header-daun_01 kayon_01
iklan logoUKM kayon_02
kayon_03
Selamat Datang di PESANTREN BUDAYA NUSANTARA

Sastra Pesisir Jawa Timur dan Suluk Wujil (4)

oleh: K Ng H Agus Sunyoto

Tasawuf dan Pengetahuan Diri

                 Secara keseluruhan jalan tasawuf merupakan metode-metode untuk mencapai pengetahuan diri dan hakikat wujud tertinggi, melalui apa yang disebut sebagai jalan Cinta dan penyucian diri. Cinta yang dimaksudkan para sufi ialah kecenderungan kuat dari kalbu kepada Yang Satu, karena pengetahuan tentang hakikat ketuhanan hanya dicapai tersingkapnya cahaya penglihatan batin (kasyf) dari dalam kalbu manusia (Taftazani 1985:56). Tahapan-tahapan jalan tasawuf dimulai dengan‘penyucian diri & rsquo;, yang oleh Mir Valiuddin (1980;1-3) dibagi tiga: Pertama, penyucian jiwa atau nafs (thadzkiya al-nafs); kedua, pemurnian kalbu (tashfiya al-qalb); ketiga, pengosongan pikiran dan ruh dari selain Tuhan (takhliya al-sirr).

               Istilah lain untuk metode penyucian diri ialah mujahadah, yaitu perjuangan batin untuk mengalah hawa nafsu dan kecenderungan-kecenderungan buruknya. Hawa nafsu merupakan representasi dari jiwa yang menguasai jasmani manusia (‘diri jasmani’). Hasil dari mujahadah ialah musyahadah da mukasyafah. Musyahadah ialah mantapnya keadaan hati manusia sehingga dapat memusatkan penglihatannya kepada Yang Satu, sehingga pada akhirnya dapat menyaksikan kehadiran rahasia-Nya dalam hati. Mukasyafah ialah tercapainya kasyf, yaitu tersingkapnya tirai yang menutupi cahaya penglihatan batin di dalam kalbu.

             Penyucian jiwa dicapai dengan memperbanyak ibadah dan amal saleh. Termasuk ke dalam ibadah ialah melaksanakan salat sunnah, wirid, zikir, mengurangi makan dan tidur untuk melarih ketangguhan jiwa. Semua itu dikemukakan oleh Sunan Bonang dalam risalahnya Pitutur Seh Bari dan juga oleh Hamzah Fansuri dalam Syarab al-`Asyiqin (“Minuman Orang Berahi & rdquo;). Sedangkan pemurnian kalbu ialah dengan membersihkan niat buruk yang dapat memalingkan hati dari Tuhan dan melatih kalbu dengan keinginan-keinginan yang suci. Sedangkan pengosongan pikiran dilakukan dengan tafakkur atau meditasi, pemusatan pikiran kepada Yang Satu. Dalam sejarah tasawuf ini telah sejak lama ditekankan, terutama oleh Sana & rsquo;i, seorang penyair sufi Persia abad ke-12 M. Dengan tafakkur, menurut Sana’i, maka pikiran seseorang dibebaskan dari kecenderungan untuk menyekutuhan Tuhan dan sesembahan yang lain (Smith 1972:76-7).

                 Dalam Suluk Wujil juga disebutkan bahwa murid-muridnya menyebut Sunan Bonang sebagai Ratu Wahdat. Istilah & lsquo;wahdat’ merujuk pada konsep sufi tentang martabat (tinbgkatan) pertama dari tajalli Tuhan atau pemanifestasian ilmu Tuhan atau perbendaharaan tersembunyi-Nya (kanz makhfiy) secara bertahap dari ciptaan paling esensial dan bersifat ruhani sampai ciptaan yang bersifat jasmani. Martabat wahdat ialah martabat keesaan Tuhan, yaitu ketika Tuhan menampakkan keesaan-Nya di antara ciptaan-ciptaan-Nya yang banyak dan aneka ragam. Pada peringkat ini Allah menciptakan esensi segala sesuatu (a’yan tsabitah) atau hakikat segala sesuatu (haqiqat al-ashya). Esensi segala sesuatu juga disebut ‘bayangan pengetahuan Tuhan’ (suwar al-ilmiyah) atau hakikat Muhammad yang berkilau-kilauan (nur muhammad). Ibn `Arabi menyebut gerak penciptaaan ini sebagai gerakan Cinta dari Tuhan, berdasar hadis qudsi yang berbunyi, “Aku adalah perbendaharaan tersembunyi, Aku cinta (ahbabtu) untuk dikenal, maka aku mencipta hingga Aku dikenal” (Abdul Hadi W. M. 2002:55-60). Maka sebutan Ratu Wahdat dalam suluk ini dapat diartikan sebagai orang yang mencapai martabat tinggi di jalan Cinta, yaitu memperoleh makrifat dan telah menikmati lezatnya persatuan ruhani dengan Yang Haqq. Pengetahuan Diri, Cermin dan Ka'bah  ’

            Secara keseluruhan bait-bait dalam Suluk Wujil adalah serangkaian jawaban Sunan Bonang terhadap pertanyaan- pertanyaan Wujil tentang aka yang disebut Ada dan Tiada, mana ujung utara dan selatan, apa hakikat kesatuan huruf dan lain-lain. Secara berurutan jawaban yang diberikan Sunan Bonang berkenaan dengan soal: (1) Pengetahuan diri, meliputi pentingnya pengetahuan ini dan hubungannya dengan hakikat salat atau memuja Tuhan. Simbol burung dan cermin digunakan untuk menerangkan masalah ini; (2) Hakikat diam dan bicara; (3) Kemauan murni sebagai sumber kebahagiaan ruhani; (4) Hubungan antara pikiran dan perbuatan manusia dengan kejadian di dunia; (5) Falsafah Nafi Isbat serta kaitannya dengan makna simbolik pertunjukan wayang, khususnya lakon perang besar antara Kurawa dan Pandawa dari epik Mahabharata; (6) Gambaran tentang Mekkah Metafisisik yang merupakan pusat jagat raya, bukan hanya di alam kabir (macrokosmos) tetapi juga di alam saghir (microcosmos), yaitu dalam diri manusia yang terdalam; (7) Perbedaan jalan asketisme atau zuhud dalam agama Hindu dan Islam.

             Sunan Bonang menghubungkan hakikat salat berkaitan dengan pengenalan diri, sebab dengan melakukan salat seseorang sebenarnya berusaha mengenal dirinya sebagai & lsquo;yang menyembah & rsquo;, dan sekaligus berusaha mengenal Tuhan sebagai ‘Yang Disembah’. Pada bait ke-12 dan selanjutnya Sunan Bonang menulis:

12

Kebajikan utama (seorang Muslim)

Ialah mengetahui hakikat salat

Hakikat memuja dan memuji

Salat yang sebenarnya

Tidak hanya pada waktu isya dan maghrib

Tetapi juga ketika tafakur

Dan salat tahajud dalam keheningan

Buahnya ialah mnyerahkan diri senantiasa

Dan termasuk akhlaq mulia

13

Apakah salat yang sebenar-benar salat?

Renungkan ini: Jangan lakukan salat

Andai tiada tahu siapa dipuja

Bilamana kaulakukan juga

Kau seperti memanah burung

Tanpa melepas anak panah dari busurnya

Jika kaulakukan sia-sia

Karena yang dipuja wujud khayalmu semata

14

Lalu apa pula zikir yang sebenarnya?

Dengar: Walau siang malam berzikir

Jika tidak dibimbing petunjuk Tuhan

Zikirmu tidak sempurna

Zikir sejati tahu bagaimana

Datang dan perginya nafas

Di situlah Yang Ada, memperlihatkan

Hayat melalui yang empat

15

Yang empat ialah tanah atau bumi

Lalu api, udara dan air

Ketika Allah mencipta Adam

Ke dalamnya dilengkapi

Anasir ruhani yang empat:

Kahar, jalal, jamal dan kamal

Di dalamnya delapan sifat-sifat-Nya

Begitulah kaitan ruh dan badan

Dapat dikenal bagaimana

Sifat-sifat ini datang dan pergi, serta ke mana

16

Anasir tanah melahirkan

Kedewasaan dan keremajaan

Apa dan di mana kedewasaan

Dan keremajaan? Dimana letak

Kedewasaan dalam keremajaan?

Api melahirkan kekuatan

Juga kelemahan

Namun di mana letak

Kekuatan dalam kelemahan?

Ketahuilah ini

17

Sifat udara meliputi ada dan tiada

Di dalam tiada, di mana letak ada?

Di dalam ada, di mana tempat tiada?

Air dua sifatnya: mati dan hidup

Di mana letak mati dalam hidup?

Dan letak hidup dalam mati?

Kemana hidup pergi

Ketika mati datang?

Jika kau tidak mengetahuinya

Kau akan sesat jalan

18

Pedoman hidup sejati

Ialah mengenal hakikat diri

Tidak boleh melalaikan shalat yang khusyuk

Oleh karena itu ketahuilah

Tempat datangnya yang menyembah

Dan Yang Disembah

Pribadi besar mencari hakikat diri

Dengan tujuan ingin mengetahui

Makna sejati hidup

Dan arti keberadaannya di dunia

19

Kenalilah hidup sebenar-benar hidup

Tubuh kita sangkar tertutup

Ketahuilah burung yang ada di dalamnya

Jika kau tidak mengenalnya

Akan malang jadinya kau

Dan seluruh amal perbuatanmu, Wujil

Sia-sia semata

Jika kau tak mengenalnya.

Karena itu sucikan dirimu

Tinggalah dalam kesunyian

Hindari kekeruhan hiruk pikuk dunia

 

             Pertanyaan-pertanyaan itu tidak diberi jawaban langsung, melainkan dengan isyarat-isyarat yang mendorong Wujil melakukan perenungan lebih jauh dan dalam. Sunan Bonang kemudian berkata dan perkatannya semakin memasuki intipersoalan:

 

20

Keindahan, jangan di tempat jauh dicari

Ia ada dalam dirimu sendiri

Seluruh isi jagat ada di sana

Agar dunia ini terang bagi pandangmu

Jadikan sepenuh dirimu Cinta

Tumpukan pikiran, heningkan cipta

Jangan bercerai siang malam

Yang kaulihat di sekelilingmu

Pahami, adalah akibat dari laku jiwamu!

21

Dunia ini Wujil, luluh lantak

Disebabkan oleh keinginanmu

Kini, ketahui yang tidak mudah rusak

Inilah yang dikandung pengetahuan sempurna

Di dalamnya kaujumpai Yang Abadi

Bentangan pengetahuan ini luas

Dari lubuk bumi hingga singgasana-Nya

Orang yang mengenal hakikat

Dapat memuja dengan benar

Selain yang mendapat petunjuk ilahi

Sangat sedikit orang mengetahui rahasia ini

22

Karena itu, Wujil, kenali dirimu

Kenali dirimu yang sejati

Ingkari benda

Agar nafsumu tidur terlena

Dia yang mengenal diri

Nafsunya akan terkendali

Dan terlindung dari jalan

Sesat dan kebingungan

Kenal diri, tahu kelemahan diri

Selalu awas terhadap tindak tanduknya

23

Bila kau mengenal dirimu

Kau akan mengenal Tuhanmu

Orang yang mengenal Tuhan

Bicara tidak sembarangan

Ada yang menempuh jalan panjang

Dan penuh kesukaran

Sebelum akhirnya menemukan dirinya

Dia tak pernah membiarkan dirinya

Sesat di jalan kesalahan

Jalan yang ditempuhnya benar

24

Wujud Tuhan itu nyata

Mahasuci, lihat dalam keheningan

Ia yang mengaku tahu jalan

Sering tindakannya menyimpang

Syariat agama tidak dijalankan

Kesalehan dicampakkan ke samping

Padahal orang yang mengenal Tuhan

Dapat mengendalikan hawa nafsu

Siang malam penglihatannya terang

Tidak disesatkan oleh khayalan

                 Selanjutnya dikatakan bahwa diam yang hakiki ialah ketika seseorang melaksanakan salat tahajud, yaitu salat sunnah tengah malam setelah tidur. Salat semacam ini merupakan cara terbaik mengatasi berbagai persoalan hidup. Inti salat ialah bertemu muka dengan Tuhan tanpa perantara. Jika seseorang memuja tidak mengetahui benar-benar sispa yang dipuja, maka yang dilakukannya tidak bermanfaat. Salat yang sejati mestilah dilakukan dengan makrifat. Ketika melakukan salat, semestinya seseorang mampu membayangkan kehadiran dirinya bersama kehadiran Tuhan. Keadaan dirinya lebih jauh harus dibayangkan sebagai ’tidak ada’, sebab yang sebenar-benar Ada hanyalah Tuhan, Wujud Mutlak dan Tunggal yang ilmu-Nya meliputi segala sesuatu. Sedangkan adanya makhluq-makhluq, termasuk manusia, sangat tergantung kepada Adanya Tuhan.

35

Diam dalam tafakur, Wujil

Adalah jalan utama (mengenal Tuhan)

Memuja tanpa selang waktu

Yang mengerjakan sempurna (ibadahnya)

Disebabkan oleh makrifat

Tubuhnya akan bersih dari noda

Pelajari kaedah pencerahan kalbu ini

Dari orang arif yang tahu

Agar kau mencapai hakikat

Yang merupakan sumber hayat

36

Wujil, jangan memuja

Jika tidak menyaksikan Yang Dipuja

Juga sia-sia orang memuja

Tanpa kehadiran Yang Dipuja

Walau Tuhan tidak di depan kita

Pandanglah adamu

Sebagai isyarat ada-Nya

Inilah makna diam dalam tafakur

Asal mula segala kejadian menjadi nyata

 

2011-09-25


script_end

..lebih lama
.:: SASTRA LISAN - 8/12 ::.
lebih baru..

DAFTAR 10 ARTIKEL TERBARU KATEGORI SASTRA LISAN
Free counters!
SEKRETARIAT:
Jl. Karya Timur IV/68 Malang 65122 Telp/Fax. 0341-416711
email: info@pesantrenbudaya.com

DEVELOPED from SCRATCH by AGUS WIDODO