header-daun_01 kayon_01
iklan logoUKM kayon_02
kayon_03
Selamat Datang di PESANTREN BUDAYA NUSANTARA

Syaikh Abdurrahman Sulami

oleh: Detri Avinia

            Namanya tidak mungkin terlupakan dalam perkembangan tasawuf, betapa tidak, ia rajin dan produktif menuliskan gagasan-gagasannya tentang Ketuhanan. Sampai kini pemikirannya masih relevan dan sering digunakan oleh kalangan sufi sebagai rujukan. Selain itu, As-Sulami juga berhasil menciptakan terobosan baru dalam mistisisme Islam.

              Nama lengkapnya Abu Abdurrahman bin Al-Hussain bin Muhammad bin Musa As-Sulami Al-Azdi. Ia lahir di Khurasan, Iran, pada tahun 325 H / 937 M dalam sebuah keluarga yang sangat taat bergama. Bahkan kedua orang tuanya di kenal sebagai ulama dan Sufi yang masyhur di Khurasan. Suasana serba religius di dalam rumah inilah yang mempengaruhi As-Sulami di kemudian hari. Ketika ia berusia 15 tahun, ayahnya meninggal. Ia kemudian diasuh oleh nenek dari pihak ibunya.

           Seperti lazimnya para ulama dan sufi masa itu, As-Sulami mengenal agama dari ayahnya sendiri dan kemudian berguru kepada sejumlah ulama. Sejak kecil ia sudah mendalami bahasa Arab dan Al-Qur'an sebagai basis untuk mempelajari berbagai hal mengenai Islam. Di antara guru-gurunya terdapat beberapa nama terkemuka, seperti Ad-Daruquthni, Al-Sarraj, Al-Nasrabazi, Al-Abzari, dan Al-Asfahami.

           Dari merekalah As-Sulami memperlajari ilmu tafsir, hadis, fikih hingga tasawuf. Belakangan ia dikenal sebagai pakar Hadis dan sejarah serta guru para sufi. Dimanapun ia berada - di Naisabur, Merv, Irak, Hijaz, - As-Sulami selalu menulis.

             Sejak usia delapan tahun ia sudah mendalami hadits bahkan kemudian meriwayatkannya. Ia mempelajari hadis dari beberapa guru seperti Syekh Abu Bakar As-Sibhghi dan Imam Abu Nua'im Al-Isbahani, pengarang kitab mengenai tasawuf, "Hilyatul Awliya". Kepiawaiannya dalam ilmu hadits menjadikan As-Sulami sebagai rujukan banyak ulama. Para ulama tersebut antara lain: Imam Al-Hakim, pengarang kitab Al-Mustadrak, Imam Al-Qusyairi, pengarang kitab Al-Risalah Qusyairiyah, Imam Al-Bayhaqi, Abu Said Abu Ramish, Abu Bakr Muhammad ibn Yahya ibn Ibrahim Al-Muzakk, Abu Saleh Al-Muadhdhin, Abu Abdillah Al-Qasim ibn Al-Fadl ibn Ahmad Al-Thaqafi Al-Jubari, Ahmad ibn Muhammad ibn Abd. Al-Wahid Al-Wakil Al-Munkadiri, Al-Qadi Ahmad ibn Ali ibn Al-Husyain Al-Tawwazi, Abu bakar Ahmad ibn Ali ibn Abdillah Al-Shirazi, Abu Hamid Ahmad ibn Muhammad Al-Ghazali Al-Thusi, dan Abu Muhammad al-Juwaini.

             Panjangnya deretan nama ulama dan sufi yang sering merujuk kepadanya membuktikan betapa mereka mengagumi As-Sulami mempunyai kedudukan yang tinggi dalam ilmu.

      Banyak kisah sufistik seputar As-Sulami, salah satunya diceritakan oleh Al-Khatib Al-Baghdadi, ia meriwayatkan, Imam Abu Ali Ad-Daqqaq pernah berkata kepada muridnya Imam Al-Qusyairi, bahwa ia mendengar As-Sulami mempunyai amalan unik.

                Selain dikenal luas sebagai sufi besar, As-Sulami juga sebagai seorang penulis kitab yang produktif. Ia sudah menulis ketika masih berusia 20 tahun. Karya-karyanya meliputi sejumlah besar kitab dan risalah tentang hadis dan tasawuf. Semua karyanya menjadi tumpuan rujukan para ulama di seluruh dunia hingga kini. Sebagian besar masa hidupnya ia habiskan di perpustakaan untuk membaca dan menulis. Sampai beberapa bulan menjelang wafatnya pada tahun 412 H / 1021 M (ketika berusa 87 tahun), ia masih berkarya. Hari-hari terakhirnya ia habiskan dengan bersunyi diri di sebuah pertapaan sufi di Naisabur, Iran. Di sana pula ia wafat dan dimakamkan.

          Karya-karyanya: Adab As-Sufiyya, Adab Al-Suhba wa Husn al-Ushra, Amthal al-Qur'an, Al-Arbain fi al-Hadis, Bayan fi Al-Sufiyya, Darajat al-Muamalat, Darajat As-Shiddiqin, Al-Farq Bayn al-Syaria wal Haqiqa, Al-Futuwwa, Ghalatat al-Sufiyya, Al-Ikhwah wal Akhwa min al-Sufiyya, al-Istishadat, Juwami, Adab al-Sufiyya, al-Malamatiyya, Manahij al-Arifin, Maqamat al-Awliya, Masail  Waradat min Makkah, Mihan Al-Sufiyya, Al-Muqaddimah fi at-Tasawuf wa Haqiqatih al-Radd ‘ala ahl al-Kalam, Al-Sama, Al-Sualat Suluk al-Arifin, Sunnah al-Sufiyya, dan sebagainya.

              Di antara sekian banyak karyanya, yang paling mendapat perhatian para ulama ialah Thabaqat al-Sufiyya. Lebih dari 100 orang telah memberikan syarah dan komentar atas kitab tersebut. Bahkan pengaruh-pengaruh pikirannya dalam kitab itu tampak jelas dalam karya Abu Naim dalam kitab Hilyat al-Auliya, Kitab Al-Baghdadi dalam kitab Tarikh al-Baghdad, Al-Qusyairi dalam kitab Al-Risalah, Abdurrahman al-Jami, dalam kitab Nafkhat al-Uns dan Al-Sya'rani dalam Thabaqat al-Qubra. Dalam karya-karyanya As-Sulami selalu berusaha mempersatukan syariat dan hakikat, selalu berpegang pada Al-Qur'an dan As-Sunah.

Karya  Abdur ar-Rahman Abu 'as-Sulami

             Kata Arab Malama (ملامه) berarti "untuk menyalahkan". Menurut Annemarie Schimmel, "para Malāmatīs sengaja mencoba untuk menarik penghinaan dunia pada diri mereka sendiri dengan melakukan tindakan tak pantas, bahkan melanggar hukum,, tapi mereka diawetkan kemurnian sempurna pemikiran dan mengasihi Allah tanpa berpikir dua kali" (Schimmel 86). Schimmel melanjutkan untuk berhubungan cerita ilustrasi dari tindakan tersebut: "Salah satu dari mereka dielu-elukan oleh orang banyak ketika ia memasuki sebuah kota, mereka mencoba untuk menemani santo besar, tetapi di jalan ia secara terbuka mulai kencing dengan cara melanggar hukum sehingga semua dari mereka meninggalkan dia dan tidak lagi percaya pada peringkat tinggi rohaninya "(dikutip dalam Schimmel 86).

         The Malāmatiyya pertama kali ditulis oleh Abd ar-Rahman Abu 'as-Sulami dan Syekh Abu al-Hasan al-Hujwīrī pada abad 11 (4th-5th abad AH). Sulami jauh lebih positif tentang mereka daripada Hujwīrī, yang menurut Schimmel keliru menuduh mereka kesombongan rohani, dengan mengatakan: "Orang-orang kaya sengaja bertindak sedemikian rupa untuk memenangkan popularitas, sedangkan malāmatī sengaja bertindak sedemikian rupa sehingga orang menolak dia Keduanya memiliki pemikiran mereka tertuju pada umat manusia [sebagai lawan kepada Allah]. dan tidak melampaui batas lingkup itu "(dikutip dalam Schimmel 87). Tapi seperti yang sudah diamati, Malamati panjang jika digunakan untuk menunjukkan serangkaian praktek konvensional, ortodoks atau bahkan antinomian, termasuk tindakan paksa yang tidak muncul dari diri individu-kehendak atau keputusan-keputusan dan karena itu tidak dapat berfungsi untuk mendefinisikan istilah seperti yang biasanya dirasakan oleh standar dasar tasawuf populer atau tasawuf.

            Perbedaan antara ketulusan intrinsik dan ekstrinsik, antara luar "spiritualitas" dan wordliness halus, adalah satu tajam dari sudut pandang Malamatiya, ini demarkasi tambahan dikonfirmasi oleh sebagian besar belajar dari Master Sufi terbesar sebagai perbedaan yang paling penting dalam gerakan menuju tahap kedua terakhir dari hirarki spiritual Sufi.

           Dalam aksi mereka, malamatiya memiliki banyak kemiripan ke Sinis Yunani, seperti Diogenes dari Sinope dan Dionysius, anggota majelis Areopagus, serta tertentu dari Kristen Syriac Timur, seperti Ishak Suriah. Dalam tradisi Islam, beberapa cerita mengenai Nasreddin beruang beberapa kesamaan dengan praktek Malāmatiyya.

Pandangan- pandangan Abdur Rahman as-Sulami

          Menurut AbdurRahman al- Sulami , jiwa memiliki tiga tingkat, yaitu; nafsu amarah, nafsu lawwamah, dan muthmainnah. Al- Sulami lebih cenderung mengatakan bahwa jiwa itu cenderung jahat dan jiwa memiliki tujuh puluh cacat.

2012-11-08
sumber: pesantrenbudaya.blogspot.com


script_end

..lebih lama
.:: TOKOH - 35/42 ::.
lebih baru..

DAFTAR 10 ARTIKEL TERBARU KATEGORI TOKOH
Free counters!
SEKRETARIAT:
Jl. Karya Timur IV/68 Malang 65122 Telp/Fax. 0341-416711
email: info@pesantrenbudaya.com

DEVELOPED from SCRATCH by AGUS WIDODO