header-daun_01 kayon_01
iklan logoUKM kayon_02
kayon_03
Selamat Datang di PESANTREN BUDAYA NUSANTARA

Filsafat Sebagai Landasan Filosofis Ilmu

oleh: K Ng H Agus Sunyoto
              Proses dan hasil keilmuan pada jenis ilmu apapun, ternyata sangat ditentukan oleh landasan filosofis yang mendasarinya, yang memang berfungsi memberikan kerangka, mengarahkan, menentukan corak dari keilmuan yang dihasilkanya. Landasan filosofis yang dimaksud adalah asumsi dasar, paradigma keilmuan dan kerangka teori (Theoritical Framework).
                  Ketiga inilah yang lazim disebut sebagai filsafat ilmu atau filsafat keilmuan. Kerja ketiga landasan filosofis ini, memang tidak serta merta bisa ditunjukkan dalam wilayah praktis, namun jelas sangat menentukan corak ilmu yang dihasilkan. Dalam sejarah perkembangan ilmu, ketiga hal ini memiliki keterkaitan tidak saja historis namun juga sistematis. Disebut demikian, karena suatu paradigma tertentu lahir berdasarkan asumsi dasa tertentu, begitupula teori tertentu bekerja tidak keluar dari wilayah paradigmanya. Dengan demikian bisa dikatakan, hubungan ketiganya mengambil bentuk kerucut, dalam arti mulai dari yang umum ke yang lebih khusus.
                Dari bagan sederhana di samping bisa dilihat bahwa ilmu-ilmu lahir dari atau sangat ditentukan oleh kerangka teori (Theoritical Framework) yang mendasarinya, yang wilayahnya lebih umum (baca: lebih abstrak dan filosofis. Sementara kerangka teori lahir dari paradigma tertentu yang sifatnya juga lebih umum, begitupula paradigma tertentu juga lahir dari/berdasarkan asumsi-asumsi yang mendasarinya.
             Asumsi dasar proses keilmuan diidentifikasi oleh filsafat ilmu menjadi beberapa aliran pemikiran, yang meliputi: rasionalisme, empirisme, kritisme dan intuisionisme, sementara paradigma keilmuan (dalam tradisi sains) meliputi: positivisme, post-positivisme, konstruktivisme dan teori kritis (critical theory). Masing-masing paraadigma tersebut bisa mencakup beberapa kerangka teori, yang ssecara serius dibangun dan ditawarkan oleh seorang ilmuwan atau kelompok ilmuwan tertentu.
               Dari sini bisa dipahami, jika beberapa ilmu kemudian dapat diklasifikasikan menurut kesamaan karakteristiknya, yakni atas dasar kesamaan teori atau paradigmanya. Misalnya seperti apa yang dilakukan Habermas, sebagaimana telah diuraikan di atas.
Menurut hakikat dan sebab-musabab keberadaannya, Filsafat Ilmu Pengetahuan merupakan  sublimasi atau intisari dan berfungsi sebagai pengendali moral daripada pluralitas keberadaan ilmu pengetahuan. Hal ini berarti keberadaan Filsafat Ilmu Pengetahuan berfungsi sebagai bidang studi filsafat praktis dan bersifat normatif . Dengan keberadaannya dalam konteks pluralitas ilmu pengetahuan itu, maka Filsafat Ilmu Pengetahuan berkepentingnan pada nilai kebenaran ilmiah dan kegunaannya. Kedua nilai ini dibangun dalam satu kesatuan sistem, sehingga keberadaan  pluralitas ilmu pengetahuan tetap terikat dalam sikap (pandang) ilmiah yang bersifat interdisipliner dan multidisipliner. Sedemikian rupa sehingga jalan dan metode pemberdayaan ilmu pengetahuan dan teknologi secara pragmatis bagi kelangsungan kehidupan yang berkeadilan menjadi jelas dan tepat.
               Ilmu sekadar merupakan pengetahuan yang mempunyai kegunaan praktis yang dapat membantu kehidupan manusia secara pragmatis. Ilmu-ilmu lahir dari atau sangat ditentukan oleh kerangka teori (theoretical framework) yang mendasarinya, yang "wilayahnya" lebih umum, sementara kerangka teori lahir dari paradigma tertentu yang sifatnya juga lebih umum, begitu pula paradigma tertentu juga lahir dari/berdasarkan asumsi yang mendasarinya.
         Suatu pengetahuan termasuk ilmu atau pengetahuan ilmiyah apabila pengetahuan itu dan cara memperolehnya telah memenuhi syarat-syarat tertentu. Diantara syarat ilmu adalah adanya objek kajian atau telaah ilmu tersebut. Misalnya tubuh manusia dalam kedokteran, makhluk hidup dalam biologi, bumi dalam geografi dan lain sebagainya. Lalu, apakah sebenarnya yang ditelaah Filsafat?
              Selaras dengan dasarnya yang spekulatif, maka dia menelaah segala masalah yang mungkin dapat dipikirkan oleh manusia. Sesuai dengan fungsinya sebagi pionir dia mempermasalahkan hal-hal yang pokok. Terjawab masalah yang satu, dia pun mulai merambah pertanyaan lainya. Filsafai ilmu dapat dipahami dari dua sisi, yaitu sebagai disiplin ilmu dan sebagai landasan filosofis ilmu pengetahuan.
            Pertama, sebagai disiplin ilmu. Filsafat ilmu merupakan cabang dari ilmu filsafat, dengan demikian juga merupakan disiplin filsafat khusus yang mempelajari bidang khusus, yaitu ilmu pengetahuan. Maka mempelajari filsafat ilmu berarti mempelajari secara filosofis berbagai hal yang terkait dengan ilmu pengetahuan. Di sinilah filsafat ilmu dapat dilihat secara teoritis, yang dimaksudkan untuk menjelaskan "apa", "bagaimana" dan "untuk apa" ilmu pengetahuan itu. Tiga persoalan ini lazim disebut ontologi, epistemologi dan aksiologi ilmu pengetahuan.
                     Persoalan utama ontologi ilmu adalah apa bangunan dasar (fundamental stucture) sehingga sesuatu itu disebut ilmu atau kapan sesuatu itu disebut ilmiyah. Sedang dalam epistemologi ilmu, persoalan utamanya adalah tentang "logika apa" atau struktur logis (logical structure) yang bagaimana yang dipakai dalam membangun ilmu. Hal ini akan terlihat dari model argumen dan style komunitas ilmiyah yang bersangkutan. Sementara dalam aksiologi ilmu, ilmu dapat dilihat dari sudut "peran dan tanggungjawabnya" terhadap masyaraka dan sejarah, maka perhatian terhadap sosiologi dan sejarah ilmu menjadi pembahasan utama.
Filsafat Ilmu sebagai Landasan Filosofis Ilmu Pengetahuan
             Kedua, sebagai landasan filosofis bagi ilmu pengetahuan. Disini jelas filsafat ilmu lebih dilihat dalam hal fungsinya, bahkan aplikasinya dalam kegiatan keilmuan. Sebagai landasan filosofis bagi tegaknya suatu ilmu, maka mustahil para ilmuan menafikan peran filsafat  ilmu dalam setiap kegiatan keilmuan.
                Ilmu pengetahuan itu pada dasarnya merupakan representasi fakta; ungkapan kembali dari fakta. Fakta dan peristiwa yang kompleks bahkan tampak ‘semrawut' dapat dengan mudah dipahami dengan beberapa lembar kertas karya tulis atau hanya dengan beberapa bagan atau hanya dengan beberapa kalimat bahkan hanya dengan beberapa istilah.
            Dalam upaya representasi itu tentu ada proses, bahkan proses itu termasuk simplifikasi dan reduksi. Memang, tugas ilmu pengetahuan itu membuat fakta yang kompleks dan kelihatan semrawut dapat menjadi sederhana dan bisa dipahami. Bagaimana proses representasi fakta itu sebenarnya? Apa rahasia dibalik atau apa kerangka dasar dibalik proses itu? Inilah pertanyaan pertanyaan pokok yang mengajak untuk mengetahui landasan filosofis suatu ilmu dan inilah filsafat ilmu dengan makna yang kedua.
               Dalam pandangan filsafat ilmu, proses dan hasil keilmuan pada jenis ilmu apapun, sangat ditentukan oleh landasan filosofis yang mendasarinya, yang memang berfungsi memberikan kerangka, mengarahkan dan menentukan corak dari keilmuan yang dihasilkannya.
2011-10-27
sumber: Filsafat Ilmu - Jujun Suriasumantri, Parsudi Suparlan, K.Bertens


script_end

..lebih lama
.:: EPISTEMOLOGI - 7/11 ::.
lebih baru..

DAFTAR 10 ARTIKEL TERBARU KATEGORI EPISTEMOLOGI
Free counters!
SEKRETARIAT:
Jl. Karya Timur IV/68 Malang 65122 Telp/Fax. 0341-416711
email: info@pesantrenbudaya.com

DEVELOPED from SCRATCH by AGUS WIDODO