header-daun_01 kayon_01
iklan logoUKM kayon_02
kayon_03
Selamat Datang di PESANTREN BUDAYA NUSANTARA

Post Hegemony XII: Membongkar Konspirasi Hegemonic Sistem Medis Barat

oleh: K Ng H Agus Sunyoto

    Minggu malam usai pengajian, Guru Sufi didatangi Jimantolo, Mantri Puskesmas Kecamatan yang mengaku diutus  Pak Sukhul Husada dokter spesialis penyakit dalam yang praktek di Jl.Industri. Jimantolo disuruh meminta kejelasan seputar alasan rasional yang bisa dipertanggung-jawabkan secara ilmiah terkait resep sakit thypus yang diberikan Guru Sufi kepada masyarakat. "Pak dokter heran, bagaimana Mbah Kyai bisa memberikan resep air rebusan cacing tanah sebagai obat mujarab untuk orang yang terkena thypus. Itu tidak masuk akal. Bagaimana kyai kok memberi obat dari makhluk menjijikkan yang diharamkan agama," kata Jimantolo dengan nada protes.
    Guru Sufi diam. Sufi tua yang duduk di sampingnya buru-buru menyela,"Asal kamu tahu ya Man, cucuku dulu kena thypus dan berobat ke dokter. Disuruh rawat inap 12 hari, kena bayar Rp 15 juta. Sebulan lalu, cucuku yang lain kena thypus juga dan aku pakai resep air rebusan cacing, dalam sehari sudah sembuh. Aku Cuma beli cacing tanah di pasar burung Rp 2000."
    "Tapi itu tidak masuk akal, pakde," Jimantolo bersikukuh menolak alasan Sufi tua,"Itu tidak bisa dipertanggung-jawabkan secara medis."
    "Kita ini masyarakat grass-root yang tidak butuh penjelasan ilmiah medis. Kita butuh bukti riil. Dalam kenyataan nriil, cucuku memang sembuh dalam tempo sehari setelah minum air rebusan cacing tanah. Kalau aku percaya resep cacing tanah memangnya kamu mau apa? Mau memaksa setiap orang yang sakit thypus untuk ke dokter dan membayar jutaan rupiah, begitu?" sahut Sufi tua tinggi.
    "Ya tidak maksa pakde," kata Jimantolo ngeri melihat Sufi tua meninggi tekanan suaranya,"Cuma mau konfirmasi, masak iya di jaman modern begini orang masih pakai resep primitif. Yang aneh lagi, masak obat dari makhluk menjijikkan yang diharamkan agama."
    Sufi Sudrun yang duduk bersila sambil memijit-mijit kakinya menyahut,"E Man, asal kamu tahu, resep air rebusan cacing tanah untuk orang sakit thypus itu warisan leluhur sejak jaman Majapahit bahkan sejak jaman Mataram kuno. Para prajurit waktu itu kalau sedang tugas di tempat jauh dan kemudian jatuh sakit dengan tanda-tanda tubuh demam, panas tinggi sampai mengigau, lambung kanan sakit kalau ditekan, maka akan diobati air rebusan cacing tanah. Jadi resep itu tidak perlu diuji di laboratorium, tapi sudah dibuktikan keampuhannya selama ratusan tahun. Dan soal cacing sebagai mmakhluk menjijikkan yang haram, akan menjadi gugur dengan dalil ushuliyyah ad-daruratu tubil masyuraat, bahwa yang keadaan darurat itu menghalalkan semua yang haram. Justru kalau berobat ke dokter kena Rp 15 juta yang dibayar dengan  uang utangan dari rentenir yang memelaratkan, jadi haram hukumnya karena tidak ada satu pun dalil yang mewajibkan orang beriman untuk berobat ke dokter. "
    "Tapi tetap saja tidak ilmiah. Itu tetap pengobatan primitif," kata Jimantolo mengejek.
    "Ee Man, apakah kamu tahu tentang istilah ilmiah yang baru saja kamu sebutkan? Apa kamu tahu kenapa semua resep baru dianggap ilmiah jika yang mengeluarkan dokter?" tanya Sufi Sudrun.
    "Ya tentu, kang," sahut Jimantolo,"Obat yang ilmiah itu kalau sudah teruji di laboratorium dan disahkan oleh apoteker. Dokter punya otoritas mengeluarkan resep karena sekolahnya memang berhubungan dengan penyembuhan medis yang ilmiah."
    "Otakmu sudah pepat dan tumpul dijejali dogma dan doktrin hegemonik medis Barat yang menelikung Kebenaran," sahut Sufi Sudrun dingin.
    "Kenapa sampeyan menilai medis Barat menelikung Kebenaran?" tanya Jimantolo tidak terima.
    "Karena di balik semua dogma dan doktrin medis Barat itu tersembunyi hasrat utama untuk mengeruk uang sebesar-besarnya dari orang-orang yang percaya," kata Sufi Sudrun datar.
    "Maksudnya?"
    "Kenapa dokter-dokter dan apoteker selalu menyembunyikan resep obat yang sangat berguna bagi masyarakat?" gumam Sufi Sudrun.
    "Karena tidak semua orang bisa sembarangan menggunakan obat. Hanya dokter yang sudah pakar mengobati yang boleh memberikan resep sesuai ukuran yang tepat," sahut Jimantolo.
    "Alaaah itu alasan saja," sahut Sufi Sudrun,"Soalnya, kalau sampai resep suatu penyakit menyebar ke masyarakat, dokter-dokter jadi kekurangan pasienj dan tidak dapat duit. Itu sebabnya, resep obat pun sengaja dirahasiakan, di mana yang bisa membaca resep hanya petugas apotek. Dan obat pun, diharamkan menggunakan ramuan alami tetapi harus obat-obat produksi pabrik."
    "Itu benar kang," sahut Sufi Kenthir menimpali,"Jaringan dokter, mantri, bidan, detailer obat, apotik, mahasiswa fakultas kedokteran, dosen, produsen obat, bahkan jaringan kementerian kesehatan sejagat bersepakat untuk menstigma semua obat tradisional di sebuah negara sebagai bagian dari sisa-sisa pengobatan primitif. Sebaliknya, masyarakat modern harus tergantung kepada obat-obat produksi pabrik yang harganya mencekik."
    "Padahal, secara ilmiah probabilitas kesembuhan yang dicapai pengetahuan medis Barat dalam menyembuhkan pasien tidak cukup signifikan," sahut Sufi Sudrun.
    "Sampeyan jangan asal ngomong, kang," sahut Jimantolo,"Apa buktinya kalau medis Barat probabilitasnya dalam menyembuhkan pasien tidak cukup signifikan? Bukankah semua orang sudah tahu bahwa seberat apa pun orang sakit kalau dibawa ke rumah sakit kemungkinannya untuk tertolong lebih besar daripada dibawa ke dukun. Tidakkah sampeyan tahu itu?"
    "Masak iya, semua orang sakit yang dibawa ke rumah sakit selalu sembuh dibanding kalau dibawa ke dukun?" tanya Sufi Sudrun.
    "Faktanya seperti itu, kang."
    "Menurutku, probabilitas rumah sakit kurang cukup signifikan untuk menyembuhkan pasien, karena satu faktor," sahut Sufi nSudrun ketawa.
    "Apa itu kang?"
    "Kenapa di setiap rumah sakit selalu ada KAMAR JENAZAH?"
    "Itu sudah aturannya seperti itu, kang."
    "Bagi mantri sepertimu, KAMAR JENAZAH  memang bagian kelengkapan bagi Rumah Sakit menurut aturan yang berlaku. Tapi bagi kami, KAMAR JENAZAH itu merupakan bukti bahwa para dokter tidak cukup yakin bahwa semua pasien yang dibawa ke rumah sakit bisa tertolong. Jadi dokter-dokter sejak jaman dulu justru sudah yakin bahwa kemungkinan pasien mati setelah diobati dengan metode medis mereka itu sangat besar sehingga mereka menyediakan tempat khusus yang disebut KAMAR JENAZAH, yaitu kamar untuk pasien-pasien yang mati karena SALAH OBAT, MALA PRAKTEK, Keteldoran Paramedis, dan berbagai kemungkinan yang menyebabkan pasien mati."
    "Itu benar sekali," sahut Sufi Kenthir,"Di rumah dukun tidak ada Kamar Jenazah. Tapi anehnya, kalau pasien dukun mati, dukun bisa jadi urusan dan masuk penjara. Sedang di rumah sakit, setiap hari puluhan pasien mati tidak ada satu pun yang diperkarakan."
    "Jadi Man," sahut Sufi tua dengan suara rendah,"Bilang ke dokter Sukhul Husada, bahwa bagi warga grass-root seperti kami tidak penting apakah metode pendekatan yang kami pakai itu ilmiah dan sesuai dengan medis Barat. Sebaliknya, yang penting bagi kami adalah bukti. Fakta riil. Kami tidak butuh dinilai ilmiah atau tidak. Kami tidak butuh diakui oleh dokter atau apoteker. Kami yakin bahwa resep warisan leluhur kami itu ampuh, tidak ada masalah. Toh, sejauh ini tidak ada orang yang mati keracunan akibat minum air rebusan cacing tanah."
    Sambil bersungut-sungut Jimantolo pulang. Sepanjang jalan, ia berpikir untuk merancang kecaman-kecaman, ejekan-ejekan, hinaan-hinaan, dan olokan-olokan yang dialamatkan kepada orang-orang pesantren sufi yang telah berani menggunakan resep tradisional. Dasar orang-orang goblok, kata Jimantolo dalam hati, orang sakit tidak dibawa ke dokter malah diberi minum air rebusan cacing tanah.        

2013-02-11
sumber: Pesantrenbudaya.blogspot.com


script_end

..lebih lama
.:: CAKRAWALA - 21/24 ::.
lebih baru..

DAFTAR 10 ARTIKEL TERBARU KATEGORI CAKRAWALA
Free counters!
SEKRETARIAT:
Jl. Karya Timur IV/68 Malang 65122 Telp/Fax. 0341-416711
email: info@pesantrenbudaya.com

DEVELOPED from SCRATCH by AGUS WIDODO