header-daun_01 kayon_01
iklan logoUKM kayon_02
kayon_03
Selamat Datang di PESANTREN BUDAYA NUSANTARA

Andre Gunder Frank - Teori Dependensi Klasik (2)

oleh: Ilmia Hidayatul Insani P
               Dalam perkembangannya, teori Dependensi terbagi dua, yaitu Dependensi Klasik yang diwakili oleh Andre Gunder Frank dan Theotonio Dos Santos, dan Dependensi Baru yang diwakili oleh F.H. Cardoso.
                Teori Ketergantungan yang dikembangkan pada akhir 1950an di bawah bimbingan Direktur Komisi Ekonomi PBB untuk Amerika Latin, Raul Prebisch. Prebisch dan rekan-rekannya di picu oleh kenyataan bahwa pertumbuhan ekonomi di negara-negara industri maju tidak harus menyebabkan pertumbuhan di negara-negara miskin. Memang, studi mereka menyarankan bahwa kegiatan ekonomi di negara-negara kaya sering menyebabkan masalah ekonomi yang serius di negara-negara miskin. Kemungkinan seperti itu tidak diprediksi oleh teori neoklasik, yang diasumsikan bahwa pertumbuhan ekonomi bermanfaat bagi semua, bahkan jika tidak bermanfaat tidak selalu ditanggung bersama. Penjelasan awal Prebisch untuk fenomena ini sangat jelas: negara-negara miskin mengekspor komoditas primer ke negara-negara kaya yang kemudian diproduksi produk dari komoditas tersebut dan  mereka jual kembali ke negara-negara miskin.
              Tiga masalah membuat kebijakan ini sulit untuk diikuti. Yang pertama adalah bahwa pasar internal negara-negara miskin tidak cukup besar untuk mendukung skala ekonomi yang digunakan oleh negara-negara kaya untuk menjaga harga rendah. Isu kedua menyangkut akan politik negara-negara miskin untuk apakah transformasi menjadi produsen utama produk itu mungkin atau diinginkan. Isu terakhir berkisar sejauh mana negara-negara miskin sebenarnya memiliki kendali produk utama mereka, khususnya di bidang penjualan produk-produk luar negeri. Hambatan-hambatan dengan kebijakan substitusi impor menyebabkan orang lain berpikir sedikit lebih kreatif dan historis pada hubungan antara negara-negara kaya dan miskin.
               Pada titik ini teori ketergantungan itu dipandang sebagai sebuah cara yang mungkin untuk menjelaskan kemiskinan terus-menerus dari negara-negara miskin. Pendekatan neoklasik tradisional mengatakan hampir tidak ada pada pertanyaan ini kecuali untuk menegaskan bahwa negara-negara miskin terlambat datang ke praktik-praktik ekonomi yang padat dan begitu mereka mempelajari teknik-teknik ekonomi modern, maka kemiskinan akan mulai mereda. Ketergantungan dapat didefinisikan sebagai suatu penjelasan tentang pembangunan ekonomi suatu negara dalam hal pengaruh eksternal - politik, ekonomi, dan budaya - pada kebijakan pembangunan nasional (Osvaldo Sunkel, "Kebijakan Pembangunan Nasional dan Eksternal Ketergantungan di Amerika Latin," Jurnal Studi Pembangunan, Vol 6,. no. 1 Oktober 1969, hal 23).

1.Raul Prebisch : industri substitusi import. Menurutnya negara-negara terbelakang harus melakukan industrialisasi yang dimulai dari industri substitusi impor.
2.Perdebatan tentang imperialisme dan kolonialisme. Hal ini muncul untuk menjawab pertanyaan tentang apa alasan bangsa-bangsa Eropa melakukan ekspansi dan menguasai negara-negara lain secara politisi dan ekonomis.
      Ada tiga teori:
1.   Teori God: Adanya misi menyebarkan agama.
2.   Teori Glory: Kehausan akan kekuasaan dan kebesaran.
3.   Teori Gospel: Motivasi demi keuntungan ekonomi.
3.Paul Baran: Sentuhan Yang Mematikan Dan Kretinisme. Baginya perkembangan kapitalisme di negara-negara pinggiran beda dengan kapitalisme di negara-negara pusat. Di negara pinggiran, system kapitalisme seperti terkena penyakit kretinisme yang membuat orang tetap kerdil.
             Ada 2 tokoh yang membahas dan menjabarkan pemikirannya sebagai kelanjutan dari tokoh-tokoh di atas, yakni:
1.Andre Gunder Frank : Pembangunan keterbelakangan. Bagi Frank keterbelakangan hanya dapat diatasi dengan revolusi, yakni revolusi yang melahirkan sistem sosialis.
2. Theotonia De Santos : Membantah Frank. Menurutnya ada 3 bentuk ketergantungan, yakni :
a. Ketergantungan Kolonial: hubungan antar penjajah dan penduduk setempat bersifat eksploitatif.
b.  Ketergantungan Finansial- Industri: pengendalian dilakukan melalui kekuasaan ekonomi dalam bentuk kekuasaan financial-industri.
c. Ketergantungan Teknologis-Industrial: penguasaan terhadap surplus industri dilakukan melalui monopoli teknologi industri.
Enam bagian pokok dari teory independensi adalah :
1. Pendekatan Keseluruhan Melalui Pendekatan Kasus. Gejala ketergantungan dianalisis dengan pendekatan keseluruhan yang memberi tekanan pada sisitem dunia. Ketergantungan adalah akibat proses kapitalisme global, dimana negara pinggiran hanya sebagai pelengkap. Keseluruhan dinamika dan mekanisme kapitalis dunia menjadi perhatian pendekatan ini.
2. Pakar Eksternal Melawan Internal. Para pengikut teori ketergantungan tidak sependapat dalam penekanan terhadap dua faktor ini, ada yang beranggapan bahwa faktor eksternal lebih ditekankan, seperti Frank Des Santos. Sebaliknya ada yang menekan factor internal yang mempengaruhi/ menyebabkan ketergantungan, seperti Cordosa dan Faletto.
3. Analisis Ekonomi Melawan Analisi Sosiopolitik. Raul Plebiech memulainya dengan memakai analisis ekonomi dan penyelesaian yang ditawarkanya juga bersifat ekonomi. AG Frank seorang ekonom, dalam analisisnya memakai disiplin ilmu sosial lainya, terutama sosiologi dan politik. Dengan demikian teori ketergantungan dimulai sebagai masalah ekonomi kemudian berkembang menjadi analisis sosial politik dimana analisis ekonomi hanya merupakan bagian dan pendekatan yang multi dan interdisipliner analisis sosiopolitik menekankan analisa kelas, kelompok sosial dan peran pemerintah di negara pinggiran.
4.  Kontradiksi Sektoral/Regional Melawan Kontradiksi Kelas. Salah satu kelompok penganut ketergantungan sangat menekankan analisis tentang hubungan negara-negara pusat dengan pinggiran ini merupakan analisis yang memakai kontradiksi regional. Tokohnya adalah AG Frank. Sedangkan kelompok lainya menekankan analisis klas, seperti Cardoso.
5.  Keterbelakangan Melawan Pembangunan. Teori ketergantungan sering disamakan dengan teori tentang keterbelakangan dunia ketiga. Seperti dinyatakan oleh Frank. Para pemikir teori ketergantungan yang lain seperti Dos Santos, Cardoso, Evans menyatakan bahwa ketergantungan dan pembangunan bisa berjalan seiring. Yang perlu dijelaskan adalah sebab, sifat dan keterbatasan dari pembangunan yang terjadi dalam konteks ketergantungan.
6. Voluntarisme Melawan Determinisme. Penganut marxis klasik melihat perkembangan sejarah sebagai suatu yang deterministic. Masyarakat akan berkembang sesuai tahapan dari feodalisme ke kapitalisme dan akan kepada sosialisme. Penganut Neo Marxis seperti Frank kemudian mengubahnya melalui teori ketergantungan. Menurutnya kapitalisme negara-negara pusat berbeda dengan kapitalisme negara pinggiran. Kapitalisme negara pinggiran adalah keterbelakangan karena itu perlu di ubah menjadi negara sosialis melalui sebuah revolusi. Dalam hal ini Frank adalah penganut teori voluntaristik.

Dasar Teori Sistem Dunia
            Teori sistem dunia adalah adanya bentuk hubungan negara dalam sistem dunia yang terbagi dalam tiga bentuk negara yaitu negara sentral, negara semi pinggiran dan negara pinggiran. Ketiga bentuk negara tersebut terlibat dalam hubungan yang harmonis secara ekonomis dan kesemuanya akan bertujuan untuk menuju pada bentuk negara sentral yang mapan secara ekonomi. Perubahan status negara pinggiran menuju negara semi pinggiran ditentukan oleh keberhasilan negara pinggiran melaksanakan salah satu atau kombinasi dari strategi pembangunan, yaitu strategi menangkap dan memanfaatkan peluang, strategi promosi dengan undangan dan strategi berdiri diatas kaki sendiri. Sedangkan upaya negara semi pinggiran menuju negara sentral bergantung pada kemampuan negara semi pinggiran melakukan perluasan pasar serta introduksi teknologi modern. Kemampuan bersaing di pasar internasional melalui perang harga dan kualitas.
             Negara semi pinggiran yang disampaikan oleh Wallerstein merupakan sebuah pelengkap dari konsep sentral dan pinggiran yang disampaikan oleh teori dependensi. Alasan sederhana yang disampaikannya adalah, banyak negara yang tidak termasuk dalam dua kategori tersebut sehingga Wallerstein mencoba menawarkan konsep pembagian dunia menjadi tiga kutub yaitu sentral, semi pinggiran dan pinggiran.
                        Terdapat dua alasan yang menyebabkan sistem ekonomi kapitalis dunia saat ini memerlukan kategori semi pinggiran, yaitu dibutuhkannya sebuah perangkat politik dalam mengatasi disintegrasi sistem dunia dan sarana pengembangan modal untuk industri dari negara sentral. Disintegrasi sistem dunia sangat mungkin terjadi sebagai akibat "kecemburuan" negara pinggiran dengan kemajuan yang dialami oleh negara sentral. Kekhawatiran akan timbulnya gejala disintegrasi ini dikarenakan jumlah negara miskin yang sangat banyak harus berhadapan dengan sedikit negara maju. Solusi yang ditawarkan adalah membentuk kelompok penengah antara keduanya atau dengan kata lain adanya usaha mengurangi disparitas antara negara maju dan negara miskin. Secara ekonomi, negara maju akan mengalami kejenuhan investasi sehingga diperlukan perluasan atau ekspansi pada negara lain. Upaya perluasan investasi ini membutuhkan lokasi baru pada negara miskin. Negara ini kemudian dikenal dengan istilah negara semi pinggiran, Wallerstein mengajukan tesis tentang perlunya gerakan populis berskala nasional digantikan oleh perjuangan kelas berskala dunia. Lebih jauh    Wallerstein menyatakan bahwa pembangunan nasional merupakan kebijakan yang merusak tata sistem ekonomi dunia. Alasan yang disampaikan olehnya, antara lain :
1. Impian tentang keadilan ekonomi dan politik merupakan suatu keniscayaan bagi banyak negara.
2. Keberhasilan pembangunan pada beberapa negara menyebabkan perubahan radikal dan global terhadap sistem ekonomi dunia.
3. Strategi pertahanan surplus ekonomi yang dilakukan oleh produsen berbeda dengan perjuangan kelas yang berskala nasional.

Pengaruh Teori Sistem Dunia
               Teori sistem dunia telah mampu memberikan penjelasan keberhasilan pembangunan ekonomi pada negara pinggiran dan semi pinggiran. Negara-negara sosialis, yang kemudian terbukti juga menerima modal kapitalisme dunia, hanya dianggap satu unit saja dari tata ekonomi kapitalis dunia.  Negara sosialis yang kemudian menerima dan masuk ke dalam pasar kepitalis dunia adalah China, khususnya ketika periode pengintegrasian kembali (Penelitian So dan Cho dalam  Suwarsono dan So, 1991). Teori ini yang melakukan analisa dunia secara global, berkeyakinan bahwa tak ada negara yang dapat melepaskan diri dari ekonomi kapitalis yang mendunia. kapitalisme yang pada awalnya hanyalah perubahan cara produksi dari produksi untuk dipakai ke produksi untuk dijual, telah  merambah jauh jauh menjadi dibolehkannya pemilikan barang sebanyak-banyaknya, bersama-sama juga mengembangkan individualisme, komersialisme, liberalisasi, dan pasar bebas. Kapitalisme tidak hanya merubah cara-cara produksi atau sistem ekonomi saja, namun bahkan memasuki segala aspek kehidupan dan pranata dalam kehidupan masyarakat, dari hubungan antar negara, bahkan sampai ke tingkat antar individu. Sehingga itulah, kita mengenal tidak hanya perusahaan-perusahaan kapitalis, tapi juga struktur masyarakat dan bentuk negara.

Teori Artikulasi
             Teori  ini  menyikapi  kegagalan  kapitalisme  yang  dilakukan  di  negara  satelit, karena kapitalisme dapat berhasil dilakukan di negara maju. Minimal ada dua alasan utama  yang menyebabkan  kapitalisme  gagal  membawa  negara  berkembang  untuk mencapai kemajuan dalam  pembangunan  yang  dilakukannya.  Dua  hal  itu  adalah kegagalan cara dan proses produksi di negara satelit.
1)   Kegagalan proses produksi di negara satelit
                Teori ini berpendapat bahwa negara satelit telah gagal memahami proses industrialisasi  yang  dicontohkan  oleh  negara  maju.  Pemahaman  yang salah atas kapitalisme ini kemudian menbawa kegagalan        dalam mewujudkan kapitalisme dengan melakukan industrialisasi dalam negeri. Disinilah yang dimaksud dengan kegagalan dalam pembangunan menurut teori Artikulasi. Negara   Dunia   Ketiga  gagal   mengartikulasikan   profil   kemajuan   dan kemandirian  ekonomi   yang   telah  tercapai   di   negara   maju   dengan kapitalisasi ekonominya, sehingga kegagalan ini membawa negara satelit tetap menjadi negara miskin.
2)   Kesalahan cara produksi
                Industrialiasi yang berjalan di negara satelit mengalami kesalahan dalam hal produksi  (made  of  production),  sehingga  pemanfaatan  sumberdaya alam tidak dilakukan secara maksimal untuk menghasilkan produk barang industri. Kesalahan cara produksi ini menyebabkan kapitalisme di negara satelit tidak berjalan dan berkembang secara murni, sehingga pembangunan tidak berhasil membawa kemajuan bagi negara tersebut. Kegagalan cara   produksi   di   negara   Dunia Ketiga ini terjadi karena keterbatasan teknologi industri yang dikuasai  oleh para tenaga ahli  di negara  Dunia  Ketiga.  Dengan terbatas  dan  sedikitnya  teknologi  industri yagng dikuasai, maka produk industri yang dihasilkan oleh industri negara Dunia Ketiga tetap akan mengalami kekalahan dalam persaingan di pasar konsumsi dengan produk yang dihasilkan oleh industri negara maju.
                   Dengan tidak lakunya barang-barang produk industri negara Dunia Ketiga, maka pertumbuhan pendapatan industri-industri domestik akan cenderung rugi   atau   hanya  mendapatkan   laba   yang   minim,   sehingga   dengan keuntungan  terbatas  tersebut, karyawan  dan  para  pekerja  akan  terbatas mendapatkan  pendapatan  dari  kerja yang  telah  mereka  lakukan.  Jika pendapatan   rendah,   maka   kemampuan  konsumsi   juga   rendah.   Maka negara Dunia Ketiga tetap masih berada dalam keterbelakangan jika tidak mampu merubah cara produksi industri yang ada didalam negaranya. Cara tercepat  untuk  merubahnya  adalah  dengan  menguasai  teknologi industri yang sangat menentukan mutu produk industri itu sendiri. Tokoh  teori  ini adalah  Claude  Meillassoux  dan  Pierre  Philippe  Rey, keduanya adalah antropolog yang berasal dari Perancis,(Arief Budiman, 2000: 103-107).

Teori Modernisasi dan Dependensi
                Pembangunan meniscayakan transformasi struktural dalam segala aspek kehidupan, baik perubahan kultural, politik, sosial, ekonomi, maupun yang lainnya. Teori-teori yang dibangun terkait dengan pembangunan sangat terkait erat dengan strategi pembangunan. Teori pembangunan memuat berbagai pendekatan ilmu sosial yang berusahan menangani masalah keterbelakangan dan mengalami perubahan besar dalam proses tersebut. Teori-teori yang dirumuskan para pakar hingga saat ini jumlahnya banyak sekali. Namun, bila kita bicara teori pembangunan ada 3 teori besar yang sering dibahas, yaitu teori modernisasi, dependensi dan sistem dunia.
Konsep modernisasi dan pembangunan menjadi penuh kontroversial dalam teori-teori sosial dan poskolonial kontemporer. Sebelumnya, hampir semua teori sosial klasik abad 19 mempertentangkan masyarakat modern dan pra-modern. Durkheim pada perbedaan antara solidaritas organis dan mekanis, Weber menteorikan perkembangan rasionalisasi, dan Max mengkaji transisi feodalisme ke kapitalisme. Masing-masing ahli teori sosial tersebut menggunakan model pembangunan linear. Misalnya, transisi masyarakat pedesaan ke masyarakat urban, dari feodal ke kapitalis, dari agraris ke industri, dari irasional ke rasional, dan dari tradisi ke modern. Masalah yang muncul adalah pada bayangan negara berkembang tentang masa depan mereka yang mengacu pada modernisasi Barat/Eropa.
             Model linear ini "diresmikan" pasca-1945, ketika era kekaisaran runtuh dan teori sosial ideologis berhasrat untuk menghindarkan penyebaran komunisme. Beberapa teori sosial yang muncul waktu itu secara eksplisit berhubungan dengan pembangunan. Pembangunan diteorikan sebagai proses di mana masyarakat terbelakang Dunia Ketiga akan mencapai kemajuan sebagaimana di Barat melalui proses modernisasi. Sehingga, modernisasi dan pembangunan dua hal yang berkaitan erat. Beberapa tokoh ilmu sosial menjelaskan tahapan modernitas Barat melalui teori modernisasi, misalnya Walt Rostow, Shmuel Eisenstadt, David McClelland, dan Bert Hoselitz. Teori-teori sosial tersebut didominasi oleh pemikiran sosiologi Barat pada tahun 1950-an dan awal 1960-an.
             Namun, ada pula yang berbeda pandangan mengenai proses modernisasi tersebut. Mengikuti argumen Marx, Andre Gunder Frank dan Immanuel Wallerstein berpendapat, kegagalan modernisasi dan pembangunan di Dunia Ketiga merupakan dampak dari tindakan negara-negara maju. Tetapi, teori sistem dunia dan negara terbelakang juga memiliki persoalan, di mana asal-usul pembagian antara pusat dan pinggiran tidak dijelaskan dengan baik. Sebaliknya, ketika teori-teori tersebut membicarakan persoalan pusat dan pinggiran, pembahasan selalu mengarah pada persoalan ekonomi-politik dan eksploitasi terhadap negara berkembang serta pemusatan konsentrasi perdagangan dan investasi di negara maju yang berdampak pada marginalisasi negara-negara pinggiran.
                Namun, teori-teori sosial kontemporer justru berpandangan pesimis ketika dikatakan bahwa modernisasi dan pembangunan memperlihatkan kemajuan. Dasar beberapa teori ini mengacu pada teori sosial klasik, misalnya rasionalisasi Weber, Anomi, dan alienasi. Teori sosial kontemporer melihat bahwa modernisasi memunculkan Eropasentrisme dalam pembangunan dam ilmu pengetahuan. Beberapa persoalan yang muncul oleh dampak modernisasi dan pembangunan menjadikan alasan mengapa tema modernisasi dan pembangunan menjadi signifikan dalam ilmu sosial kontemporer sekarang ini.
Ilmia Hidayatul Insani P, Mahasiswi Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris FIB Universitas Brawijaya

                    
2012-01-24
sumber: Teori Pembangunan dan Tiga Dunia-Hettne B, Perubahan Sosial dan Pembangunan di Indonesia – Suwarsono & A.Y.So, file.upi.edu


script_end

..lebih lama
.:: FILSAFAT BARAT - 13/20 ::.
lebih baru..

DAFTAR 10 ARTIKEL TERBARU KATEGORI FILSAFAT BARAT
Free counters!
SEKRETARIAT:
Jl. Karya Timur IV/68 Malang 65122 Telp/Fax. 0341-416711
email: info@pesantrenbudaya.com

DEVELOPED from SCRATCH by AGUS WIDODO