header-daun_01 kayon_01
iklan logoUKM kayon_02
kayon_03
Selamat Datang di PESANTREN BUDAYA NUSANTARA

Andre Gunder Frank - Pendekatan Struktural Bisnis Internasional (4)

oleh: Ilmia Hidayatul Insani P
Pendekatan Struktural Dalam Bisnis Internasional
           Pendekatan struktural menekankan pada pentingnya struktur dunia yang di-anggap sebagai penentu pola-pola hubungan ekonomi antarnegara. Perspektif ini banyak merujuk pada gagasan Karl Marx dalam memahami realitas sosial, terutama yang menyangkut hubungan produksi. Asumsi-asumsi dasar pende-katan ini menyangkut beberapa hal. Pertama, perilaku ekonomi ditentukan oleh perjuatigan kelas dan konflik kepentingan antara kelompok yang mendominasi berhadapan dengan kelompok yang didominasi. Dalam konteks perekonomian dunia, struktur kelas termanifestasi di dalam pemberlakuan sistem hierarki dan pelbagai peristiwa konflik antarbangsa. Kedua, kapitalisme hams dipahami sebagai fenomena global di mana negara-negara tertentu mendominasi pasar dunia sehingga menciptakan keterbelakangan bagi negara-negara yang berada dalam posisi marjinal (pinggiran). Ketiga, sistem perekonomian dunia sarat dengan konflik antara negara-negara core (pusat) yang dominan berhadapan dengan negara-negara periphery (marjinal) yang bergantung pada pusat. Negara-negara pusat mengeksploitasi surplus ekonomi yang dimiliki negara-negara periferal untuk kepentingan pertumbuhan perekonomiannya sendiri, sedangkan negara-negara periferal makin terbelakang karena akses terhadap pasar dunia yang amat terbatas. Dan justru dalam kondisi seperti inilah sistem kapitalisme dunia tumbuh dan berkembang.
                 Perspektif ini sering kali dikaitkan dengan para pemikir radikal seperti Andre Gunder Frank, Giovani Arrighi, Stephen Gill, dan Immanuel Wallerstein. Barangkali tidak terlalu berlebihan jika dikatakan bahwa Wallerstein merupakan "the intellectual driving force" (aktor intelektual) pendekatan struktural, lewat Teori Sistem Dunia (World System Theory) yang dicetuskannya pada akhir dekade 1970-an. Menempatkan dirinya satu kubu dengan pencetus Teori Ketergantungan, yakni Andre Gunder Frank dan kawan-kawan, Wallerstein menyatakan bahwa negara-negara di dunia pada dasarnya terbagi menjadi tiga kelompok besar yang posisinya ditentukan secara hierarkis.
Pertama, kelompok negara industri kaya yang secara militer dan ekonomis lebih kuat dari negara lain sehingga menempatkannya sebagai core (pusat). Kedua, kelompok negara periphery (pinggiran) yang biasanya mengandalkan pada sektor pertanian yang tidak padat modal dan teknologi. Ketiga, kelompok negara semi periphery (setengah pinggiran) yang merupakan peralihan antara sektor pertanian serta industri dan posisinya sangat tergantung pada negara-negara core dan periphery. Ketiga kelompok negara ini, menurut Wallerstein (1991: 162 -166), membentuk "sistem kapitalisme dunia" yang ciri-cirinya sebagai berikut:
1. Sistem ini terdiri dari pelbagai proses produksi yang dibatasi oleh wilayah geografis dan di dalamnya terdapat proses pembagian kerja tunggal (single division of labour) di mana negara merupakan aktor sentral yang dapat menggunakan pengaruhnya untuk menekan negara lain agar berkonsentrasi pada pembuatan produk-produk tertentu.
2. Sistem ini mempunyai pola tertentu yang diwarnai oleh periode "pertumbuhan" dan "krisis" yang muncul secara silih berganti. Secara historis, perekonomian dunia mengalami apa yang disebut Nikolai Kondratieff long waves (gelombang panjang) di mana setiap periode 50 hingga 60 tahun, teijadi pergantian antara periode "pertumbuhan" dan "krisis".
3. Sistem ini diwarnai oleh akumulasi kapital secara terus-menerus sehingga memerlukan penguasaan surplus value (nilai tambah) secara maksimal. Penguasaan nilai tambah ini dapat dilakukan melalui dua cara. Pertama, memaksa  para pekerja untuk bekerja secara lebih produktif dan efisien dengan menambah jam kerja, meningkatkan keterampilan, dan lain-lain. Kedua, mengeluarkan biaya produksi sekecil-kecilnya untuk meningkatkan profit margin (marjin keuntungan) dengan cara menekan tingkat kenaikan upah dan mengontrol serikat pekerja.
4. Sistem ini memerlukan perubahan konstan dalam sistem organisasi dan manajemen produksi dalam rangka memaksimalkan akumulasi modal khususnya di sektor-sektor yang paling menguntungkan (the leading sectors). Perkembangan kapitalisme dunia sangat bergantung pada inovasi-inovasi baru, baik yang menyangkut produk maupun cara kerja. Produk-produk lama harus dihilangkan dan diganti dengan produk-produk baru dengan nilai tambah yang Iebih tinggi.
5. Sistem kapitalisme mengandung polarisasi dalam hal posisi dan perilaku para aktornya (yaitu negara). Sejak awal sistem ini mengandung kontradiksi karena perkembangan ekonomi suatu kelompok negara sering kali diikuti oleh krisis pada kelompok negara Iainnya. Polarisasi ini dipacu oleh perlombaan teknologi, inovasi, dan pangsa pasar. Bagi negara yang menghadapi keterbatasan akses untuk ketiga hal tersebut, sistem kapitalisme dunia akan sangat merugikan. Sebaliknya, negara yang mengontrol ketiga aspek tersebut dapat memaksimalkan nilai tambahnya.
               Sebagai sebuah fenomena sejarah, sistem kapitalisme dunia akan terus tumbuh dan berkembang dengan pola-pola yang ada secara tidak terbatas. Karena pengaruhnya yang begitu besar, maka sangat kecil kemungkinan adanya suatu kekuatan (negara maupun nonnegara) yang dapat membendung ekspansi sistem kapitalisme dunia. Sistem ini hanya dapat dihancurkan bukan oleh kekuatan dari luar, melainkan oleh kontradiksi-kontradiksi yang ada di dalamnya.
               Sekalipun para pendukung Wallerstein menginterpretasikan sistem dunia secara berbeda-beda, tetapi mereka bersepakat bahwa struktur dalam sistem perekonomian dunia yang diwarnai oleh pembagian kerja yang ditentukan oleh kaum elite, akwnulasi modal, dan kontradiksi telah menciptakan suatu hierarki yang sangat menguntungkan negara-negara maju dan merugikan negara-negara miskin.
                  Sebagaimana halnya teori-teori lainnya, Teori Sistem Dunia mendapat kritikan tajam dari para pakar. Pengkritik yang paling menonjol adalah Peter Worsley (1983) yang mengemukakan beberapa pandangan kritisnya. Pertama, Worsley tidak sepakat bahwa di dunia ini hanya ada satu sistem, yakni kapitalisme dunia. Menurut dia, sistem dunia sekurang-kurangnya terdiri dari tiga bagian yang saling berbeda:
(1) dunia pertama (first world) yang terdiri dari negara-negara industrial kapitalis,
(2) dunia kedua (second world) yang merupakan gabungan dari negara-negara sosialis di Eropa Timur dan aktivitas ekonomi mereka seolah-olah "terpisah" dari pasar dunia (setidak-tidaknya hingga awal 1990),
(3) dunia ketiga (third world) yang terdiri dari negara-negara sedang berkembang di Amerika Latin, Asia, dan Afrika.
                 Walaupun dunia ketiga ikut ambil bagian dalam pasar global, tetapi banyak di antara mereka yang tidak sepenuhnya menganut sistem kapitalisme di dalam mode produksinya. Kedua, ada suatu kontradiksi konseptual di dalam Teori Sistem Dunia. Di satu pihak, teori ini menyatakan bahwa hanya ada satu sistem di dunia, yakni kapitalisme; tetapi di lain pihak, membagi sistem itu menjadi tiga bagian: core, periphery, dan semi-periphery. Ketiga, sistem yang digambarkan oleh Teori Sistem Dunia sesungguhnya lebih tepat untuk menjelaskan paham Merkantilisme pada abad pertengahan di mana negara-negara imperialis mengeksploitasi sumbersumber alam di negara-negara koloninya. Dalam sistem perdagangan bebas, menurut Worsley, eksploitasi dapat dikatakan hampir tidak ada lagi. Keempat, konflik kepentingan antara kelompok negara core berhadapan denganperiphoy dan semi-periphery sebagaimana dikatakan Teori Sistem Dunia sesungguhnya jauh lebih kecil skalanya jika dibandingkan dengan konflik dagang antarnegara maju sendiri seperti tampak dalam konflik antara AS versus Jepang atau AS versus Masyarakat Eropa.
                 Terlepas dari pelbagai kritik tersebut di atas, ada beberapa hal yang dapat kita pelajari dari Teori Sistem Dunia. Pertarna, Teori Sistem Dunia memberikan pemahaman lebih jauh mengenai adanya ketimpangan yang inheren di dalam struktur perekonomian dunia. Kedua, teori ini juga menjelaskan kepada kita mengenai logika perkembanean ekonomi yang tidak lepas dari inovasi dan akumulasi modal. Ketiga, kita dapat semakin memahami kompleksitas sistem perekonomian dunia yang rentan terhadap pelbagai kontradiksi dan konflik kepentingan. Keempat, teori ini juga memberikan pemahaman bahwa perekonomian dunia lebih berorientasi pada pertumbuhan daripada pemerataan.

Ilmia Hidayatul Insani P, Mahasiswi Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris FIB Universitas Brawijaya


2012-01-24
sumber: Teori Pembangunan dan Tiga Dunia-Hettne B, Perubahan Sosial dan Pembangunan di Indonesia – Suwarsono & A.Y.So, file.upi.edu


script_end

..lebih lama
.:: FILSAFAT BARAT - 15/20 ::.
lebih baru..

DAFTAR 10 ARTIKEL TERBARU KATEGORI FILSAFAT BARAT
Free counters!
SEKRETARIAT:
Jl. Karya Timur IV/68 Malang 65122 Telp/Fax. 0341-416711
email: info@pesantrenbudaya.com

DEVELOPED from SCRATCH by AGUS WIDODO