header-daun_01 kayon_01
iklan logoUKM kayon_02
kayon_03
Selamat Datang di PESANTREN BUDAYA NUSANTARA

Islam Tumbuh di Swedia, Berkah UU Kebebasan Beragama

oleh: K Ng H Agus Sunyoto

 

            Islam adalah agama resmi kedua di Swedia. Jumlah pemeluknya lebih dari setengah juta jiwa dari total jumlah penduduk Swedia yang mencapai 8,9 juta jiwa. Sementara mayoritas penduduk negara seluas 449.964 km persegi ini beragama Nasrani. Selebihnya adalah pemeluk Hindu, Buddha, dan ateis.
             Meski terbilang baru berkembang di Swedia, namun jumlah orang yang memeluk agama Islam terus bertambah banyak, terutama karena komunitas Muslim di sana tidak mendapatkan kendala dalam menjalankan syiar dan simbol-simbol peribadatan Islam. Juga berdirinya masjid-masjid dan lembaga-lembaga serta pusat kajian Islam yang terdapat di hampir setiap kota di Swedia.
               Pertumbuhan jumlah pemeluk Islam di Swedia ini diungkapkan oleh para delegasi pemuda Swedia yang menghadiri Muktamar Wartawan di Lembaga Pendidikan Swedia di daerah Iskandariah, Mesir, pertengahan November 2008 lalu. Menurut mereka, ketika tersebarnya gambar-gambar maupun kartun yang menghina Nabi Muhammad SAW, termasuk upaya yang dilakukan oleh kartunis Swedia, Lars Vilks tahun 2007 silam, justru pada waktu yang bersamaan beribu-ribu penduduk Swedia masuk Islam.
             Para delegasi pemuda Swedia ini mengemukakan, setidaknya ada 15 ribu penduduk asli Swedia yang masuk Islam setelah kejadian pelecehan terhadap Rasulullah SAW. Warga asli Swedia yang menyatakan masuk Islam ini, terang mereka, berumur antara 20 sampai 40 tahun.
Di ibukota Swedia, Stockholm, ada 45 lembaga Islam dan Islamic Centre. Sementara di sejumlah kota-kota besar di negara Eropa ini terhitung ada 15 lembaga Islam dan Islamic Centre. Begitu juga dengan keberadaan masjid. Paling tidak ada empat masjid raya di setiap kota besar. Salah satunya berada di Stockholm. Bangunan masjid di Stockholm ini dulunya bekas gedung pembangkit listrik, namun diubah menjadi pusat kegiatan umat Muslim dari seluruh penjuru wilayah negara. Mereka berkumpul di sini utamanya untuk belajar agama Islam dan memperdalam Al-quran.

Kebebasan Beragama
              Kondisi tersebut tidak terlepas dari aturan hukum di Swedia yang mengakui kebebasan beragama, hak-hak pemeluk agama dalam menjalankan keyakinannya tanpa harus ada kekhawatiran sedikit pun meski bagi kelompok minoritas.Undang-undang resmi yang diakui oleh parlemen Swedia ini mengatur empat aspek penting, yaitu:
1.Setiap warga negara berhak menjalankan agama yang dianutnya asalkan tidak mengganggu ketertiban sosial;
2.Setiap umat beragama bebas mengikuti kegiatan organisasi keagamaan;
3.Setiap umat beragama berhak melaksanakan kegiatan hari raya agamanya;
4.arga negara Swedia bebas memeluk agama yang dipercayainya.
               Di Swedia, Islam tersebar lebih banyak di kalangan perempuan, terutama lingkungan kampus dan akademisi. Penyebabnya adalah adanya ambivalensi di kalangan perempuan Eropa, di sisi lain perempuan Muslimah Swedia mendapatkan kehormatan dan penerimaan yang utuh dari agama Islam dan komunitas Muslim, yaitu sesuatu yang tidak ada dalam agama-agama lain. Karenanya, tak mengherankan jika kaum Muslimah Swedia memiliki lembaga khusus bagi mereka. Lembaga khusus Muslimah ini berdiri pada 1984, yakni pada saat Islam baru pertama kali berkembang di Swedia. Di organisasi khusus ini aktivis Muslimah melaksanakan kegiatan dakwah dan sosial di seluruh kota, berupa seminar, ceramah, kajian agama, muktamar Islam, bazar, stan amal, penyediaan perawat bagi anak-anak, pelatihan pendidikan anak, dan juga menopang problematika Islam.

Liberalisasi imigran
             Dalam sejumlah literatur disebutkan bahwa Islam masuk ke Swedia pada 1950-an, dibawa oleh para imigran dari kawasan Asia Tengah yang lari dari rezim komunis Uni Soviet  serta imigran asal Palestina yang mengalami pengusiran oleh penguasa Israel dari negaranya. Sampai akhir 1980, Swedia memiliki kebijakan untuk pengungsi yang paling liberal di Eropa.
               Dengan undang-undang imigrasi dan naturalisasi yang membolehkan aplikasi untuk kewarganegaraan setelah lima tahun domisili serta proses suaka yang dianggap cepat dan birokrasi yang tidak terlalu rumit dibandingkan di negara-negara Eropa lainnya. Ini menjadi salah satu alasan mengapa banyak penduduk dari negara-negara seperti Turki, Palestina, Lebanon, Syiria, dan Iran bermigrasi ke Swedia.
Hampir 50 persen dari imigran Muslim ini tinggal di sekitar Stockholm, Malmoe, Gotteburg, dan kota-kota besar lainnya. Para imigran ini banyak yang bekerja di industri dan sektor jasa sebagai tenaga semi terampil maupun buruh. Swedia merupakan negara yang paling disiplin dalam hal pencatatan kependudukan. Setiap warga negara, baik lokal maupun imigran, harus memiliki data diri lengkap. Hal ini untuk memudahkan pengaturan hak dan kewajiban setiap warga negara.
                 Terlebih lagi setelah tahun 1975 Swedia mengadopsi kebijakan multikultural yang mempengaruhi pendidikan, media, dan pemilihan umum (pemilu). Warga asing diizinkan untuk memberikan suara dan ikut pemilu lokal, mengajar bahasa Swedia kepada imigran dan anak-anak merupakan prioritas pendidikan dan dana pemerintah tersedia untuk asosiasi imigran dan siaran pers dalam bahasa minoritas.
Umat Muslim Swedia sendiri punya kewajiban untuk ikut serta dalam kegiatan organisasi keagamaan. Ada tiga organisasi Muslim yang bersifat nasional. Salah satunya adalah The Swedish Muslim Council yang membawahkan The Swedish Muslim Association, The United Islamic Organization in Sweden, dan The Swedish Muslim Youth Association.
              Mereka menyelenggarakan kegiatan ibadah di wilayah masing-masing, seluruhnya mencapai 34 imam. Organisasi lain adalah The Islamic Council in Sweden yang membawahkan The Islamic Cultural Union in Sweden dengan 36 imam. Keberadaan organisasi-organisasi Muslim ini mengindikasikan usaha untuk mempertahankan eksistensi umat Islam di Swedia dan mendapat pengakuan. dia/berbagai sumber

Giat Meningkatkan Pemahaman Agama
              Sejumlah upaya propaganda untuk menyudutkan Islam dan Nabi Muhammad SAW di berbagai negara termasuk Swedia, tak mempengaruhi semangat orang untuk memperdalam Islam. Bahkan, di sejumlah negara, upaya-upaya penghinaan dan pelecehan terhadap Islam itu, justru membuat makin banyak orang yang masuk Islam.
               Untuk mendapatkan gambaran yang jelas tentang Islam dan Nabi Muhammad SAW, sejumlah Muslim Swedia menggalakkan berbagai kegiatan untuk mengenal Islam kepada warga Swedia. Salah satunya kegiatan yang diselenggarakan oleh International Association fo Science and Culture, bertempat di Stora Torget, sebuah alun-alun di jantung kota Uppsala, kota terbesar keempat di Swedia, pada Juli 2009 lalu. Acara bertajuk Muhammad, Messenger of God itu, bertujuan untuk mengenalkan Islam dan sosok Nabi Muhammad SAW kepada warga Swedia, termasuk mengikis propaganda negatif media massa setempat terhadap Islam dan Muslim.
                Juru Bicara Panitia Pelaksana kegiatan tersebut, Ibrahim Blicksjo, sebagaimana dikutip IslamOnline.com , menjelaskan, pihaknya mengajak sejumlah tokoh untuk berbicara mengenai Islam dan Nabi Muhammad SAW. ''Kami menampilkan seorang tokoh yang paling terkenal di dunia (Rasulullah Muhammad SAW). Mengapa? Karena kami ingin menyebarkan ajarannya pada masyarakat dan memberikan kesempatan bagi mereka untuk lebih mengenal tokoh ini,'' kata Ibrahim.
               Ibrahim menambahkan, pihaknya menginginkan, warga non-Muslim mengerti tentang Islam dan mengetahui kualitas seorang pemimpin umat. ''Kami ingin masyarakat tahu kualitas Rasulullah dan bagaimana ia memperlakukan orang-orang di sekitarnya. Dan yang paling penting, kami ingin menyampaikan pesan-pesan yang dibawanya. Ia adalah seorang tokoh yang sangat istimewa bagi umat Islam,'' terangnya.
Ibrahim mengakui, selama ini masyarakat Swedia buta tentang sosok Rasulullah dan ajaran yang dibawanya. Dan media massa setempat hanya memberitakan hal-hal negatif dan melakukan penghinaan terhadap Rasulullah dan Islam. ''Masyarakat Swedia hanya tahu tentang Islam melalui berita-berita yang mereka baca melalui media massa. Dan pemberitaan itu tidak mencerminkan sikap dan perilaku umat Islam yang sesungguhnya,'' tegasnya.

Halal
               Selain menggalakkan kegiatan keagamaan, umat Islam di Swedia kini sedang berusaha meyakinkan pemerintah Swedia agar diperbolehkan umat Islam setempat untuk mendapatkan daging hewan secara halal. Asosiasi masyarakat Muslim Swedia telah mengajukan surat pemberitahuan masalah tersebut pada Kementerian Pertanian Swedia. Mereka menginginkan, agar praktik penyembelihan hewan dilakukan dengan praktik keagamaan.
               Ketua Asosiasi Masyarakat Muslim Swedia, Mahmud Aldebe, mengatakan, negara-negara di Uni Eropa sudah mengizinkan praktik penyembelihan hewan secara agama dan banyak otoritas keagamaan menerima. Aldebe menjelaskan, umat Islam harus mendapatkan daging hewan secara halal, mulai dari mendapatkannya, hingga proses penyembelihannya.
Dalam Islam, penyembelihan terhadap hewan harus dilakukan dengan cara yang baik dan tidak menyakiti hewan. ''Pisau yang digunakan haruslah tajam, terputusnya pembuluh darah di batang leher hewan hingga menghasilkan pendarahan,'' terang Aldebe, sebagaimana dikutip eramuslim.net. Cara umat Islam menyembelih hewan ini, kata Aldebe, sama dengan praktik penyembelihan dalam ajaran Yahudi yang disebut dengan metode Kosher.
                  Aldebe menjelaskan, selama ini Pemerintah Swedia memberlakukan larangan penyembelihan hewan dengan cara memotong pembuluh darah pada leher hewan. Larangan ini telah berlaku sejak 1937. Sebagian hewan yang dipotong hanya diberi sengatan listrik. Aldebe mengatakan, pada 1937 di Swedia hanya ada 20 orang umat Islam. Sekarang umat Islam Swedia mencapai 500 ribu jiwa dan sekitar 60 persen dari mereka adalah warga negara Swedia.
                 Aldebe mengharapkan agar Pemerintah Swedia mempertimbangkan persoalan ini, termasuk hak-hak demokratis dan kebebasan menjalankan ajaran agama, dan tidak tunduk terhadap tekanan dari kelompok-kelompok ekstremis seperti Neo Nazi, aktivis Hak-hak binatang dan para dokter hewan tertentu serta memberikan dispensasi. Sementara itu, Abd al-Haqq Kielan, ketua komunitas masyarakat Islam Swedia mengatakan, hal tersebut merupakan diskriminasi dan pelanggaran hukum terhadap hak asasi manusia, termasuk pada umat Islam.
2011-10-02
sumber: www.eramuslim.com


script_end

..lebih lama
.:: UKHUWWAH - 7/9 ::.
lebih baru..

DAFTAR 9 ARTIKEL TERBARU KATEGORI UKHUWWAH
Free counters!
SEKRETARIAT:
Jl. Karya Timur IV/68 Malang 65122 Telp/Fax. 0341-416711
email: info@pesantrenbudaya.com

DEVELOPED from SCRATCH by AGUS WIDODO