header-daun_01 kayon_01
iklan logoUKM kayon_02
kayon_03
Selamat Datang di PESANTREN BUDAYA NUSANTARA

Kisah Manusia Satu Kata

oleh: Nurbaidah Hanifah al-Banjari
            Pada suatu hari yang cerah, Raja Mahendra pergi ke hutan untuk menguji kemampuannya berburu. Ia melarang para pengawal mengikutinya masuk ke dalam hutan. Di tengah hutan, tampak seekor kijang sedang makan rumput. Raja Mahendra langsung membidikkan  anak panahnya.
              Ah, ternyata kijang itu berhasil melarikan diri. Raja Mahendra mengejarnya. Tanpa terduga ia terperosok masuk ke lubang yang cukup dalam. Ia berteriak sekeras-kerasnya memanggil para pengawal. Namun suaranya lenyap ditelan lebatnya hutan. Selagi Raja Mahendra merenungi nasibnya, ia terkejut melihat seseorang berdiri di tepi lubang.
             "Hei! Siapa kau?" tanya Raja Mahendra.
                 Orang itu diam  tak menjawab.
              "Aku Raja Mahendra! Tolong naikkan aku!" pintanya dengan nada keras.
               "Tidak!" jawab orang itu.
                 Raja menjadi geram. Ia ingin memanah orang itu. Namun sebelum anak panah melesat, orang itu lenyap. Tak lama kemudian, jatuhlah seutas tali. Raja mengira itu pengawalnya. Namun, ternyata orang tadi yang melempar tali.
               "Jadi kau mau menolongku?"
            "Tidak!" jawabnya lagi. Raja menjadi bingung. Katanya ‘tidak', mengapa memberi tali? Apa boleh buat, yang penting orang itu mau menolongnya. Raja Mahendra berhasil naik. Ia mengucapkan rasa terima kasih dan menawarkan balas budi, "Maukah kau kubawa ke istana?"
             "Tidak!" jawab si penolong.
             "Kalau tidak mau, terimalah beberapa keping emas dariku."
             "Tidak!" jawabnya lagi, tetapi tangannya menengadah siap menerima.
              Akhirnya Raja Mahendra sadar, bahwa orang itu hanya bisa bicara satu kata, yaitu "tidak". Walau sudah berkata tidak, orang itu dibawa juga oleh raja ke kerajaan. Sampai di kerajaan Raja Mahendra memanggil Patih dan menitahkan,"Paman Patih, tolong berikan pekerjaan pada manusia satu kata ini. Ia hanya bisa berkata, tidak."
           "Mengapa paduka membawa orang yang amat bodoh ini?"
             "Walau bodoh, ia telah menolongku ketika aku terperosok ke lubang."
             Patih berpikir keras. Pekerjaan apa yang sesuai dengan orang ini. Setelah merenung beberapa saat, Patih tersenyum dan berkata, "Paduka kan bermaksud mengadakan sayembara untuk mencari calon suami bagi sang putri. Tetapi sampai kini Paduka belum menemukan jenis sayembaranya."
            "Benar Paman Patih, aku ingin mempunyai menantu yang sakti dan pandai. Tetapi apa hubungannya hal ini dengan sayembara?"
            "Peserta yang telah lolos ujian kesaktian, harus mengikuti babak kedua. Yaitu harus bisa memasuki keputren dengan cara membujuk penjaganya."
             "Lalu, siapa yang akan dijadikan penjaga keputren?""Manusia satu kata itu, Paduka."
             "Lho, ia amat bodoh. Nanti acara kita berantakan!"
            "Percayalah pada hamba, Paduka."
             Pada hari yang ditentukan, peserta sayembara berkumpul di alun-alun. Mereka adalah raja muda dan pangeran dari kerajaan tetangga. Di babak pertama, kesaktian para peserta diuji. Dan, hanya tiga peserta yang berhasil.
             Ketiganya lalu dibawa ke depan pintu gerbang keputren. Patih memberi penjelasan pada mereka. Nampaknya mudah. Mereka hanya disuruh membujuk penjaga keputren sehingga dapat masuk keputren. Peserta hanya boleh mengucapkan tiga pertanyaan.
          "Penjaga yang baik. Bolehkah aku masuk keputren?" tanya peserta pertama.
          "Tidak!" jawab si manusia satu kata.
          "Maukah kau kuberi emas sebanyak kau mau, asal aku diperbolehkan masuk?"
         "Tidak!"
         Pertanyaan tinggal satu, peserta bertanya,"Bagaimana kalau kau akan kujadikan Senopati di kerajaanku, asal aku boleh masuk?"
          "Tidak!" ujar si manusia satu kata tegas.
           Peserta pertama gugur. Ia mundur dengan lemah lunglai. Peserta kedua maju. Ia telah menyusun pertanyaan yang dianggapnya akan berhasil,
             "Penjaga, kalau aku boleh masuk keputren, kau akan kunikahkan dengan adikku yang
cantik. Setujukah engkau?" pertayaan pertama peserta kedua disampaikan.
              "Tidak!"
              "Bagaimana jika separoh kerajaan kuberikan padamu, setuju?"
           "Tidak!"
            "Katakan apa yang kau inginkan, asal aku boleh masuk."
           "Tidak!"
            Peserta kedua pun mundur dengan kecewa. Mendengar percakapan dua peserta yang tak mampu masuk keputren, Raja Mahendra tersenyum puas. Pandai benar patihku, katanya dalam hati.
         Peserta terakhir maju. Semua penonton termasuk Raja Mahendra memperhatikan dengan seksama. Raja muda itu tampak percaya diri. Langkahnya tegap penuh keyakinan.
        Ketika berhadapan dengan manusia satu kata, ia bertanya,"Wahai penjaga keputren, jawablah pertanyaanku baik-baik. Tidak dilarangkah aku masuk keputren?" tanyanya dengan suara mantap.
              Raja Mahendra, Patih, dan penonton terkejut dengan pertanyaan itu. Dan dengan mantap, penjaga yang mengenal satu kata itu menjawab. "Tidak!"
            Seketika itu sorak-sorai penonton bergemuruh, mengiringi keberhasilan peserta terakhir. Si raja muda yang gagah lagi tampan. Raja Mahendra sangat senang dengan keberhasilan itu. Calon menantunya sakti dan pandai.
             Sayembara usai. Manusia satu kata berjasa lagi pada Raja Mahendra. Ia dapat menyeleksi calon menantu yang pandai. Walau bodoh, Raja Mahendra tetap mempekerjakannya sebagai penjaga keputren.

2011-12-29
sumber: indonesian folktale - cerita rakyat indonesia


script_end

..lebih lama
.:: CERITA RAKYAT - 20/28 ::.
lebih baru..

DAFTAR 10 ARTIKEL TERBARU KATEGORI CERITA RAKYAT
Free counters!
SEKRETARIAT:
Jl. Karya Timur IV/68 Malang 65122 Telp/Fax. 0341-416711
email: info@pesantrenbudaya.com

DEVELOPED from SCRATCH by AGUS WIDODO