebabkan olehnya. Hal itu menunjukkan bahwa tanpa ada panelitian yang cukup, kemudian dengan tergesa-gesa telah mengambil kesimpulan.

Sekalipun cara demikian itu banyak juga dilakukan, tetapi tetap merupakan kesesatan. Bila ada 2 peristiwa atau lebih terjadi secara berturut-turut maka tidak selamanya merupakan "sebab akibat" dan tidak selamanya mesti "memiliki hubungan".

2. Analisis yang tidak cukup Antedennya

Untuk mendukung suatu analisis agar mudah mendapat pengukuhan, haruslah dilakukan dengan menyebutkan anteseden-anteseden secara lengkap dan mereduksi factor-faktor yang tidak relevan. Bila tidak demikian maka kesimpulan yang diambil tidak akan merupakan akibat atau tidak ditarik dari antesedennya.

3. Analisis tanpa perbedaan-perbedaan

Bila membuat analisis tentan perbedaan-perbedaan tetapi justru tidak mengemukakan perbedaan-perbedaannya maka analisisnya tidak sah. Terutama bila menggunakan metode ataupun perbandingan.

4. Keseiringan untuk sementara yang kebetulan

Hal-hal yang terjadi secara seiring kali menimbulkan kesesatan dalam menafsirkan atau dalam usaha untuk memahaminya. Kesesatan ini oleh karena tergoda oleh metode berpikir sebab akibat.

5. Generalisasi yang tergesa-gesa

Kesesatan ini sebenarnya sederhana. Oleh karena hanya merupakan penyimpulan yang berkelebihan dari yang dapat dijamin oleh bukti yang diajukan. Mungkin catatan peristiwa atau faktanya belum tuntas tetapi telah menyusun kesimpulan secara final.

E. Kesesatan Analogi

Kesesatan dalam analogi itu banyak dilakukan oleh suku-suku primitive pada masa-masa silam. Mereka belum mampu membedakan secara tajam barang-barang yang satu dengan yang lainnya. Menurut logikanya, barang-barang yang serupa itu tidak ada satu sama lain.

Kesesatan itu akan tampak bila diterapkan penyusunan analogi tentang sifat-sifat manusia.

F. Kesesatan Dalam Statistik

1. Sampling yang tidak mewakili populasi

Bentuk generalisasi yang sangat tergesa-gesa dalam statistic adalah bentuk kesesatan utama. Kesesatan ini terjadi karena sampling yang diambil tidak mewakili populasi, sehingga generalisasinya juga tidak benar.

2. Penerapan gejala individual yang tidak bersifat umum

Kesesatan ini berwujud salah tafsir statistic yang lazimnya berlaku bagi oran awam.

3. Kepercayaan kepada statistic

Hasil perhitungan statistic merupakan suatu ketelitian dan kecermatan serta mengikuti metode analisis yang telah terbukti dan pasti. Stastik mempergunakan juga istilah-istilah tertentu seperti : mean, penyimpangan, korelasi yang dapat dipercaya dan pasti. Namun demikian statistic itu tidak dapat melepaskan diri dari probalitas dan kadar sebenarnya menunjukkan suatu derajat kemungkinan tertentu.

4. Kesesatan korelasi secara kebetulan

            Kesesatan ini dapat terjadi, karena ada gejala korelasi sementara yang penyebabnya persamaan waktu ataupun persamaan kepentingan namun dipercaya sebagi sesuatu yang dianggap mempunyai korelasi riil.

Kesalahan dalam proses berpikir ilmiah

               Istilah teknis kesalahan adalah sofisme. Yang dimaksud dengan kesalahan adalah pemikiran yang menyesatkan. Menyesatkan karena nampaknya benar, tetapi sebenarnya tidak. Tetapi pengertian kesalahan juga dapat diterapkan pada setiap aksi akal budi yang tidak sah karena sebenarnya kesalahan itu disebabkan tidak mematuhi hukum-hukum atau aturan-aturan pemikiran. Kesalahan dalam berpikir (sesat pikir) ialah kekeliruan penalaran yang disebabkan oleh pengambilan kesimpulan yang tidak sahih dengan melanggar ketentuan-ketentuan logika atau susunan dan penggunaan bahasa serta penekanan kata-kata yang secara sengaja atau tidak, telah menyebabkan pertautan atau asosiasi gagasan tidak tepat. Sedangkan menurut Sumaryono, sesat pikir adalah proses penalaran atau argumentasi yang sebenarnya tidak logis, salah arah, dan menyesatkan, suatu gejala berpikir yang salah yang disebabkan oleh pemaksaan prinsip-prinsip logika tanpa memperhatikan relevansinya. Kesesatan penalaran dapat terjadi pada siapa saja, bukan karena kesesatan dalam fakta-fakta, tetapi dari bentuk penarikan kesimpulan yang salah karena tidak dari premis-premis yang menjadi acuannya.

Kesalahan berpikir dapat terjadi dalam berbagai hal, antara lain sebagai berikut.

1. Definisi

          Dalam membuat definisi yang tidak memperjelas (kata-katanya sulit, abstrak, negatif, dan mengulang). Misalnya, hukum waris adalah hukum untuk mengatur warisan. Definisi ini salah karena mengulang apa yang didefinisikan.

2. Penggolongan

a. Dasar penggolongan tidak jelas.

b. Tidak konsisten.

c. Tidak lengkap karena tidak bisa menampung seluruh fenomena yang ada.

3. Perlawanan

Kontraris, dikira hukumnya: jika salah satu proposisi salah maka yang lain tentu benar. Misalnya: jika semua karyawan korupsi dinilai salah berarti semua karyawan tidak korupsi pasti benar. Dalam contoh ini karena termasuk kontraris maka pernyataan semua karyawan tidak korupsi seharusnya bisa benar atau bisa salah.

4. Dalam mengolah proposisi majemuk

Menyamakan antara proposisi hipotesis kondisional dan proposisi hipotesis bikondisional. Misalnya, jika mencuri maka dihukum, berarti jika dihukum bisa karena mencuri atau yang lainnya.

Faktor-Faktor Penyebab Kesalahan Dalam Berpikir

           Ada beberapa hal yang mengakibatkan kesalahan berfikir dan itu sering tidak disadari orang, baik orang yang berfikir sendiri, maupun orang yang mengikuti buah pikiran itu. Ini pun dalam logika dirumuskan dan diberi nama. Sebelum kamu memajukan hal-hal yang betul-betul merupakan kesalahan berfikir, kami sebut dulu dua hal yang sebetulnya bukan kesalahan, tetapi sering membingungkan dan disalahgunakan, untuk membawa orang lain ke konklusi yang salah.

           Di dalam logika deduktif, kita dengan mudah memperoleh kesesatan karena adanya kata-kata yang disebut homonim, yaitu kata yang memiliki banyak arti yang dalam logika biasanya disebut kesalahan semantik atau bahasa. Kesalahan semantik itu dapat pula disebut ambiguitas. Adapun untuk menghindari ambiguitas dapat dengan berbagai cara, misalnya menunjukkan langsung adanya kesesatan semantik dengan mengemukakan konotasi sejati. Memilih kata-kata yang hanya arti tunggal, menggunakan wilayah pengertian yang tepat, apakah universal atau partikular. Dapat juga dengan konotasi subyektif yang berlaku khusus atau obyektif yang bersifat komprehensif.

               Kesesatan di dalam logika induktif dapat dikemukakan seperti prasangka pribadi, pengamatan yang tidak lengkap atau kurang teliti, kesalahan klasifikasi atau penggolongan karena penggolongannya tidak lengkap atau tumpang tindih maupun masih campur aduk. Kesesatan juga bisa terjadi pada hipotesis karena suatu hipotesis bersifat meragukan yang bertentangan dengan fakta. kemudian yang berkaitan dengan sebab adalah antiseden yang tidak cukup, dan analisis yang perbedaannya tidak cukup meyakinkan. Tidak cukupnya perbedaan itu menjadikannya suatu kecenderungan homogen, masih pula terdapat kebersamaan yang sifatnya kebetulan. Kesalahan juga terjadi karena generalisasi yang tergesa-gesa, atau analogi yang keliru. Kesalahan juga terjadi karena suatu argumen ternyata memuat premis-premis yang tidak berhubungan dengan kesimpulan yang akan dicari. Sebuah argumen yang premis-premisnya tidak berhubungan dengan kesimpulannya merupakan argumen yang "salah" sekalipun semua premisnya itu mungkin benar.

KEKELIRUAN BERPIKIR DAN KREATIVITAS

1.Kekeliruan Formal karena :

a.menggunakan empat term dalam silogisme

b.kedua term penengah tidak mancakup

c.proses yang tidak benar

d.menyimpulkan dari dua premis negatif

e.mengakui akibat kemudian membenarkan pula sebabnya

f.menolak sebab dan menyimpulkan bahwa akibat tidak terlaksana

g.bentuk disyungtif yg mengingkari alternatif pertama kemudian mengakui alternatif lain

h.tidak runtutnya peryataan satu dengan yang diakui sebelumnya.

 

2.Kekeliruan Informal yang disebabkan oleh :

a.Membuat generalisasi yang terburu-buru

b.memaksakan praduga

c.mengundang permasalahan

d.menggunakan argumen yang berputar

e.berganti dasar

f.mendasarkan pada otoritas

g.mendasarkan diri pada kekuasaan

h.menyerang pribadi

i.kurang tahu permasalahan

j.pertanyaan yang rumit

k.alasan yang terlalu sederhana

l.menetapkan sifat yang bukan suatu keharusan

m.argumen yang tidak relevan

n.salah mengambil analogi

o.mengundang belas kasihan

 

3.Kekeliruan karena penggunaan bahasa yang disebabkan oleh

a.komposisi

b.kekeliruan dalam pembagian

c.kekeliruan karena tekanan

d.kekeliruan karena amfiboli (kalimat yang dapat ditafsirkan berbeda-beda)

e.kekeliruan karena menggunakan kata dalam beberapa arti

         Permasalahan tersebut merupakan hal-hal yang biasa terjadi pada setiap orang sehingga orang tersebut dapat mengambil pemecahan masalah yang keliru dan jauh dari logika. Dengan demikian kesalahan-kesalahan berpikir tersebut merupakan kesalahan sistematika berpikir.  

2011-09-19


script_end

..lebih lama
.:: MANTHIQ - 7/11 ::.
lebih baru..

DAFTAR 10 ARTIKEL TERBARU KATEGORI MANTHIQ
Free counters!
SEKRETARIAT:
Jl. Karya Timur IV/68 Malang 65122 Telp/Fax. 0341-416711
email: info@pesantrenbudaya.com

DEVELOPED from SCRATCH by AGUS WIDODO