header-daun_01 kayon_01
iklan logoUKM kayon_02
kayon_03
Selamat Datang di PESANTREN BUDAYA NUSANTARA

Paradigma Keilmuan

oleh: Ovia Ery
1.PARADIGMA ILMU
         Paradigma dapat ditafsirkan bermacam-macam sesuai dengan sudut pandang masing-masing orang. Ada yang menyatakan bahwa paradigma merupakan suatu citra yang fundamental dari suatu pokok permasalahan dari suatu ilmu. Paradigma menggariskan apa yang seharusnya dipelajari, pertanyaan-pertanyaan apa yang seharusnya dikemukakan dan kaidah-kaidah apa yang seharusnya diikutidalam menafsirkan jawaban yang diperolehnya. Dengan demikian paradigma adalah ibarat sebuah jendela tempat orang mengamati dunia dengan wawasannya(world-view).
Dalam pembahasan paradigma di sini dibatasi hanya tentang paradigma ilmu, yaitu suatu keyakinan dasar yang digunakan berbagai kalangan untuk mencari kebenaran realitas menjadi suatu ilmu atau pengetahuan tertentu.

2.POSITIVISME
         Positivisme adalah suatu airan filsafat yang menyatakan ilmu alam sebagai satu-satunya sumber pengetahuan yang benar dan menolak aktifitas yang berkenaan dengan metafisik. Positivisme merupakan empirisme, yang dalam segi-segi tertentu sampai kepada kesimpulan logis ekstrim karena pengetahuan apa saja merupakan pengetahuan empiris dalam dalam satu atau lain bentuk, maka tidak ada spekulasi dapat menjadi pengetahuan.

AUGUSTE COMTE dan POSITIVISME
    Comte adalah tokoh aliran positivisme yang paling terkenal. Kamus positivis percaya bahwa masyarakat bagian dari alam dimana metode-metode penelitian empiris dapat dipergunakan untuk menemukan hukum-hukum sosial kemasyarakatan. Aliran ini tentunya mendapt pengaruh dari kaum empiris dan mereka sangat optimis dengan kemajuan dar revolusi Perancis.
    Bagi Comte untuk menciptakan masyarakat yang adil, diperlukan metode positif yang kepastiannya tidak dapat digugat. Metode positif ini mempunyai 4 ciri, yaitu:
1.Metode ini diarahkan pada fakta-fakta
2.Metode ini diarahkan pada perbaikan terus menerus dari syarat-syarat hidup
3.Metode ini berusaha ke arah kepastian
4.Metode berusaha kearah kecermatan

3.Critical theory
        Teori kritikal atau sering disebut dengan teori marxist dikemukakan oleh Karl Marx. Marx menemukan adanya ketidakseimbangan yang nyata dalam hubungan sosial antara kaum borjuis dengan para pekerja sehingga menyebabkan para pekerja bangkit untuk menentang sistem kapitalis. Marx percaya kritikan mencetus revolusi yang dapat mempebaiki hubungan sosial tersebut.

4.PENDEKATAN TEORI KRITIKAL
       Berikut ini merupakan tiga pendekatan teori menurut Karl Marx :
. strukturalis, memberikan perhatian pada sistem dan proses penyampaian serta penyajian konten
. ekonomi politik, membahas kekuatan media dalam proses ekonomi dan struktur produksi makna suprastrukturnya adalah ideologi dan base-nya adalah ekonomi
. kulturalis, Pendekatan di antara strukturalis dan ekonomi politik.  Fokus pada dekonstruksi teks dan sistem koding

FENOMENOLOGI DAN KONSTRUKSIONISME
    Ilmu sosial dasar adalah pengetahuan yang menelaah masalah-masalah sosial yang timbul dan berkembang, khususnya yang diwujudkan oleh warga Indonesia dengan menggunakan pengertian-pengertian (fakta, konsep, teori) yang berasal dari berbagai bidang pengetahuan keahlian dalam lapangan ilmu-ilmu sosial.
cabang ilmu pengetahuan yaitu :
1. natural sciences, meliputi fisika, kimia, biologi, astronomi (IPA)
2. sosial sciences : meliputi sosiologi, politik, ekonomi, sejarah, psikologi (IPS)
3. humanities sciences : meliputi bahasa, agama, kesenian dan kesusastraan

Pengertian masalah sosial ada dua yaitu :
1.Warga umum (awam)
Segala sesuatu yang berhubungan dengan kepentingan umum adalah masalah sosial
2.menurut ahli masalah sosial
suatu kondisi atau perkembangan yang berwujud dalam masyarakat yang mempunyai sifat yang dapat menimbulkan kekacauan terhadap kehidupan warga masyarakat secara keseluruhan. Contohnya : pedagang kaki lima di kota-kota besar

Teori konstruksi sosial
-ragam aliran teori sosial
-sosiologi: ilmu pengetahuan berparadigma ganda
-kritik multi-paradigma Ritzer
-Jurgen Habermas; empiris-analitis, historis-hermeneutis, dan emansipatorik
-positivisme
-humanisme
-kritisisme
-humanisme: antara positivisme dan kritisisme
-metodologi
-posisi teori Peter L.Berger
-sosiologi pengetahuan
-dasar-dasar pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari
-masyarakat sebagai realitas obyektik dan subyektif
-jihad sebagai konstruksi sosial, cara berfikir fenomenologi ditekankan dengan pengamatan terhadap gejala-gejala dari suatu benda.

PENALARAN
Pengertian penalaran
    Setiap saat selama hidup kita, terutama dalam keadaan terjaga kita selalu berfikir. Berfikir merupakan kegiatan mental. Padda waktu kita berfikir dalam benak kita timbul serangkaian gambar tentang sesuatu yang tidak hadir secara nyata. Kegiatan ini mungkin tidak terkendali, terjadi dengan sendiriannya, tanpa kesadaran,  misalnya pada saat-saat kita melamun. Kegiatan berfikir yang lebih tinggi diakukan secara sadar, tersusun dalam urutan yang saling berhubungan, dan bertujuan untuk sampai kepada suatu kesimpulan disebut kegiatan bernalar.

Penalaran induktif
    Adalah proses penalaran untuk menarik kesimpulan berupa prinsip atau sikap yang berlaku umum berdasarkan atas fakta-fakta yang bersifat khusus, prosesnya disebut induksi.

Penalaran deduktif
    Deduksi dimulai dengan suatu premis yaitu pernyataan dasar untuk menarik kesimpulan. Kesipulannya merupakan implikasi pernyataan dasar tersebut. Artinya, apa yang dikemukakan di dalam kesimpulan secara tersirat telah ada di dalam pernyataan itu.jadi sebenarnya proses deduksi tidak menghasilkan suatu pengetahuan yang baru, melainkan pernyataan kesimpulan bukan merupakan implikasi data yang diamati.

Contoh klasik dari penalaran deduktif, yang diberikan oleh Aristoteles, ialah
1.semua manusia fana (pasti akan mati). (premis mayor)
2.Andika adalah manusia. (premis minor)
3.Andika pasti (akan) mati. (kesimpulan)

EPISTEMOLOGI
         Epistimologi dapat didefinisikan sebagai cabang filsafat yang mempelajari asal mula atau sumber, struktur, metode dan sahnya (validitasnya) pengetahuan yang menekankan bahasan tentang upaya, cara, atau langkah-langkah untuk mendapatkan pengetahuan.
Dalam perspektif barat dikenal adanya tiga aliran epistimologis, yaitu:
1.Empirisme, yaitu aliran yang berdasarakn pada alam, sesuai dengan penyelidikan ilmiah secara empiris.
2.Rasionalisme, aliran yang menganggap empirisme memiliki kemampuan yang terbatas, sehingga alat indera diposisikan sebagai alat yang menyebabkan akal bekerja.
3.Positivisme (August Comte), yang menyatakan bahwa hasil penginderaan menurut rasionalisme adalah sesuatu yang tidak jelas dan tidak sistematis. Alliran positivisme menganggap bahwa penginderaan itu harus dipertimbangkan oleh akal, kemudian disistematisasi sehingga terbentuk pengetahuan.
       Epistimologi dalam dunia Barat mengacu pada indera dan rasio, dan pusatnya adalah manusia itu sendiri. Dalam Islam, Epistimologi tidak berpusat kepada manusia, melainkan Tuhan. Dalam Epistimologi Islam, Tuhan merupakan sumber pengetahuan dan manusia diposisikan sebagai pelaku pencari pengetahuan. Epistimologi Islam antara lain:
1.Epistimologi Bayani, menitik beratkan pada teks baik secara langsung maupun tidak langsung. Teks dimaknai sebagai suatu konteks atau makna asli tanpa ada pemikiran terlebih dahulu. Pemaknaannya yaitu: a.Berpegang teguh pada teks
2.Epistimologi Burhani, berdasarkan pada kekuatan rasio, akal, dan dalil-dalil logika, bukan lagi teks atau intuisi. Otoritas epistimologis Burhani adalah Al-Quran, hadits, dan pengalaman alaf, serta premis-premis Burhani haruslah premis yang benar, primer, dan diperlukan,
3.Epistimologi Irfani

FALSIFIKASI
    Pengertian falsifikasi adalah mengubah atau mengaburkan data atau eksperimen, atau mengaburkan sesuatu yang signifikan. Dalam konteks penolakan terhadap induktivisme para pendukung teori falsifikasi menyatakan bahwa setiap penelitian ilmiah dituntun oleh teori tertentu yang mendahuluinya. Karena itu, semua keyakinan bahwa kebenaran teori-teori ilmiah dicapai melalui kepastian hasil observasi, sungguh-sungguh ditolak itu berarti, ilmu pengetahuan berkembang melalui kesalahan dan kekeliriuan, melalui hipotesis dan refutasi. Hipotesis yang layak disebut sebagai teori atau hukum ilmiah harus memenuhi syarat f undamental itu harus terbuka terhadap kemungkinan falsifikasi. Contoh:
1.tidak pernah turun hujan pada hari-hari rabu
2.semua substansi akan memuai jika dipanaskan
pernyataan (1) dapat difalsifikasikan karena dengan suatu observasi kita dapat menunjukkan bahwa pada hari rabu tertentu ada hujan. Pernyataan (2) pun dapat difalsifikasikan karena melalui observasi kita dapat memperlihatkan bahwa ada substansi tidak memuai jika dipanaskan. Pernyataan berikut ini tidak memenuhi syarat dan konsekuensinya tidak dapat difalsifikasikan. Baik pada hari hujan maupun tidak hujan saya datang. Tidak ada suatu pernyataan observasi yang secara logis dapat menyangkal pernyataan satu pernyataan ini benar, bagaimanapun keadaan cuaca. Pernyataan di atas ini tidak dapat difalsifikasikan, sebab semua kemungkinan yang akan terjadi atau diturunkan dari pernyataan di atas tetap benar.
Intinya falsifikasi adalah "mencai-cari kesalahan"

REVOLUSI SAINS
    Revolusi sains merupakan episode perkembangan nonkomulatif yang didalamnya paradigma yang lama diganti seluruhnya(sebagian oleh paradigma baru yang bertentangan). Paradigma ialah apa yang dimiliki bersama oleh anggota-anggota seluruh masyarakat sains dan sebaliknya. Revolusi ialah jenis khusus perubaha yang melbatkan jenis tertentu rekonstruksi komitmen-komitmen kelompok(paradigma dan struktur masyarakat) dan masih banyak karakteristik-karakteristik secara esensial seperti paradigma konstelasi komitmen kelompok, paradigme dll.
Tahap-tahap perkembangan ilmu dapat dijelaskan secara singkat sebagai berikut:
1.tahap pra paradigma dan pra science. Pada stage ini aktivitas-aktivitas ilmiah pada stage ini dilakukan secara terpisah dan tidak teroeganisir sebab tidak ada persetujuan tentang subject matter,problem-problem dan prosedur diantara para ilmuan bersaing, karena tidak adanya suatu pandangan tersendiri yang diterima oleh semua ilmuwan tentang suatu teori(fenomena).
2.tahap paradigma normal science. Pada tahap ini, tidak ad sengketa pendapat mengenai hal-hal fundamental di antara para ilmuwan sehingga paradigma tunggal diterima oleh semuanya.hal ini menjadi ciri yang membedakan antara normal science dan pra sciene.
Normal science melibatkan usaha terperinci dan terorganisir untuk menjabarkan paradigma dengan tujuan memperbaiki imbangnya dengan alam (fenomena) dengan memecahkan teka-teki sains, baik teka-teki teoritis maupun teka-teki eksperimental. Teka-teki teoritis meliputi perencanaan dan mengembangkan asumsi yang sesuai untuk penetapan status hukum. Teka-teki eksperimental meliputi perbaikan keakuratan observasi dan pengembangan teknik eksperimen sehingga mampu menghasilkan pengukuran yang dapat dipercaya.

2012-01-10
sumber: Research Methodology in Islamic Perspective - M.Muqim, Interpreting Modern Philosophy - J. Collins


script_end

..lebih lama
.:: EPISTEMOLOGI - 10/11 ::.
lebih baru..

DAFTAR 10 ARTIKEL TERBARU KATEGORI EPISTEMOLOGI
Free counters!
SEKRETARIAT:
Jl. Karya Timur IV/68 Malang 65122 Telp/Fax. 0341-416711
email: info@pesantrenbudaya.com

DEVELOPED from SCRATCH by AGUS WIDODO