header-daun_01 kayon_01
iklan logoUKM kayon_02
kayon_03
Selamat Datang di PESANTREN BUDAYA NUSANTARA

Sadumuk Batuk Sanyari Bumi Ditohi Pati - Amuk, Carok, Siri

oleh: K Ng H Agus Sunyoto

                 Pepatah "Sadumuk Bathuk Sanyari Bumi Ditohi Pati"  yang  secara harfiah bermakna 'satu sentuhan kening, satu jari luas-nya bumi bertaruh nyawa" menunjukkan bahwa masalah yang paling prinsip dalam kehidupan orang Jawa adalah "kehormatan" dan "tanah" yang akan dibela mati-matian sampai titik darah penghabisan. Kata 'sadumuk bathuk' yang memiliki makna harfiah 'satu sentuhan pada dahi' yang bermakna menyentuh kehormatan akan berakibat fatal dalam bentuk kesediaan untuk merelakan nyawa demi menebus kehormatan yang tersentuh. Sedang kata 'sanyari bumi' yang memiliki makna harfiah 'satu jari pun luas tanah' yang berkurang,  akan dibayar  dengan nyawa.

             Dengan pepatah 'sadumuk batuk', orang Jawa memaknai sebagai suatu penghinaan berat. Maksudnya, jika orang Jawa keningnya ditunjuk-tunjuk dengan jari yang memiliki makna simbolik sebuah penghinaan berat karena dianggap sebagai orang yang  tidak bisa berpikir, akan menimbulkan masalah berat berupa pembunuhan. Orang Jawa yang memegang nilai rila (ridla), narima (qana'ah), temen (amanah),  sabar, dan ngalah (tawakkal), sering mendadak hilang kendali jika kehormatannya sudah dihina. Di masa lalu, orang Jawa yang sudah terhina kehormatannya, akan melakukan amuk. Antonio Pigafeta, pelaut Italia yang datang ke Jawa pada 1522 Masehi, menyaksikan bagaimana orang Jawa melakukan 'amuk' dikeroyok beramai-ramai sampai mati. Penghinaan yang dilakukan Kenpetai selama pendudukan Dai Nippon - yang penuh penghinaan dan kekejaman - meledak dalam amuk massa di Surabaya tanggal 11-13 September 1945 dalam bentuk  penyerangan, penangkapan, penyembelihan Kenpetai dan  bahkan meminum darah mereka.

            Orang-orang Madura memiliki prinsip yang sama yang diungkapkan dalam pepatah berbunyi 'tembang poteh mata angu'an poteh tolang' yang bermakna harfiah 'daripada putih mata lebih baik putih tulang' yang memiliki makna esensial 'daripada malu lebih baik mati". Dari prinsip yang termaktub dalam pepatah ini, orang Madura memiliki tradisi Carok, yaitu tradisi untuk berkelahi sampai mati dalam rangka menebus harga diri dan kehormatan.

            Orang Bugis dan Makassar justru hidupnya tegak di atas nilai-nilai kehormatan dan harga diri yang disebut Siri, semacam rasa malu karena terhina. Kepatuhan orang Bugis dan Makassar terhadap adat-istiadat mereka, lebih disebabkan karena adat-istiadat mereka memiliki fungsi fundamental melindungi Siri mereka. Hubungan adat dengan siri, terungkap dalam pepatah: Uttetong ri-ade'e, najagainnami siri'ku - Aku taat kepada adat, karena dijaganya siri-ku. Dari prinsip yang terpateri pada pepatah ini, orang Bugis Makassar memiliki tradisi berkelahi dalam satu sarung dengan saling tikam dengan badik satu sama lain sampai salah seorang tewas atau kedua-duanya mati bersama.

2011-09-21


script_end

..lebih lama
.:: AKHLAQ - 11/16 ::.
lebih baru..

DAFTAR 10 ARTIKEL TERBARU KATEGORI AKHLAQ
Free counters!
SEKRETARIAT:
Jl. Karya Timur IV/68 Malang 65122 Telp/Fax. 0341-416711
email: info@pesantrenbudaya.com

DEVELOPED from SCRATCH by AGUS WIDODO