header-daun_01 kayon_01
iklan logoUKM kayon_02
kayon_03
Selamat Datang di PESANTREN BUDAYA NUSANTARA

Wong Jawa Suriname

oleh: Izzulfikri M. Ansorullah

                Ada kisah menarik mengenai agama dan tradisi yang bisa kita pelajari di Suriname (Amerika Selatan). Negara bekas jajahan Belanda ini pada abad 19 dan 20 pernah mendatangkan kuli kontrak dari berbagai negara diantaranya dari Jawa, India, Cina dan Timur Tengah.

              Kurang lebih 33,000 orang Jawa Tengah dan Jawa Timur diangkut ke Suriname pada tahun 1890 - 1939 dengan janji manis bahwa mereka bisa menjadi kaya sepulangnya dari sana, padahal kenyataannya mereka di Suriname hanya  menjadi kuli kontrak selama lima tahun di perkebunan tebu dan coklat. Karena kuli kontrak, upahnya jauh dari cukup. Itu sebabnya, setelah selesai masa kontrak orang-orang Jawa ini terlalu malu dan miskin untuk pulang ke Jawa sehingga  akhirnya menetap di sana dan saling menikah satu sama lain.

               Dalam masa-masa sulit kesatuan dan kekerabatan orang Jawa dipertahankan melalui tradisi. Selamatan dan upacara tradisi seperti sunatan, mitoni, pernikahan, hari-hari peringatan kematian 3,7,40, 100 hari terus dilakukan sebagai identitas kejawaan. Peringatan kematian masih terus dilakukan hingga satu, dua tahun dan satu windunya.

             Upacara bersih desa yang dipersembahkan untuk Dewi Sri diselenggarakan selama musim panen padi. Dalam upacara ini dilakukan pagelaran wayang kulit. Wayang kulit dan gamelan yang digunakan diturunkan dari generasi ke generasi, dan sudah tidak ada orang yang bisa membuatnya lagi.

                Sekarang orang keturunan Jawa (70,000 jiwa) di Suriname menjadi etnis keempat terbesar setelah Creole (campuran Belanda dan Afrika), Hindustan (India) dan Marun (afrika). Suriname sendiri merupakan negara dengan keberagaman yang tertinggi di dunia. Etnis yang ada di negara itu meliputi Creole, India, Jawa, Marun (Afrika), Cina, Indian Amerika, Lebanon, dan Brazil. Agama yang tercatat meliputi Kristen, Hindu, Islam, Winti, dan berbagai keyakinan asli yang belum diberi nama. Negeri ini juga adalah contoh negara yang sangat toleran terhadap perbedaan.

                Keyakinan Islam orang Jawa di Suriname tidak sama dengan yang dipraktekan orang Islam di Jawa sekarang. Islam Suriname  ini lebih bercampur dengan Kejawen. Ketika orang Jawa ini tiba di Suriname mereka membuat mesjid menghadap ke barat, sesuai dengan yang biasa dilakukan ketika di Jawa. Ketika orang Islam reformis tiba di sana, mereka membuat mesjid menghadap ke timur, yang lebih tepat karena menghadap ke Mekkah. Sehingga muslim di sana terbagi menjadi aliran barat (Jawa) / wong sholat madep ngulon dan aliran timur (India dan orang Jawa reformis). Kaum reformis ini juga menentang Selametan dan Tayuban.

               Barangkali bisa dibuat kesimpulan bahwa agama Islam dan tradisi di pulau Jawa pada abad ke 19 adalah kurang lebih sama seperti yang masih dipraktekkan orang Jawa di Suriname. Hilang kontak dengan pulau Jawa menjadikan pengetahuan dan tradisi yang dipraktekkan tidak berkembang secara sama dan sebangun dengan yang ada di Jawa, menjadikan mereka contoh hidup kebudayaaan Jawa abad 19, kurang lebihnya.

              Sayang sekali di masa sekarang para generasi muda Jawa di Suriname sudah mulai meninggalkan tradisi Jawa ini. Mereka lebih memilih tradisi praktis modern. Mereka sudah jarang pula yang bisa berbahasa Jawa.

2011-09-29
sumber: H.van de Moosdijk, www.republika.co.id


script_end

..lebih lama
.:: UKHUWWAH - 6/9 ::.
lebih baru..

DAFTAR 9 ARTIKEL TERBARU KATEGORI UKHUWWAH
Free counters!
SEKRETARIAT:
Jl. Karya Timur IV/68 Malang 65122 Telp/Fax. 0341-416711
email: info@pesantrenbudaya.com

DEVELOPED from SCRATCH by AGUS WIDODO