header-daun_01 kayon_01
iklan logoUKM kayon_02
kayon_03
Selamat Datang di PESANTREN BUDAYA NUSANTARA

Anak Indonesia kena Diabetes Tak Terdeteksi

oleh: AN Uyung Pramudiarja & Vera Farah Bararah
          Banyak yang belum tahu kalau anak kecil juga bisa kena diabetes? Tapi karena diabetes dianggap penyakit orang dewasa, orangtua yang memiliki anak dengan gejala diabetes cenderung abai. Akibatnya banyak anak yang terkena diabetes tak terdeteksi dan tak bisa berumur panjang.
           Berbeda dengan orang dewasa yang kebanyakan terkena diabtes tipe 2 karena perubahan pola makan, diabetes yang banyak terjadi pada anak adalah diabtes tipe 1. Diabetes Militus (DM) tipe 1 ini adalah diabetes yang terjadi karena kerusakan sel beta pankreas. Kerusakan pada pankreas ini membuat tubuhnya tidak mampu memproduksi sendiri insulin.
              Gejala paling khas pada DM tipe 1 adalah anak banyak makan (polifagia), banyak minum (polidipsia) dan banyak kencing (poliuria). Namun sebelum ketiga gejala itu muncul, biasanya anak akan mengalami gejala lainnya yakni cepat letih dan berat badannya terus menurun.
             Anak dengan DM tipe 1 menjadi banyak makan karena tubuhnya tidak memproduksi insulin untuk memberi sinyal bahwa tubuh tidak lapar. Akibatnya otak selalu merasa butuh asupan kalori, sehingga anak selalu ingin makan seperti tidak pernah kenyang.
              Banyak minum berhubungan dengan banyak kencing, karena cairan tubuh yang terbuang saat kencing harus diimbangi dengan banyak minum. Banyak kencing sendiri terjadi karena tubuh selalu berusaha mengeluarkan kelebihan gula darah melalui air kencing.
                 "Tidak harus menunggu ketiga gejala itu, kalau anak sudah mulai sering merasa lemas dan berat badannya selalu turun maka kemungkinan ada yang tidak beres dengan insulin. Sebaiknya langsung diperiksa agar kalau ada gangguan pada produksi insulin, tidak terlambat terdeteksi," ungkap dr Erwin dalam seminar media bertajuk "Integrated and Comprehensive Management of Type 1 DM in Indonesia: What Have We Achieved?" di Hotel Akmani, Rabu (26/10/2011).
               Anak penderita DM 1 harus mendapat pengobatan dan pemeriksaan darah secara rutin seumur hidupnya. Tapi tidak semua orangtua mampu yang anaknya terkena DM1 mampu meberikan pengobatan dan pemeriksaan darah secara rutin. Akibatnya diperkirakan 30-40 persen anak dengan diabetes tipe 1 gagal dalam pengobatan karena tidak punya biaya.
                "Sekitar 30 persen. Antara 30-40 persen gagal dalam pengobatan karena poverty, miskin," ungkap dr Erwin yang juga Project Manager Unit Kerja Kelompok (UKK) Endokrinologi dari Ikatan Dokter Anak Indonesia.
              Menurutnya, jaminan kesehatan yang baik sangat dibutuhkan untuk menyelamatkan ratusan anak Indonesia dari penyakit tersebut.
               Dikatakan oleh dr Erwin, dalam beberapa kasus, anak dengan Diabetes Melitus (DM) tipe 1 hanya sempat mendapat insulin satu kali dan sesudah itu meninggal. Ada yang karena memang terlambat terdeteksi, namun sebagian di antaranya karena tidak sanggup menanggung biayanya.
                Sebagai gambaran, dalam sehari seorang penyandang DM tipe 1 harus melakukan tes darah kurang lebih 3 kali sehari dengan strip sekali pakai yang masing-masing harganya sekitar Rp 10.000. Belum lagi harus membeli insulin, yang harganya Rp 200.000 per flacon untuk beberapa kali suntik.
                 Jika dihitung secara kasar, pengeluaran rutin seorang penyandang DM tipe 1 bisa mencapai Rp 3,5 juta per bulan karena masih ditambah ongkos pembelian jarum suntik yang masing-masing hanya sekali pakai. Nominal sebesar ini tentu berat bagi yag penghasilannya pas-pasan.
                Menurut dr Erwin, insulin untuk penyandang DM tipe 1 sebenarnya sudah ditanggung oleh Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas). Namun dalam praktiknya, dr Erwin menilai masih banyak masyarakat miskin yang kesulitan untuk mengurus administrasi Jamkesmas.
               Hingga saat ini memang belum ada angka pasti terkait jumlah anak yang menyandang DM tipe 1 di Indonesia. Namun menurut data UKK Endokrinologi, hingga Oktober 2011 jumlahnya diperkirakan mencapai 724 anak dengan pertumbuhan sekitar 240 kasus baru/tahun.

Komplikasi
               Salah satu komplikasi DM tipe 1 yang sering dijumpai pada anak adalah ketoasidosis, atau sering disebut koma diabetik. Kondisi ini terjadi karena tubuh tidak menghasilkan insulin untuk memproses gula menjadi energi, sehingga kebutuhan energi diperoleh dari lemak yang diubah menjadi keton.
                 Kelebihan keton dalam tubuh menyebabkan asidosis atau keasaman tubuh meningkat, sehingga terjadilah koma diabetik yang jika tidak tertangani bisa berujung pada kematian. Menurut dr Erwin, sebagian besar dari 724 anak penyandang DM tipe 1 terdeteksi setelah mengalami komplikasi ini.

Tanda-tanda Diabetes Pada Anak
             Diabetes melitus adalah penyakit kronik karena gangguan kerja dari insulin. Kondisi ini bisa terjadi sejak masih anak-anak, terutama untuk diabetes tipe 1. Karena itu kenali gejala-gejala diabetes pada anak.
              Diabetes tipe 1 pada anak-anak adalah kondisi pankreas yang tidak lagi menghasilkan insulin sehingga anak memerlukan bantuan agar bisa bertahan hidup.
                  Insulin yang hilang ini bisa digantikan dengan suntikan atau pompa insulin. Jenis diabetes ini dulu dikenal dengan nama diabetes remaja atau diabetes yang tergantung dengan insulin.
             Seperti dikutip dari Mayo Clinic, Senin (17/5/2010) tanda-tanda dan gejala dari diabetes tipe 1 biasanya berkembang dengan cepat.
Beberapa tanda berikut adalah:
1.    Terjadi peningkatan rasa haus dan sering buang air kecil. Kelebihan gula yang menumpuk di aliran darah anak akan membuat cairan ditarik ke jaringan, hal ini kemungkinan akan membuat anak menjadi haus. Akibatnya anak minum dan buang air kecil lebih sering dari biasanya.
2.    Anak selalu merasa lapar. Karena tidak adanya jumlah insulin yang cukup, maka gula yang diasup tidak akan bisa masuk ke dalam sel. Akibatnya organ akan kehabisan energi dan memicu rasa lapar yang terus menerus.
3.    Penurunan berat badan. Meskipun anak makan melebihi biasanya, tapi anak-anak tetap kehilangan berat badannya. Tanpa adanya asupan energi dari gula, maka jaringan otot dan cadangan lemak akan menyusut. Penurunan berat badan yang tidak bisa dijelaskan seringkali menjadi gejala pertama yang diperhatikan.
4.    Anak-anak menjadi mudah lelah dan lesu. Hal ini disebabkan sel-sel sangat kekurangan asupan gula.
5.    Anak menunjukkan perilaku yang tidak biasa. Anak-anak dengan diabetes tipe 1 yang belum terdiagnosis seringkali menjadi mudah marah atau tiba-tiba menjadi murung dan kesal.
6.    Penglihatan yang kabur. Jika gula darah anak terlalu tinggi, maka cairan dapat ditarik dari lensa mata sehingga mempengaruhi kemampuan anak untuk bisa fokus dengan jelas.
7.    Infeksi jamur. Adanya infeksi jamur pada alat kelamin bisa menjadi tanda pertama dari diabetes tipe 1 pada anak perempuan.

                Pada bayi dan anak-anak yang masih kecil, indikasi pertama dari diabetes tipe 1 kemungkinan infeksi jamur yang menyebabkan ruam popok parah dan jauh lebih buruk dari sekedar merah, bengkak atau ruam kulit biasa. Selain itu kelesuan, dehidrasi dan sakit perut juga dapat mengindikasikan diabetes tipe 1.
             Pengobatan untuk diabetes tipe 1 adalah komitmen seumur hidup karena membutuhkan pemantauan gula darah secara rutin, pola makan yang sehat dan olahraga secara teratur bahkan untuk anak-anak.
             Karena anak-anak akan terus tumbuh dan mengalami perubahan, sehingga kemungkinan diperlukan dosis atau jenis insulin yang berbeda serta pola makan yang berubah.
          Pemantauan kadar gula darah harus dilakukan secara rutin, hal ini penting untuk mencegah anak mengalami hipoglikemia (kadar gula darah yang terlalu rendah) atau hiperglikemia (kadar gula darah yang terlalu tinggi) akibat penggunaan insulin yang tidak tepat. Karena kedua kondisi ini bisa memicu timbulnya komplikasi diabetes.
            Anak-anak tidak bisa diberikan diet makanan yang ketat, karena anak tetap membutuhkan banyak buah, sayuran, biji-bijian, makanan tinggi gizi dan rendah lemak serta produk hewani yang lebih sedikit. Mengonsumsi makanan yang manis boleh jika sesekali saja, selama masih termasuk dalam recana pola makan anak (plan meal).
            Ajaklah anak untuk mendapatkan aktivitas fisik yang teratur, tapi ingat bahwa aktivitas fisik bisa mempengaruhi kadar gula darah hingga 12 jam setelah latihan. Karenanya jika ingin memulai aktivitas yang baru, periksalah kadar gula darah lebih sering dari biasanya untuk melihat bagaimana tubuh bereaksi terhadap kegiatan tersebut.
            Meskipun diabetes tipe 1 ini membutuhkan perawatan yang konsisten, tapi seiring kemajuan teknologi dalam memantau kadar gula darah dan pengiriman insulin bisa memudahkan monitoringnya. Dengan perawatan yang tepat, anak-anak dengan diabetes tipe 1 bisa memiliki harapan untuk hidup lebih lama.
2011-11-02
sumber: www.detikhealth.com


script_end

..lebih lama
.:: JAMPI USADA - 9/14 ::.
lebih baru..

DAFTAR 10 ARTIKEL TERBARU KATEGORI JAMPI USADA
Free counters!
SEKRETARIAT:
Jl. Karya Timur IV/68 Malang 65122 Telp/Fax. 0341-416711
email: info@pesantrenbudaya.com

DEVELOPED from SCRATCH by AGUS WIDODO