header-daun_01 kayon_01
iklan logoUKM kayon_02
kayon_03
Selamat Datang di PESANTREN BUDAYA NUSANTARA

Post Hegemony XXII: Beli Rudal Javelin I Untuk Kepentingan Siapa?

oleh: K Ng H Agus Sunyoto
       Angkatan Perang Indonesia dalam waktu tidak lama lagi akan melengkapi alutsistanya dengan rudal anti tank jenis ATGM (Anti Tank Guided Missile) Javelin I bikinan perusahaan Raytheon dan Lockheed Martin Amerika Serikat. Menurut news release Defence Security Cooperation Agency tanggal 19 November 2012, pemerintah Indonesia akan membeli sebanyak 25 CLU (Command Launch Units) yaitu peluncur rudal, 180 rudal, MSR (Missile Simulation Rounds), BCU (Battery Coolant Units), Weapon Effect Simulator, Batteries, Battery Chargers, Support Equipment, termasuk di dalamnya suku cadang, serta training personil dengan nilai kontrak sebesar $ 60 juta USD.
Penggunaan rudal ATGM Javelin 1 sepintas bisa dinilai tepat untuk area geografi Indonesia yang bergunung-gunung dengan lmbah dan ngarai yang ditutupi hutan, dibelah sungai dan jurang, lembah sempit, tanah gambut, dan area persawahan. Dinilai tepat sebab rudal ATGM Javelin 1 memiliki sejumlah keunggulan yang tepat digunakan untuk area geografi seperti Indonesia, di mana rudal antitank itu bisa dipasang pada kendaraan tempur darat seperti Panser, Jep, Truk, atau IFV (Infantry Fighting Vehicle) dan amphibi, bahkan bisa dipanggul dan dioperasikan oleh seorang prajurit Amerika atau Eropa karena beratnya sekitar 22,3 Kg. Selain itu, rudal ATGM Javelin 1 dapat pula difungsikan sebagai alat pengintai posisi pasukan musuh (stand-alone surveillance). Dengan kemampuan mobilitas yang tinggi untuk fire and forget, seorang prajurit Amerika atau Eropa dapat langsung berpindah-pindah lokasi setelah meluncurkan rudal karena ATGM Javelin 1 secara otomatis dapat membimbing diri sendiri ke arah target yang dibidik di samping mampu menembak sasaran sampai sejauh 2,5 Km.
        Selain faktor mobilitas dan kemampuan multi-fungsnya, keunggulan rudal ATGM Javelin 1 adalah kepraktisannya dalam mengoperasikan di mana hanya dibutuhkan waktu 30 detik bagi rudal antitank itu untuk siap ditembakkan dan 20 detik untuk isi ulang rudal. Selain itu, seorang prajurit petembak ATGM Javelin 1 bisa memilih direct mode untuk sasarannya, baik sasaran bergerak atau sasaran tidak bergerak seperti bunker, bangunan, helikopter. Prajurit petembak ATGM Javelin 1 juga bisa memilih mode lainnya seperti top attack, yaitu untuk sasaran tank. Dengan top attack mode, rudal ATGM Javelin1 akan melesat naik ke atas dan kemudian menukik ke arah tank sasaran, membidik bagian atap tank yang memiliki perlindungan paling minim. Rudal ATGM Javelin 1 ini dapat naik dengan ketinggian 18 derajat, di saat jarak sasarannya mencapai 150 meter guna menciptakan top attack.
        Karena keunggulan teknologi dan mobilitasnnya yang tinggi untuk dioperasikan prajurit petembak yang postur tubuhnya seukuran prjurit Amerika dan Eropa, tidak heran jika rudal ATGM Javelin1 kemudian banyak digunakan oleh Negara-negara yang postur dan ukuran tubuh prajuritnya sama, yaitu Angkatan Darat Amerika Serikat, Inggris, Australia, Lithuania, Yordania, Australia, Selandia Baru, Norwegia, Irlandia, yaitu. Itu berarti, rudal ATGM Javelin 1 sesungguhnya kurang maksimal mobilitas dan keunggulannya jika digunakan oleh TNI AD yang postur dan ukuran tubuh rata-rata prajuritnya tidak jauh berbeda dengan ukuran rata-rata prajurit di Negara-negara Asia, yaitu lebih pendek dan lebih kecil dibanding postur dan ukuran tubuh prajurit Amerika dan Eropa. Itu artinya, satu orang prajurit petembak Asia/ Indonesia akan menghadapi kesulitan mengoperasikan rudal antitank yang beratnya 22,3 Kg apalagi setelah menembak harus memasukkan lagi rudal yang beratnya 11,8 Kg. Atas dasar pertimbangan ukuran dan berat rudal ATGM Javelin 1 yang lebih cocok untuk prajurit Amerika dan Eropa, maka sesungguhnya rudal jenis ATGM yang lebih cocok untuk TNI AD adalah rudal ATGM yang lebih kecil dan lebih ringan seperti ATGM NLAW (Next Generation Light Antitank Weapon), yaitu rudal antitank buatan SAAB Bofors Dynamics, Swedia yang bekerjasama dengan Inggris, rudal.
        Berbeda dengan ATGM Javelin 1 yang beratnya 22,5 Kg yang cocok dengan postur dan ukuran tubuh prajurit Amerika dan Eropa, rudal ATGM NLAW yang ukurannya lebih kecil dengan berat hanya 12,5 Kg lebih cocok digunakan oleh prajurit Asia/ Indonesia di mana ukurannya yang lebih kecil dan lebih ringan itu, memungkinkan dioperasikan oleh seorang prajurit petembak Indonesia, untuk menghancurkan berbagai jenis Main Battle Tank modern dengan sekali tembak. Meski jarak tembak ATGM NLAW lebih pendek, tetapi ia tetap efektif untuk dioperasikan di Indonesia yang medan tempurnya bergunung-gunung, ditutupi hutan, dibelah sungai-sungai, dan rawa-rawa yang signifikan untuk pertempuran jarak dekat, sehingga tidak disangsikan lagi bahwa dengan bobot 12,5 Kg itu rudal ATGM NLAW yang memiliki sejumlah keunggulan yang tidak kalah dengan ATGM Javelin 1 seperti Predicted Line of Sight, Attack modes Selectable, Overfly Top Attack, Direct Attack memang cocok digunakan oleh prajurit TNI AD.
Kebijakan pemerintah untuk melengkapi alutsista TNI AD dengan rudal ATGM NLAW dapat dinilai sebagai kebijakan yang didasari pertimbangan rasional yang sesuai dengan kebutuhan pertahanan Negara. Sementara kebijakan untuk membeli ATGM Javelin 1 yang bernilai $ 60 juta USD itu tampaknya lebih merupakan "keterpaksaan" sebagaimana proyek pengadaan IMSS (Integrated Maritime Surveillance System) yaitu peralatan sistem radar pengawasan laut dan pantai terintegrasi senilai $ 57 juta USD yang diserah-terimakan 25 Oktober 2012 lalu, yang tampaknya merupakan kelanjutan dari kebijakan menerima "hibah" 24 unit pesawat F-16 rosokan dari Amerika yang perbaikannya butuh dana $ 760 juta USD. Itu artinya, kebijakan membeli rudal ATGM Javelin 1 bisa dimaknai sebagai sebuah pemborosan karena di samping mobilitasnya kurang maksimal jika dioperasikan oleh prajurit Indonesia harga peralatan senjata produksi Amerika selalu lebih mahal dibanding produksi Negara lain.
          Lepas dari unsur "keterpaksaan" atau faktor non teknis lain dalam pembelian rudal ATGM Javelin 1, pemerintah Indonesia diharapkan dapat memperoleh manfaat dalam bentuk transfer teknologi dalam makna tidak saja tenaga-tenaga Indonesia dididik dan dilatih untuk mengoperasikan, merawat, memperbaiki, dan menyediakan suku cadang tetapi yang tidak kalah penting adalah bagaimana mengembangkan ATGM Javelin 1 menjadi rudal antitank yang memiliki kemampuan lebih canggih yang bisa diproduksi oleh Indonesia sendiri. Dalam konteks transfer teknologi rudal, Indonesia telah menunjukkan kemampuannya dengan keberhasilan meluncurkan rudal Kartika-1 seberat 220 Kg dari stasiun peluncuran Pamengpeuk, Garut, Jawa Barat pada 14 Agustus 1964, yang disusul peluncuran rudal Kartika-2 seberat 66,5 Kg yang mampu menjangkau sasaran sejauh 50 Km, di mana kedua rudal Kartika itu merupakan modifikasi dari rudal-rudal Surfance to Air Missile (SAM) yang dibeli dari Uni Soviet. Keberhasilan Indonesia dalam transfer teknologi rudal dari Uni Soviet pada dasawarsa 1960-an yang menjadikan Indonesia dikenal sebagai Negara pengembang teknologi rudal kedua di Asia dan Afrika setelah Jepang, hendaknya menjadi dasar kebijakan bagi pemerintah dalam konteks pembelian alutsista berteknologi canggih dari Negara-negara maju.
           Secara teoritis pertahanan negara kepulauan seperti Indonesia harus disandarkan pada kekuatan Angkatan Laut yang didukung Angkatan Udara serta dukungan Angkatan Darat dan rakyat, baik dalam kerangka pertahanan terluar (zona penyangga), sampai pada kemungkinan terjadinya perang yang merambah area kontinen Indonesia (zona pertahanan dan perlawanan). Oleh karena itu, sistem pertahanan Indonesia harus bersifat integral di mana penempatan Kekuatan Maritim dan Udara sebagai kekuatan utama menjadi prioritas dengan ditopang Kekuatan Darat yang didukung kekuatan rakyat. Itu artinya, penempatan alutsista strategis harus didasarkan pada pertimbangan melindungi wilayah territorial Indonesia dengan prioritas area yang paling banyak dihuni warganegara, baik ibukota maupun kota-kota besar dan terutama kota-kota yang berdekatan dengan perbatasan wilayah teritorial Negara lain serta obyek-obyek vital Negara yang harus dilindungi.
         Sebagaimana diketahui bahwa sejak rudal Rapier dipensiunkan oleh TNI AD pada Juni 2007, Arhanud TNI AD telah memilih rudal Grom sebagai pengganti, yakni rudal jenis SHORAD (short range air defence), rudal pertahanan udara jarak pendek/SAM (surface to air missile) yang dirancang oleh Military Institute of Armament Technology dan diproduksi oleh Mesko, Skarżysko-Kamienna, manufaktur senjata asal Polandia. Namun saat rudal Grom secara bertahap mulai memperkuat arsenal arhanud TNI AD yang mula-mula dilengkapi Grom adalah Detasemen Rudal 003 Kodam Jaya, yang disusul Detasemen Rudal 001 Kodam Iskandar Muda yang mengamankan area kilang Arun dan Detasemen Rudal 002 Kodam Tanjungpura yang mengamankan obyek vital di Bontang serta Detasemen Rudal 004 Kodam Bukit Barisan yang mengamankan obyek vital di Dumai.
           Penempatan rudal Grom pada Detasemen Rudal 003 Kodam Jaya tentu merupakan keniscayaan bagi perlindungan dan pengamanan ibukota. Tetapi memperkuat Detasemen Rudal 001 Kodam Iskandar Muda dengan tugas utama melindungi area kilang Arun yang merupakan kilang milik perusahaan multinasional Amerika, perlu dipertanyakan relevansinya dalam konteks pertahanan nasional yang berdasar pinsip Hankamrata. Hal yang sama harus dilakukan terhadap kebijakan menempatkan rudal Grom di Detasemen Rudal 002 KodamTanjungpura untuk mengamankan obyek vital Bontang dan Detasemen Rudal 004 Kodam Bukit Barisan untuk mengamankan obyek vital di Dumai, yang sudah diketahui sebagai area kilang milik asing.
           Tanpa berpretensi mencurigai secara berlebihan latar pembelian rudal ATGM Javelin 1 dari Amerika Serikat yang disusul pembelian rudal ATGM NLAW dari perusahaan Swedia-Inggris, akan sangat disayangkan jika penempatannya kelak diletakkan pada Detasemen Rudal di Kodam yang berdekatan dengan obyek-obyek vital milik perusahaan asing seperti Freeport, Newmont, Exxon Mobile, Caltex, BP, dsb. Sebab kalau itu yang terjadi, kita akan benar-benar dibodohi oleh negara-negara produsen rudal tersebut, di mana untuk menjaga obyek-obyek vital milik perusahaan-perusahaan mereka, pemerintah Indonesia diharuskan mengeluarkan anggaran militer untuk membeli senjata-senjata yang mereka produksi dan kemudian ditugasi menjaga dan melindungi perusahaan-perusahaan mereka yang tersebar di berbagai tempat di Indonesia dengan biaya dari pemerintah Indonesia.
2013-11-26


script_end

..lebih lama
.:: FILSAFAT TIMUR - 46/53 ::.
lebih baru..

DAFTAR 10 ARTIKEL TERBARU KATEGORI FILSAFAT TIMUR
Free counters!
SEKRETARIAT:
Jl. Karya Timur IV/68 Malang 65122 Telp/Fax. 0341-416711
email: info@pesantrenbudaya.com

DEVELOPED from SCRATCH by AGUS WIDODO