header-daun_01 kayon_01
iklan logoUKM kayon_02
kayon_03
Selamat Datang di PESANTREN BUDAYA NUSANTARA

Sastra Pesisir Jawa Timur dan Suluk Sunan Bonang (3)

oleh: Abdul Hadi WM

             Tampaknya pertanyaan itu memang ditunggu oleh Sunan Bonang, sebab hanya melalui pertanyaan seperti itu dia dapat  menyingkap rahasia ilmu tasawuf dan relevansinya, kepada Wujil. Maka Sunan Bonang pun menjawab:

6

Sang Ratu Wahdat mesem ing lathi

Heh ra Wujil kapo kamangkara

Tan samanya pangucape

Lewih anuhun bendu

Atunira taha managih

Dening geng ing sakarya

Kang sampun alebu

Tan padhitane dunya

Yen adol warta tuku warta ning tulis

Angur aja wahdat

7

Kang adol warta tuhu warti

Kumisum kaya-kaya weruha

Mangke ki andhe-andhene

Awarna kadi kuntul

Ana tapa sajroning warih

Meneng tan kena obah

Tinggalipun terus

Ambek sadu anon mangsa

Lirhantelu outihe putih ing jawi

Ing jro kaworan rakta

8

Suruping arka aganti wengi

Pun Wujil anuntu maken wraksa

Badhi yang aneng dagane

Patapane sang Wiku

Ujung tepining wahudadi

Aran dhekeh ing Benang

Saha-saha sunya samun

Anggaryang tan ana pala boga

Ang ing ryaking sagara nempuki

Parang rong asiluman

9

Sang Ratu Wahdat lingira aris

Heh ra Wujil marangke den enggal

Tur den shekel kukuncire

Sarwi den elus-elus

Tiniban sih ing sabda wadi

Ra Wujil rungokna

Sasmita katenggun

Lamun sira kalebua

Ing naraka isung dhewek angleboni

Aja kang kaya sira

... 11

Pangestisun ing sira ra Wujil

Den yatna uripira neng dunya

Ywa sumambar angeng gawe

Kawruhana den estu

Sariranta pon tutujati

Kang jati dudu sira

Sing sapa puniku

Weruh rekeh ing sariri

Mangka saksat wruh sira

Maring Hyang Widi

Iku marga utama

Artinya lebih kurang:

6

Ratu Wahdat tersenyum lembut

“Hai Wujil sungguh lancang kau

Tuturmu tak lazim

Berani menagih imbalan tiggi

Demi pengabdianmu padaku

Tak patut aku disebut Sang Arif

Andai hanya uang yang diharapkan

Dari jerih payah mengajarkan ilmu

Jika itu yang kulakukan

Tak perlu aku menjalankan tirakat

7

Siapa mengharap imbalan uang

Demi ilmu yang ditulisnya

Ia hanya memuaskan diri sendiri

Dan berpura-pura tahu segala hal

Seperti bangau di sungai

Diam, bermenung tanpa gerak.

Pandangnya tajam, pura-pura suci

Di hadapan mangsanya ikan-ikan

Ibarat telur, dari luar kelihatan putih

Namuni isinya berwarna kuning

8

Matahari terbenam, malam tiba

Wujil menumpuk potongan kayu

Membuat perapian, memanaskan

Tempat pesujudan Sang Zahid

Di tepi pantai sunyi di Bonang

Desa itu gersang

Bahan makanan tak banyak

Hanya gelombang laut

Memukul batu karang

Dan menakutkan

9

Sang Arif berkata lembut

“Hai Wujil, kemarilah!”

Dipegangnya kucir rambut Wujil

Seraya dielus-elus

Tanda kasihsayangnya

“Wujil, dengar sekarang

Jika kau harus masuk neraka

Karena kata-kataku

Aku yang akan menggantikan tempatmu”

...

11

“Ingatlah Wujil, waspadalah!

Hidup di dunia ini

Jangan ceroboh dan gegabah

Sadarilah dirimu

Bukan yang Haqq

Dan Yang Haqq bukan dirimu

Orang yang mengenal dirinya

Akan mengenal Tuhan

Asal usul semua kejadian

Inilah jalan makrifat sejati & rdquo;

                Dalam bait-bait yang telah dikutip dapat kita lihat bahwa pada permulaan suluknya Sunan Bonang menekankan bahwa Tuhan dan manusia itu berbeda. Tetapi karena manusia adalah gambaran Tuhan, maka ’pengetahuan Diri & rsquo; dapat membawa seseorang mengenal Tuhannya. ’Pengetahuan diri’ di sini terangkum dalam pertanyaan: Apa dan siapa sebenarnya manusia itu? Bagaimana kedudukannya di atas bumi? Dari mana ia berasal dan ke mana ia pergi setelah mati? Pertama-tama, ‘diri’ yang dimaksud penulis sufi ialah ‘diri Ruhani & rsquo;, bukan ‘diri jasmani’, karena ruhlah yang merupakan esensi kehidupan manusia, bukan jasmaninya. Kedua kali, sebagaimana dikemukakan dalam al-Qur’an, surat al-Baqarah, manusia dicipta oleh Allah sebagai ‘khalifah-Nya di atas bumi’ dan sekaligus sebagai ‘hamba-Nya’. Itulah hakikat kedudukan manusia di muka bumi. Ketiga, persoalan dari mana berasal dan kemana perginya tersimpul dari ucapan

”Inna li Allah wa inna li Allahi raji’un” (Dari Allah kembali ke Allah).

               Demikianlah sebagai karya bercorak tasawuf paling awal dalam sastra Jawa, kedudukan Suluk Wujil dan suluk-suluk Sunan Bonang yang lain sangatlah penting. Sejak awal pengajarannya tentang tasawuf, Sunan Bonang menekankan bahwa konsep fana’ atau persatuan mistik dalam tasawuf tidak mengisyaratkan kesamaan manusia dengan Tuhan, yaitu yang menyembah dan Yang Disembah.

               Seperti penyair sufi Arab, Persia dan Melayu, Sunan Bonang – dalam mengungkapkan ajaran tasawuf dan pengalaman keruhanian yang dialaminya di jalan tasawuf – menggunakan baik simbol (tamsil) yang diambil dari budaya Islam universal maupun dari budaya lokal. Tamsil-tamsil dari budaya Islam universal yang digunakan ialah burung, cermin, laut, Mekkah (tempat Ka’bah atau rumah Tuhan) berada, sedangkan dari budaya lokal antara lain ialah tamsil wayang, lakon perang Kurawa dan Pandawa (dari kisah Mahabharata) dan bunga teratai. Tamsil-tamsil ini secara berurutan dijadikan sarana oleh Sunan Bonang untuk menjelaskan tahap-tahap perjalanan jiwa manusia dalam upaya mengenal dirinya yang hakiki, yang melaluinya pada akhirnya mencapai makrifat, yaitu mengenal Tuhannya secara mendalam melalui penyaksian kalbunya.

2011-09-21


script_end

..lebih lama
.:: SASTRA LISAN - 7/12 ::.
lebih baru..

DAFTAR 10 ARTIKEL TERBARU KATEGORI SASTRA LISAN
Free counters!
SEKRETARIAT:
Jl. Karya Timur IV/68 Malang 65122 Telp/Fax. 0341-416711
email: info@pesantrenbudaya.com

DEVELOPED from SCRATCH by AGUS WIDODO