header-daun_01 kayon_01
iklan logoUKM kayon_02
kayon_03
Selamat Datang di PESANTREN BUDAYA NUSANTARA

Dosen Malas Nilai Diacak, Mahasiswa Bisa Apa?

oleh: Mas Arif Muniagara

Suatu sore di kediaman Kyai Sabar, Tole menyimak Kang Hendro yang sedang mengaji sambil menunggu waktu berbuka puasa. Kyai Sabar diam-diam mengetahui ekpresi gusar yang memancar pada wajah Tole. Namun Kyai Sabar yang sabar membiarkannya sampai waktu berbuka tiba. Tidak lama kemudian adzan Maghrib pun berkumandang ke seluruh pelosok desa. Kang Hendro mengakhiri mengajinya dan Kyai Sabar mengajak menyantap takjil dan melanjutkannya sholat Maghrib.

Usai sholat, Tole yang duduk di teras mushola tampak terdiam dan gelisah. Melihat hal itu Kyai Sabar bertanya kepada Tole,"Le, ada masalah apa kok kelihatan sedih?"

"Mm.. anu Kyai, masalah anu..," sahut Tole gelagapan.

"Anu apa le?" Sahut Kang Hendro dengan kening berkerut.

"Anu kang, mm..anu..."

"Keluargamu sehat Le?" potong Kyai Sabar guna menenangkan Tole.

"Alhamdulillah sehat wal'afiat Kyai" jawab Tole berusaha tenang.

"Kuliahmu gimana?" tanya Kyai Sabar lagi.

"Alhamdulillah lancar juga Kyai, tapi.."

"Tapi apa le?" potong Kang Hendro mulai penasaran tingkat dewa.

"Tapi sedikit menghadapi dilema, kang" jawab Tole mulai terbuka.

"Wah..kamu abis ditembak (istilah remaja dalam menyatakan cintanya) dua cewek ya, sampai dilema kayak gitu,"sahut Kang Hendro sok tahu.

"Sok aja tahu kang,"jawab Tole sedikit merengut "Jangankan dua orang, sepotong cewek pun belum ada yang mau nembak Tole, kang."

"Whua ha ha ha," Kang Hendro, Kyai Sabar ketawa, Tole pun ikut ketawa. Seketika suasana tegang di teras mushola Kyai Sabar mulai mencair.

"Tapi bukan itu kang masalahnya,"sanggah Tole garuk-garuk kepala, "Tapi masalah kelulusan kang, mau jadi apa saya setelah lulus nanti kang."

Kyai Sabar diam sambil tersenyum. Ia mulai mengerti arah dari masalah yang membelit Tole. Ia tahu bahwa Tole adalah mahasiswa yang tidak bodoh malah bisa dibilang cukup cerdas. Lantaran cerdas itu, Tole dengan wajar mempertanyakan ujung dari akhir kuliahnya. Setelah diam sejenak, Kyai Sabar meminta Tole untuk melanjutkan curhat-nya.

Dengan semangat Tole pun melanjutkan keluh kesahnya tentang kuliahnya dalam curhatnya, "Begini ceritanya Kyai, kang, Tole merasa kalau kuliah Tole ini agak nyantai daripada teman-teman Tole yang lain. Tole juga nggak ada masalah dengan nilai-nilai Tole, malah bisa dibilang lumayan bagus. Tapi di situ masalahnya Kyai. Ada beberapa dosen Tole yang ngasi nilai sama mahasiswanya itu agak ngaco. Maksudnya, ngaco itu nggak ngasi nilai jelek Kyai, malah cenderung ngasi nilai bagus yang kebanyakan nggak sesuai dengan hasil kerjaan mahasiswanya, karena menurut pengamatan Tole mereka malas ngoreksinya Kyai, jadi mereka acak saja cara ngasi nilainya. Walaupun kerjaan Tole nggak bagus amat, tapi Tole dikasih nilai bagus. Nah.. ini yang jadi moral dilema Tole, Kyai. Hal ini kan sama saja dengan Tole menerima sesuatu yang seharusnya bukan hak Tole kan Kyai... Di situ Tole bingung Kyai, Tole mesti seneng apa nggak dapat bonus nilai karena dosen males?"

"Lho mestinya kamu seneng dan bersyukur dong le, dapet nilai bagus tanpa susah-susah kerja keras," sahut Kang Hendro.

"Kalau pas dapat nilai bagusnya sih Tole seneng kang, tapi di satu sisi yang lain kalau pas dapat nilai jelek, Tole dirugikan benar. Apa itu tidak sama sama dengan gambling? Tole nggak mau nanti Tole terbiasa kayak gitu dan yang Tole paling nggak pengen nanti Tole lulus dengan mental kayak koruptor yang terbiasa menerima sesuatu yang bukan haknya atau jadi pegawai yang makan gaji buta," jelas Tole ketus, "Malahan kalau diukur dari sudut pandang Tole sendiri, wajarlah kalau di Indonesia sekarang ini banyak koruptor, lha wong sejak sekolahnya aja udah dibiasain punya mental koruptor seperti itu."

"Oalah.. itu to yang bikin hatimu gusar le" sahut Kyai Sabar.

"Inggih Kyai."

"Kalau gitu kenapa ndak protes nilai ke dosenmu aja le?" Tanya Kyai Sabar.

"Itu dia Kyai yang saya juga masih belum punya kekuatan mental buat protes nilai."

"Lha kok gitu le?"sahut Kang Hendro

"Iya kang, daripada protes nilai mending dari awal Tole dikasih nilai yang memang porsinya Tole kang, kan lebih fair" jelas Tole lagi, "Nah, sekarang ini Tole harus gimana Kyai?"

"Mm..kalau gitu kamu syukuri aja dulu, toh kamu juga ndak pengen kaya gitu kan, barangkali itu ujian buat ngetes moral dan sikapmu aja le. Dari kasus ini, kan kamu dapat hikmahnya bahwa sesuatu yang bagus itu kalau ndak sesuai dengan porsi kita bakal ndak bagus juga hasilnya buat kita," ujar Kyai Sabar.

"Betul itu le kata Kyai," sahut Kang Hendro sepakat

"Oo.. inggih Kyai, Tole ngerti sekarang," tukas Tole manggut-manggut,"Sekalipun dapat nilai bagus tapi kalau ndak sesuai dengan porsi, itu bakal ndak bagus juga hasilnya buat Tole, begitu Kyai?"

"Benar itu kata-kata Kyai le. Tapi kamu harus mengulangi dengan memakai bahasamu sendiri le, supaya tidak terbiasa menunggu petuah seperti menunggu nilai dosenmu yang males itu," kata Kang Hendro.

"Hahaha...," ketiganya tertawa lega,

2011-08-26


script_end

..lebih lama
.:: SEKOLAH - 3/9 ::.
lebih baru..

DAFTAR 9 ARTIKEL TERBARU KATEGORI SEKOLAH
Free counters!
SEKRETARIAT:
Jl. Karya Timur IV/68 Malang 65122 Telp/Fax. 0341-416711
email: info@pesantrenbudaya.com

DEVELOPED from SCRATCH by AGUS WIDODO