header-daun_01 kayon_01
iklan logoUKM kayon_02
kayon_03
Selamat Datang di PESANTREN BUDAYA NUSANTARA

Kapitalisme Global dalam Pandangan Hasyim Wahid

oleh: Sri Hartuti

A.Sekilas Tentang Kapitalisme
              Kapitalisme adalah suatu paham yang meyakini bahwa pemilik modal bisa melakukan usahanya untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya. Demi prinsip tersebut, maka pemerintah tidak dapat melakukan intervensi pasar guna keuntungan bersama, tapi intervensi pemerintah dilakukan secara besar-besaran untuk kepentingan-kepentingan pribadi.
    Kapitalisme kemudian menjelma menjadi kapitalisme global seiring dengan perkembangan zaman yang menuntut banyak negara kapitalis untuk memperkuat pengaruh mereka terutama pada negara jajahan mereka untuk mengeksploitasi sumberdaya alam dan juga sumberdaya manusia. Dengan berbagai cara dan strategi negara kapitalis ini berusaha untuk mempengaruhi negara yang mereka anggap memiliki potensi untuk menguntungkan pihak mereka baik itu dari segi ekonomi, politik, maupun sosial di mana tujuan yang ingin dicapai adalah  memakmurkan negaranya sendiri serta kepentingan-kepentingan pribadi tanpa memikirkan dampak apa yang akan terjadi dan dihadapi pada negara yang sudah dipengaruhinya itu.
    Strategi-strategi diluncurkan untuk tetap mempertahankan ke-eksistensi-an mereka terhadap negara yang dituju. Bahkan melakukan intervensi dalam urusan negara yang bersangkutan dengan berpura-pura memberikan solusi terhadap permasalahan yang sedang dihadapi serta dengan memberikan bantuan yang dibutuhkan yang pada akhirnya menjadi kaki-tangan dan yang tidak kalah pentingnya yaitu penanaman modal jangka panjang di negara yang dituju tersebut, sehingga terjadi eksploitasi jangka panjang berkelanjutan yang memelaratkan Negara korbannya.

B.Hasyim Wahid Sekilas
    Hasyim Wahid dilahirkan pada tanggal 30 Oktober 1953 di Jakarta. Ia menyelesaikan pendidikan di jenjang SMA pada tahun 1972. Pernah menempuh pendidikan di UI jurusan psikologi selama 3 bulan pada tahun 1973 tetapi keluar. Pada tahun yang sama, ia juga pernah menempuh pendidikan di ITB selama 3 bulan, itupun ia tinggalkan. Lalu  pernah juga menempuh pendidikan di jurusan ekonomi UI selama 2 bulan, pada tahun 1974, dan ini pun ditinggalkannya. Selebihnya tokoh yang akrab dipanggil Gus Iim ini belajar secara otodidak.
    Pada kongres PDI-P di Bali tahun 1998, adik Gus Dur yang tidak suka dipanggil kyai ini ditunjuk  menjadi salah satu ketua DPP PDI-P, meskipun tidak hadir di ajang kongres dan tidak pernah pula hadir bila diundang rapat. Gus Iim juga dikenal sebagai  peminat meta-fisika bidang geomystic.
    
C.Membaca Konsolidasi Kapitalisme
    Sejak awal berdirinya, hingga kini, nama Indonesia tidak pernah lepas dari konstelasi dunia (global). Dalam sejarah Indonesia, banyak bukti menunjukkan bahwa Indonesia seringkali dikendalikan oleh wacana asing yang kadang berwatak imperialistik. Bangsa Indonesia sering dijejali dan atau terpukau dengan wacana dari "luar" yang kadang membuat Indonesia masuk dalam lingkaran hegemoni. Sebut saja misalnya kosakata berikut : nation-state  (negara-bangsa), politik etis (Etische Politiek), nasionalisme, demokrasi, developmentalisme (pembangunanisme), dan sebagainya. Persoalannya memang bukan sekedar dikotomi antara "barat" dan "timur" yang berwatak dangkal dan picik itu, akan tetapi adalah pada soal bahwa wacana-wacana di atas sudah  seringkali berefek menjajah dan menelikung.
    Indonesia tidak lantas sekedar masuk dalam lingkaran wacana (Barat) yang menggerus dirinya akan tetapi juga masuk dalam cengkeraman imperialisme global yang sangat hegemonic. Dalam hal ini, Indonesia dijajah dan dikendalikan misalnya dalam aspek : sosial, politik, ekonomi, ideologi, dan lain sebagainya. Mereka hanya melihat persoalan secara parsial dan juga sektoral, sehingga tidak bisa menemukan akar persoalan yang sebenarnya.
    Setelah perang dunia I banyak Negara-negara kapitalis-imperialis yang mengalami kebangkrutan akibat  biaya perang yang cukup tinggi. Dampak yang paling monumental dari peristiwa ini adalah terjadinya resesi ekonomi dunia (malaise) pada awal tahun 1930-an. Untuk memulihkan kembali perekonomian, Negara-negara kapitalis-imperialis mulai melakukan konsolidasi. Sejak saat itu, blok-blok Negara imperialis mulai terlihat, yaitu imperialis-komunis (Soviet), imperialis-kapitalis (Inggris dan AS), imperialis-rasis (Jerman), dan juga imperialis-totaliter (Jepang). Di bidang ekonomi dilakukan restrukturisasi pada sektor moneter maupun  sektor riil.
    Di bidang sosial mulai dilakukan suatu proses rekayasa sosial melalui penyusunan beberapa konsep dan teori sosial. Salah satu teori yang sangat terkenal dan hendak diujicobakan di Negara-negara jajahan adalah strukturalisme fungsional  yang dirancang sosiolog kondang Amerika, Talcott Parsons.
    Dalam masa konsolidasi ini, mulai terjadi polarisasi negara-negara imperialis. Negara imperialis-kapitalis dan imperialis-komunis bergabung menjadi satu dan membentuk blok Sekutu/Allies (AS, Inggris, Uni Sovyet, dan lain-lain), sedangkan negara imperialis-rasis dan imperialis totaliter membentuk satu blok yang disebut blok Axis (Jerman, Jepang, Itali, dan Spanyol). Jika dilacak lebih lanjut, polarisasi ini sebenarnya merupakan kelanjutan dari perpecahan yang terjadi pada akhir abad ke-19. Sementara itu di belahan Eropa terjadi perpecahan antara Rusia dan Inggris akibat berebut negera jajahan di Afghanistan. Demikian juga perpecahan yang terjadi antara Jerman dan Perancis.
    Selama masa ini Indonesia juga melakukan konsolidasi kebangsaan. Di kalangan bangsa Indonesia, pada saat ini sudah terbentuk suatu imajinasi kolektif mengenai negara Indonesia yang merdeka, namun mereka belum bisa mencari jalan untuk memproklamirkan kemerdekaan. Gerakan-gerakan organisatoris yang bersifat politis mulai dilakukan oleh para tokoh Indonesia. Namun hegemoni negara imperialis masih sangat kuat sehingga masih sulit untuk merebut dan menyatakan kemerdekaan.
    Sementara itu konflik antar berbagai negara imperialis makin menajam hingga akhirnya mencapai puncaknya pada pecahnya peristiwa Perang Dunia II pada tahun 1939. Sepanjang Perang Dunia II, Indonesia menjadi perebutan dari masing-masing pihak yang sedang bertempur untuk dijadikan pangkalan dalam mempertahankan kepentingan geo-politik dan geo-strategis masing-masing pihak, karena Indonesia merupakan ladang potensial bahan bakar dan bahan baku industri.
    Perebutan wilayah potensial ini terlihat dalam pertempuran sengit antara AS dan sekutunya dengan  Jepang dalam memperebutkan Pulau Sabang sebagai pelabuhan alam yang strategis untuk superioritas dan dominasi di wilayah Lautan Hindia, serta perebutan sengit untuk menguasai daerah Morotai sebagai pangkalan udara yang strategis untuk superioritas dan dominasi di wilayah Lautan Pasifik. Agaknya harus diperhitungkan akar-akar historis pertarungan ini untuk melihat gejolak yang terjadi di kedua daerah tersebut pada penghujung abad ke-20.

D.Melawan Hegemoni Kolonialis-Imperialis
    Dalam suasana peperangan di Asia-Pasifik inilah, seorang tokoh yang bernama Soekarno berhasil memanfaatkan situasi dengan "mencuri moment" hingga melahirkan Proklamasi Kemerdekaan Bangsa Indonesia. Dalam hal ini, Soekarno dan kawan-kawan berhasil memainkan peran yang cukup baik dengan cara mempermainkan kelompok negara-negara imperialis yang sedang terlibat dalam pertarungan, yakni dengan cara "bermain mata" dengan Jepang yang telah mengalami kekalahan dari blok Sekutu.
    Sebagaimana tradisi yang berkembang di kalangan negara-negara penjajah yang sedang terlibat dalam peperangan, mereka yang kalah harus menyerahkan negara jajahan yang dikuasainya, seperti yang terjadi atas Filipina ketika harus beralih dalam kekuasaan Amerika yang berhasil mengalahkan Spanyol. Demikian juga dengan Indonesia, namun berkat kelicikan Jepang dan kemahiran akrobat politik Soekarno dan kawan-kawan, maka lahirlah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) pada 18 Agustus 1945, sehari sesudah proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia. Dari sini jelas terlihat bahwa kemerdekaan Indonesia terjadi karena pengaruh situasi global dunia internasional.
    Sebagai upaya untuk menguasai kembali negara Indonesia yang telah merdeka, negara sekutu yang telah dimotori oleh Amerika dan juga Inggris di bawah pimpinan Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby datang ke Indonesia dengan diboncengi tentara Belanda. Kedatangan  itu dilakukan dengan dalih untuk melucuti senjata tentara Jepang yang telah kalah perang dan membebaskan tentara Belanda yang menjadi interniran Jepang. Kedatangan Inggris yang diboncengi Belanda ini dihadapi oleh umat Islam secara mati-matian. Karena tentara tidak merespon kedatangan tentara Sekutu  secara serius, maka para ulama NU pada tanggal 21 Oktober 1945 mengadakan pertemuan di Surabaya dan pada 22 Oktober 1945 mengeluarkan Resolusi Jihad yang berisi seruan perang suci bagi kaum muslim untuk mengangkat senjata guna mempertahankan NKRI dari serangan Sekutu.
           Seruan jihad ini menggema di seluruh Pulau Jawa hingga mengobarkan semangat perlawanan seluruh kaum muslimin, terutama umat Islam Surabaya. Lalu pecah pertempuran tiga (3) hari pada 27 - 28 - 29 Oktober 1945 dengan akibat hancurnya Brigade 59 Maharashtra pimpinan A.W.S.Mallaby. Tanggal 30 Oktober 1945, Presiden Soekarno dan Wapres Moch.Hatta beserta Menhan Amir Syarifuddin dating ke Surabaya untuk mendamaikan warga Surabaya dengan pihak sekutu. Tapi saat rombongan presiden kembali ke Jakarta, A.W.S.Mallaby tewas digranat. Peristiwa inilah yang memicu terjadinya peristiwa 10 November 1945 di Surabaya yang sekarang dikenang sebagai hari pahlawan.
    Pola ini sekarang terungkap kembali, meski dengan cara dan format yang berbeda. Kalau pada zaman revolusi fisik upaya imperialisme dilakukan melalui penyerbuan fisik, kini upaya tersebut dilakukan melalui infiltrasi modal asing dan penguasaan aset industri oleh korporasi-korporasi asing. Apa yang dilakukan oleh beberapa perusahaan keuangan AS dan Inggris yang mencoba menguasai aset industri Indonesia sebenarnya bisa dipahami sebagai pengulangan penyerbuan yang beralih bentuk atas negara-negara berkembangan yang dilakukan oleh kapitalisme global sebagai upaya melestarikan hegemoni dan kekuasaannya. Tampaknya agamawan Islam di Indonesia tidak memahami hal ini sehingga tidak siap secara struktural maupun konsepsional untuk menangkal penyerbuan dengan modus seperti ini.

E.Intrik negara-negara Kapitalis-Imperialis
    Setelah Perang Dunia II selesai, terjadi perubahan yang mendasar dalam hubungan antar negara di bidang sosial, ekonomi dan politik. banyak negara jajahan yang menuntut kemerdekaan dengan cara perjuangan fisik maupun diplomatik. Menghadapi hal ini, negara-negara kapitalis segera melakukan konsolidasi. Mereka tidak ingin kehilangan pengaruh di Negara-negara jajahan, namun nereka juga tidak mungkin lagi melakukan penjajahan fisik secara terus menerus karena tuntutan keadaan. Menghadapi hal yang demikian, pada bulan Juli 1944 negara-negara kapitalis-imperialis mengadakan pertemuan di Bretton Woods untuk merumuskan strategi baru menghadapi negara-negara yang baru dan akan merdeka yang meliputi strategi baru menguasai ekonomi dan politik yang dianggap paling berpengaruh.
    Hasil di bidang ekonomi adalah; pertama membentuk World Bank dan IBRD yang beroperasi pada tahun 1946. Lembaga ini berfungsi memberi pinjaman kepada Negara-negara yang baru merdeka atau hancur akibat Perang Dunia II untuk pembangunan dengan persyaratan model pembangunan tertentu; kedua, mendirikan IMF yang beroperasi pada tahun 1947, berfungsi memberikan pinjaman untuk negara-negara yang kesulitan dalam neraca pembayaran luar negeri dengan memasukkan disiplin financial tertentu; ketiga, mendirikan GATT yang beroperasi tahun 1947, berfungsi memajukan dan mengatur perdagangan dunia agar sesuai dengan kepentingan Negara-negara kapitalis-imperialis.
    Hasil di bidang politik, negara kapitalis-imperialis memotori berdirinya PBB pada tahun 1945. Di samping itu, pada tahun yang sama disepakati juga declaration of human right, suatu deklarasi yang memberikan perlindungan tentang hak-hak asasi manusia. Di sisi lain, blok negara-negara komunis membentuk pula pakta kerja sama ekonomi di bawah payung yang disebut COMECON.
    Keputusan-keputusan itu memberikan pengaruh yang cukup besar bagi perkembangan dunia, karena menjadi titik berakhirnya era penjajahan fisik. Namun demikian, hal ini tidak berarti pengaruh negara-negara imperialis-kapitalis maupun negara imperialis-komunis berakhir. Dengan berbagai upaya, kedua blok kekuatan tersebut terus menerus memperluas pengaruh masing-masing di negara-negara yang baru merdeka melalui pengendalian di bidang ekonomi dan politik. Di samping sebagai alat untuk mengendalikan negara-negara terjajah yang baru merdeka, lembaga ekonomi politik internasional yang sedang terbentuk itu juga menjadi alat untuk "cuci tangan" bagi negara-negara imperialis  atas perlakuan mereka pada bekas negara jajahan, karena lewat lembaga itu mereka seolah-oleh menyelamatkan bekas negara-negara jajahan tersebut melalui berbagai bantuan ekonomi dan perlindungan politik.
    Namun di sisi lain, perebutan pengaruh negara imperialis pada negara bekas jajahan juga terjadi secara tajam, khususnya sejak munculnya perang dingin antara blok Timur dan blok Barat. Pada tahun 1948 presiden AS, Truman, mengundang para pakar dan intelektual terkemuka AS guna membahas strategi membendung kapitalisme. Dalam pertemuan tersebut berhasil dirumuskan ideologi developmentalisme sebagai sesuatu hal yang harus disebarluaskan di negara yang baru merdeka. Jelas sekali bahwa developmentalisme di sini merupakan bentuk baru dari kapitalisme-modernisme-imperialisme yang di samping sebagai propaganda politis juga sebagai alat penangkal ideologi komunis (Mansour Faqih, 1996). Dengan demikian, ada beberapa kekuatan yang sedang bermain dalam percaturan politik di Indonesia. Secara ideologis, ada dua kekuatan besar yang sedang bermain yaitu blok komunis dan blok kapitalis yang kemudian berujung pada terjadinya perang dingin.
              Pergeseran geo-politik di Eropa menyebabkan kapitalisme berubah menjadi social democrat (Jerman), sehingga melahirkan konsep welfare state, dengan sistem ekonomi yang tertumpu pada pola socialmarkt wirstchaft (pasar yang masih mengakomodasi  etika sosial). Sementara itu, penerapan developmentalisme sebagai kebijakan di negara-negara berkembang menyebabkan perusahaan-perusahaan besar negara kapitalis memiliki kesempatan mengembangkan usahanya di negara berkembang secara bebas, sehingga muncul MNC (Multi National Corporation) dan TNC (Trans National Corporation) yaitu perusahaan-perusahaan besar lintas negara dengan pusat pengendalian berada di negara kapitalis. Hal ini sebenarnya merupakan eksploitasi sumberdaya alam dengan cara dan gaya baru.

F.Strategi Kapitalisme Global Internasional

    Dalam mengembangkan kepentingan kapitalisme internasional, Indonesia dijadikan sebagai sasaran. Strategi untuk merealisasikan gagasan tersebut dilakukan dengan cara menghancurkan struktur dan fondasi ekonomi Indonesia. Pertama, hal ini ditandai dengan tekanan untuk melakukan liberalisasi sektor perbankan pada tahun 1988 yang mengakibatkan munculnya puluhan bank swasta. Pada Tahun 1992 pengusaha swasta melakukan pinjaman devisa secara besar-besaran dengan menggunakan bank-bank swasta sebagai kendaraan. meskipun pada saat itu, Orba membentuk Panitia Kredit Luar Negeri (PKLN) untuk mengontrol pinjaman luar negeri namun tetap terjadi pembengkakan utang swasta, sementara PKLN hanya berhasil menahan pertumbuhan utang BUMN. Kedua, adanya restrukturisasi perekonomian yang terjadi akibat krisis moneter sehingga Soeharto terpaksa menandatangani letter of intent yang disodorkan IMF. Gejolak ini bermuara pada terjadinya krisis sosial dan politik sehingga terpentaskanlah "opera sabun reformasi" yang menurunkan Soeharto dari jabatannya.
    Jelas di sini terlihat bahwa terjadinya reformasi bukanlah semata-mata keberhasilan masyarakat Indonesia dalam memperjuangkan kepentingannya melawan rezim hegemonik Soeharto. Lebih dari itu reformasi adalah sebagai bagian dari skenario dunia internasional dalam mempertahankan kepentingannya di Indonesia, karena ada kesamaan kepentingan antara kapitalisme global internasional dengan kekecewaan sebagian rakyat Indonesia yang mengalami rising expectations maka proses reformasi dapat berjalan.  
    Ketiga, digunakannya ekspansi wacana dan rekayasa sosial. Hal ini terlihat dalam berbagai teori sosial politik yang diluncurkan pasca perang dingin. Pengaruh paling terasa dari antisipasi benturan peradaban tersebut adalah terjadinya sentimen anti China yang berlebihan di kalangan masyarakat Indonesia yang berujung pada pecahnya kerusuhan 13-15 Mei 1998, yang diikuti jatuhnya kekuasaan Soeharto.
    Inilah beberapa strategi kapitalisme-global internasional yang memiliki dampak langsung terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara bagi bangsa Indonesia. Apa yang terjadi menunjukkan bahwa semua peristiwa itu tidak berdiri-sendiri melainkan memiliki keterkaitan kuat dengan kepentingan kapitalisme internasional dalam konteks borderless-capital.   

Sri Hartuti, mahasiswi Jurusan Sastra Inggris FIB Universitas Brawijaya

2012-08-25


script_end

..lebih lama
.:: CAKRAWALA - 15/24 ::.
lebih baru..

DAFTAR 10 ARTIKEL TERBARU KATEGORI CAKRAWALA
Free counters!
SEKRETARIAT:
Jl. Karya Timur IV/68 Malang 65122 Telp/Fax. 0341-416711
email: info@pesantrenbudaya.com

DEVELOPED from SCRATCH by AGUS WIDODO