header-daun_01 kayon_01
iklan logoUKM kayon_02
kayon_03
Selamat Datang di PESANTREN BUDAYA NUSANTARA

Amri Yahya - Seniman Batik Kreatif

oleh: Hengky Dwi Prayoga

           Amri Yahya adalah sosok yang tak hanya pintar melukis batik tapi juga mencermati dan mengkritisi sikap bangsa Indonesia dalam memperlakukan batik. Ia sangat sedih luar biasa saat mengetahui Malaysia berupaya mematenkan batik sebagai karya negeri jiran tersebut. "Padahal dunia luar sudah lama mengetahui dan mengakui bahwa batik adalah milik bangsa Indonesia. Hampir di seluruh wilayah Indonesia mengenal seni batik. Ini merupakan kesalahan kita sendiri, karena kita kurang menghargai apa yang disebut hak paten," katanya.
     Ia begitu dikenal sebagai pelukis batik yang tersohor hingga mancanegara. Kesetiaannya terhadap dunia seni itu telah mengantarkan ia meraih gelar doktor dan profesor honoris causa. Amri yang kesehariannya juga menjadi dosen itu pun disebut-sebut sebagaiperintis terkemuka dalam seni lukis batik kontemporer.
             Pilihannya menjadi pelukis batik, bukan hanya karena ingin mencari sesuatu yang lain tapi juga karena ia ingin menjaga salah satu akar seni tradisional Indonesia. Karena itulah, dalam wawancara dengan wartawan sebelum ia wafat, Amri sempat menyatakan kesedihannya ketika ada negara lain yang mengklaim batik sebagai karya budaya mereka. Wajar jika sepanjang perjalanan hidupnya, ia total mendedikasikan diri bagi upaya menjaga dan melestarikan batik Indonesia. Saking cintanya kepada batik, setiap kali ayah empat anak inidiundang untuk pameran dan ceramah ia selalu membawa perabotan membatik dan melukis secara lengkap seperti kompor kecil, canting, lilin dan lainnya. Disela ceramahnya, iamendemonstrasikan keahlian melukis batik.
            Pria yang melukis dengan media acrylic, acquarel, cat minyak dan menekuni media batik sebagai media ungkap ini telah berhasil menelurkan ribuan karya lukisan batiknya baik yang berukuran kecil dan besar yang dipampang dalam bingkai. Tapi tak sedikit motif-motif abstrak batiknya juga digunakan untuk busana dengan memilih lebak-lebung atau panorama alam sebagai subject matter sebagai potret sebagian besar rakyat Indonesia yang hidupdikawasan pedesaan.  Karya-karya lelaki asli Palembang yang puluhan tahun menetap di Yogyakarta ini pernah dipamerkan di Australia, Jerman, Amerika Serikat, Mesir, Inggris,Belanda, Kanada, Denmark, Syria, Jepang dan tentu saja diberbagai kota di Indonesia. Tak sedikit pejabat negara dan lembaga di dalam maupun di luar negeri yang mengoleksi karya lukis yang dipamerkannya sejak tahun 1957.
          Apa yang membuat Amri memilih dunia seni lukis sebagai bagian hidupnya? "Karena pekerjaan ini jauh dari korupsi," jawabnya dalam sebuah wawancara. Sempat kepincut menjadi penyair dan tentara namun urung di tengah jalan. Dalam hal seni rupa dan kaligrafi lukis ia sempat menuturkan bahwa inspirasi untuk membuat warna-warna dalam seni ini bisa didapat dari struktur keindahan sayap butterfly atau kupu-kupu. Warna yang ada pada hewan tersebut sangat natural dan khas, warna yang dijumpai bisa macam-macam, bisa warna yang terkesan redup atau warna yang terkesan cerah, sehingga sangat menarik untuk dijadikan inspirasi dalam berkarya. Hal ini dapat dibuktikan dan dilihat dalam warna-warna karya lukisnya terutama kaligrafi yang tampak ekspresif dan inheren dengan unsur warna kupu-kupu (hasil dari wawancara dan pengamatan langsung).
            Ia juga merasa gundah karena kebanyakan dari kita menganggap batik bukan karya seni, tapi barang kerajinan. "Jadi menganggap nilainya rendah, dan kurang pantas dipamerkan sebagai karya seni. Padahal di luar negeri seperti Jerman, Inggris dan Australia serta Amerika Serikat setiap tiga bulan sekali sekali menyelenggarakan pameran," keluhnya.
            Kegigihannya menjaga dan mengajak bangsa ini untuk mencintai batik belakangan sudah mulai menunjukkan hasil. Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) telah menetapkan batik sebagai peninggalan budaya Indonesia. Namun lebih dari itu, batik kini menjadi pilihan busana prioritas umumnya masyarakat negeri ini yang menjadikan batik sebagai pakaian sehari-hari. Sebuah kebanggaan yang dapat dirasakan setelah sang maestro pergi menghadap Sang Khalik pada 20 Desember 2004.

Pameran Tunggal

Dalam Negeri
1. Tahun 1960 : Palembang, Plaju, Sungai Gerong (Sumatera Selatan).
2. Tahun 1962 : Jakarta, Palembang, Sungai Gerong (Sumatera Selatan).
3. Tahun 1972 : Palembang (Sumatera Selatan).
4. Tahun 1974 : Japan - Indonesian Foundation, Jakarta.
5. Tahun 1975 : Jakarta Hilton Hotel. Symposium of Indonesian-Middle East Relationship, Jakarta.
6. Tahun 1976 : TIM (Taman Ismail Marzuki), Jakarta.
7. Tahun 1977 : TIM (Taman Ismail Marzuki), Jakarta. UNHAS, Ujung Pandang.
8. Tahun 1978 : Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Miramar Hotel, Surabaya. Lembaga Indonesian Amerika, Surabaya. Simpassri Art Gallery, Medan.
9. Tahun 1979 : Taman Ismail Marzuki, Jakarta.
10.Tahun 1980 : Taman Ismail Marzuki, Jakarta.
11.Tahun 1981 : Bank Duta Ekonomi, Jakarta. Lembaga Indonesia Jepang, Jakarta.
12.Tahun 1982 : Taman Ismail Marzuki, Jakarta.
13.Tahun 1988 : Bank Duta Jakarta.
14.Tahun 1991 : PT. Pupuk Kaltim, Bontang, Kaltim. Balikpapan, Kaltim.
15.Tahun 1996 : World Trade Center, Jakarta.
16.Tahun 1997 : Mega Pasaraya, Blok M, Jakarta dibuka Ibu Mar'ie Muhammad.
17.Tahun 1999 : Deparsenibud, Jakarta, dalam rangka silaturahmi masyarakat Sumatera Selatan, dibuka Ibu Negara Ny. Hasri Ainun Habibie. Hotel Sanjaya, Palembang, dalam rangka Festival sriwijaya dibuka Marzuki Usman (Menparsenibud) dan H. Rosihan Arsyad (Gubernur Sumatera Selatan).
18.Tahun 2000 : Taman Ismail Marzuki, Jakarta, dibuka Susilo B. Yudhoyono Mentamben RI.Komplek Bidakara, Jakarta, dibuka Bang Ali Sadikin.
19.Tahun 2001 : Hotel Hyatt Regency, Yogyakarta. d'Gallerie, Jakarta, dibuka Menristek RI Ir. HM. Hatta Radjasa.
20.Tahun 2001 : Museum Nasional, Jakarta, dibuka H. Taufiq Kiemas.


Luar Negeri

1. Tahun 1973 : Michigan (USA) dan Singapore. Melbourne, Sydney (Australia).
2. Tahun 1974 : Koln (West Germany). San Fransisco, Washington DC, Los Angeles, Santa Rosa, Santa Barbara, Forestville (Callifornia), Oklahoma State University.
3. Tahun 1976 : Cairo (Egypt). London, pada acara World of Islamic Festival. Kopenhagen, Ribe, Esberg (Denmark). Den Haaq, Rijswik (Netherland) dan Paris (France) di markas UNESCO Syria dan Saudi Arabia.
4. Tahun 1977-1978 : Kuwait, Iraq, Syria.
5. Tahun 1979 : Abu Dhabi, Dubai, Al-‘Ain (UAE). Amsterdam, Rotterdam, Den Haq (Netherland).
6. Tahun 1981 : San Fransisco, Pasadena (USA).
7. Tahun 1984 : Muzium Brunei Darussalam, Bandar Seri Begawan (Brunei).
8. Tahun 1986 : IOWA City, IOWA (USA).
9. Tahun 1987 : Washington dc dan New York, yang diprakarsai KBRI-KJRI sebagai warming up ‘Diplomasi Kebudayaan' 1990 (USA).
10.Tahun 1989 : Silphakorn University, Bangkok (Thailand).
11.Tahun 1996 : The Asian Art Museum of San Fransisco (USA).

Penghargaan
1. Mendapat Penghargan Teringgi Seni Lukis (ASRI I) dari Akademi Seni Rupa Indonesia tahun 1961.
2. Menjadi anggota kehormatan International Association of Art (IAA) dari UNESCO PBB tahun 1977.
3. Menjadi Koordinator Pameran Kaligrafi dalam Panitia Muktamar Media Massa Islam Sedunia I tahun 1980.
4. Menjadi Pemasaran Loka Karya Pola Pengabdian IAIN kepada Masyarakat dari IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta tahun 1983.
5. Pembawa Obor Persahabatan Dunia dari Departemen Luar Negeri RI tahun 1986.
6. Menjadi salah satu dari 33 Profil Budayawan Indonesia (Penayangan pada TV dan buku di urutan kedua setelah Affandi untuk kategori Pelukis) dari TVRI tahun 1987.
7. Mendapat Anugerah Pagelaran pan-Pacific Art dari Seoul, Korea tahun 1988.
8. Mendapat penghargaan sebagai juri "For Judging the 7th Painting of the Year Competition 1988" dari UOB Singapore tahun 1988.
9. Mendapat penghargaan seni Bidang Seni Rupa dari Walikota Yogyakarta tahun 1988.
10. Mendapat penghargaan seni Bidang Seni Rupa dari Gubernur DIY tahun 1991.
11. Menjadi koordinator pameran kaligrafi dalam Panitia MTQ Nasional XVI tahun 1991.
12. Menjadi peserta pada Pameran Kebudayaan Indonesia di Amerika Serikat dalam Panitia Pameran KIAS 91990-91) tahun 1991.
13. Mendapat penganugerahan gelar "Ki" atas pengabdian yang luar biasa di bidang seni rupa dari BP Majelis Luhur Tamansiswa, Yogyakarta tahun 1991.
14. Menjadi Pemakalah dalam Peningkatan Wawasan Peserta Konferensi Menteri-menteri Pendidikan se-Asia Tenggara dari Depdikbud RI Jakarta tahun 1994.
15.Menjadi Tokoh Figur Jawa Tengah dan DIY dari Yayasan Lintas Wisata Indonesia, Semarang, tahun 1995.
16. Mendapat kepercayaan menjadi Perancang Logo dan Maskot PON XVI - 2004 dari Gubernur Sumatera Selatan tahun 2000.
17. Mendapat gelar Doctor Honoris Causa di bidang Evaluasi Pendidikan Seni (Rupa) dari Senat Universitas Negeri Yogyakarta tahun 2001.
18. Mendapat "Anugerah Sriwijaya" diserahkan langsung oleh Wapres RI dari Yayasan Genta Sriwijaya tahun 2001.
19. Wakil Indonesia untuk Nominator "Unesco Sharjah Prize for Arab Culture" dari Komisi Nasional untuk Unesco (Depdiknas) tahun 2001.

Hengky Dwi Prayoga, Mahasiswa Jurusan Seni Rupa FIB Universitas Brawijaya

2012-01-04
sumber: id.wikipedia.org, Batik: The Impact of Time and Environment - H.S.Doellah


script_end

..lebih lama
.:: SENI BUDAYA - 17/19 ::.
lebih baru..

DAFTAR 10 ARTIKEL TERBARU KATEGORI SENI BUDAYA
Free counters!
SEKRETARIAT:
Jl. Karya Timur IV/68 Malang 65122 Telp/Fax. 0341-416711
email: info@pesantrenbudaya.com

DEVELOPED from SCRATCH by AGUS WIDODO