header-daun_01 kayon_01
iklan logoUKM kayon_02
kayon_03
Selamat Datang di PESANTREN BUDAYA NUSANTARA

Sejarah Perkembangan Pemikiran Islam

oleh: K. Ng. H. Agus Sunyoto

Dalam sejarah perkembangan pemikiran manusia, termasuk sejarah perkembangan pemikiran Islam sudah lazim diketahui terjadinya pertentangan antara tradisi yang mapan (ats-tsabit) sebagai pemikiran yang berdasar teks-teks otoritatif wahyu dengan akal yang menyebabkan perubahan (al-mutahawwil). Dalam sejarah Islam perdebatan antara tradisi dengan akal sangat tajam, meski sering keduanya bisa diserasikan dan saling melengkapi satu sama lain. Paea filsuf muslim banyak membahasa hubungan antara filsafat dan wahyu, sehingga diambil simpulan bahwa pernyataan-pernyataan yang terdapat di dalam kitab suci merupakan symbol-simbol kebenaran filosofis.

Ketegangan antara para filsuf muslim dengan para teolog muslim tradisional telah melahirkan karya-karya yang secara spesifik membincang masalah seperti kekekalan sifat alam, Tuhan tidak mengetahui yang rinci, kebangkitan jasmani, dan logika. Bahkan ketegangan itu pada gilirannya melahirkan teolog rasionalis yang dikenal dengan sebutan mutakalim, dan kamudian teolog spekulatif yang diwakili golongan Mu'tazilah, Asy'ariyyah, Maturidiyyah, dan lain-lain. Pergulatan pemikiran inilah yang pada gilirannya melahirkan apa yang kita kenal sebagai Ilmu Kalam.

Ibnu Khaldun mendefinisikan ilmu kalam sebagai disiplin ilmu yang mengandung berbagai argumentasi tentang iman yang diperkuat dengan dalil-dalil rasional, di mana esensi dari pengertian ilmu kalam adalah ilmu yang mempelajari tentang akidah yang mengandung berbagai argumentasi yang diperkuat dengan dalil-dalil yang rasional. Pandangan Ibnu Khaldun ini adalah pemikiran yang berdasar pada teks, tetapi melalui interpretasi yang membuat teks dapat beradaptasi dengan realitas dan perubahan.

Secara Epistimologi sumber utama ilmu kalam adalah Al- Qur'an, Al-Hadist, dan Akal. Metode yang digunakan adalah Jidal (debat), di mana keyakinan dengan argumentasinya dipertahankan melalui pembicaraan sehingga orang-orang yang ahli dalam bidang kalam ini disebut: mutakalimun. Sementara dalam Axiologi, yaitu kegunaan ilmu kalam adalah untuk mempertahankan kebenaran akan keyakinan ajaran agama Islam dan menolak segala pemikiran yang sengaja merusak atau menolak keyakinan Islam populer dengan terminology bid'ah.

Sejarah perkembangan ilmu kalam diketahui melalui tahapan-tahapan sejarah beserta kronologi peristiwa-peristiwa di dalamnya. Pertama-tama, ilmu kalam diketahui muncul sejak terjadinya perbedaan sekitar masalah imamah (kepemimpinan) sesaat setelah Rasulullah Saw wafat. Perbedaan masalah imamah ini meski awalnya bisa diredam, akan tetapi pada gilirannya munculi ke permukaan dengan penanda terbunuhnya Khalifah Utsman bin Affan yang diikuti rentetan peristiwa seperti pengangkatan Ali bin Abi Thalib sebagai Khalifah, Perang Jamal, Perang Shiffin, Peristiwa Tahkim dan lain-lain, yang pada gilirannya menimbulkan perbedaan-perbedaan pandangan yang meluas hingga ke masalah akidah dan keimanan. Pada periode ini, tema ilmu kalam berkisar pada masalah akidah untuk memantapkan dan mempertahankan keyakinan. Dewasa itu kelompok Mu'tazilah menggunakan metode akal (aqly) sedangkan golongan ahlussunnah menggunakan metode naql (al-Qur,an dan al-Hadist) sampai kemudian Imam Abu Hasan al-‘Asy'ari datang membela madzhab ahlussunnah dengan methode akal.

Meskipun Imam Asy'ari dan murid-muridnya kemudian lebih luas lagi menggunakan akal dalam mempertahankan madzhab ahlussunnah akan tetapi tema ilmu kalam belum bergeser, di mana ilmu kalam cenderung hanya menetapkan dan mempertahankan akidah dan keimanan. Ilmu kalam tetap menjadi disiplin ilmu tersendiri yang memiliki tema dan tujuan tersendiri serta tokoh-tokohnya disebut mutakallimiin. Imam al Ghazali yang membagi ilmuwan menjadi empat kelompok, yaitu: 1- mutakallimuun 2- Bathiniyah 3- falasifah 4- Shufiyah,menempatkan ahli ilmu kalam (mutakallimuun) pada urutan pertama. Masa ini tidak saja ditandai sengitnya perdebatan antara mutakalimun satu dengabn mutakalimun yang lain maupun perdebatan antara mutakalimun dengan kaum filsuf, melainkan ditandai pula oleh tindakan-tindakan keras yang menggunakan senjata yang berujung pada pembunuhan-pembunuhan. .

Perkembangan ilmu kalam selanjutnya mengalami perubahan-perubahan besar sewaktu memasuki abad ke-6 Hijriah sampai abad ke-13Hijriyyah, di mana para filsuf diam-diam mengembangkan pemikiran-pemikirannya dengan menggunakan ilmu kalam. Patut diketahui, bahwa pada masa ini pengaruh al-Ghazali sangat besar terhadap studi filsafat dengan tokoh-tokohnya, terutama setelah beberapa faktor yang menguntungkan al-Ghazali karena serangannya yang gencar terhadap filsafat sebagaimana ditulis dalam buku Tahafut al-Falasifah, di mana kemasyhuran al-Ghazali itu dimanfaatkan untuk kepentingan politik.

Para penguasa dewasa itu berusaha mencari simpati publik, salah satunya dengan memanfaatkan kemasyhuran al-Ghazali, untuk memberangus pihak-pihak yang bertentangan dalam masalah politik dan pemikiran dengan mereka. Para penguasa membatasi semua gerak dan bahkan menindas para filsuf kritis dengan menghukum fisik serta melarang keras buku-buku filsafat beredar. Dewasa itu para penguasa sangat dipengaruhi oleh para fuqohaa yang memanfaatkan jejak pemikiran al Ghazali yang dengan gencar memerangi dan memberangus filsafat. Usaha itu, terbukti sangat efektif mengingat kemasyhuran al-Ghazali dalam memerangi filsafat mendapat dukungan kuat para fuqaaha, sehingga dengan cepat para filsuf disingkirkan.

Dengan situasi yang demikian itu para filsuf tidak leluasa untuk mengemukakan pandangan mereka, mereka bahkan berusaha untuk menutup nutupi pemikiran-pemikiran filsafat mereka. Itu sebabnya, ilmu kalam dianggap sebagai ilmu yang tepat untuk dijadikan alat oleh para filsuf, karena adanya kemiripan antara ilmu kalam dan filsafat di mana keduanya sama-sama bersandar pada akal. Dari sinilah, permasalahan-permasalahan ilmu kalam banyak bercampur-aduk dengan permasalahan-permasalahan filsafat sehingga sulit untuk membedakan keduanya. Hal ini oleh Ibnu Khaldun dalam kitabnya al-Muqaddimah dikatakan, "permasalahan-permasalahan ilmu kalam telah berbaur dengan permasalahan-permasalahan filsafat sehingga sulit bagi seseorang untuk membedakan keduanya".

Sesungguhnya, meski kedua ilmu tersebut -- ilmu kalam dan filsafat -- telah bercampur-aduk baik aspek metodologinya dan penggunaan logika, namun ilmu kalam dengan argumentasi-argumentasi naqliah memiliki orientasi untuk mempertahankan keyakinan ajaran agama, yang sangat kelihatan nilai-nilai apologinya. Sementara filsafat sebagai ilmu yang digunakan untuk memperoleh kebenaran rasio semata. Metode yang digunakan pun , hanya metode rasional.

Satu catatan yang tidak boleh dilupakan, bahwa di tengah munculnya ilmu kalam yang dipicu oleh persoalan politik yang menyangkut peristiwa pembunuhan Utsman bin Affan yang berbuntut pada penolakan Muawiyah atas kekhalifahan Ali bin Abi Thalib, adalah kemunculan orang-orang badui tidak cerdas yang membawa persaksian pertama (asy-syahadat al-awwal) Iblis yang menyatakan "ana khoiru minhu" (Q.S.Al-A'raf:12; Shaad: 76) karena takkabur dan merasa diri lebih mulia dari manusia (Q.S.Al-Baqarah: 35; Al-Hijr:33), mengembangkan kerangka pikir tekstual berdasar dalil-dalil, di mana seperti tuhan mereka memproklamasikan diri sebagai yang paling benar menafsirkan kitab suci. Mereka yang memiliki watak dasar Iblis yang selalu mempersaksikan keberadaan dirinya dengan ungkapan "ana khoiru minhu" yang lahir dari sifat takkabur, sifat yang merasa selalu lebih mulia dari orang lain itu melahirkan ilmu baru, yaitu ilmu dalil, yang dikembangkan tanpa dasar akal kecuali kemarahan dan dendam kebencian, yang menganggap orang-orang yang tidak sepaham dengan mereka mereka sebagai orang kafir yang rendah dan boleh dibunuh. Golongan tanpa akal inilah yang dikenal dalam sejarah perkembangan ilmu kalam sebagai kaum Khawarij.

Dengan kemunculan kelompok Khawarij ini, persoalan kalam yang pertama kali muncul yang menyangkut persoalan siapa yang kafir dan siapa yang bukan kafir, dalam arti siapa yang telah keluar dari Islam dan siapa yang masih tetap Islam, menjadi semakin seru. Sebab rana perdebatan bukan sekedar berkaitan dengan perdebatan verbal, melainkan cenderung hanya menggunakan senjata untuk membunuh orang-orang yang dianggap tidak sejalan dengan pandangan mereka. Dalam sejarah Islam perpecahan golongan yang mulai tampak memuncak setelah terbunuhnya khalifah Utsman bin Affan, yang menjadi penyebab perpecahan antara golongan yang memihak Ali bin Abu Thalib r.a, dengan golongan yang mengikuti Muawiyah bin Abu Sofyan r.a, telah melahirkan golongan Khawarij, yaitu golongan yang tanpa akal memaknai teks-teks wahyu sesuai pemahaman mereka dengan tujuan utama memposisikan diri sebagai tuhan-tuhan suci dan mulia yang paling berhak menafsirkan ayat-ayat Tuhan dan kepuasan jiwa membunuh orang-orang yang mereka nilai sesat.

2011-08-30


script_end

.:: ILMU KALAM - 1/9 ::.
lebih baru..

DAFTAR 9 ARTIKEL TERBARU KATEGORI ILMU KALAM
Free counters!
SEKRETARIAT:
Jl. Karya Timur IV/68 Malang 65122 Telp/Fax. 0341-416711
email: info@pesantrenbudaya.com

DEVELOPED from SCRATCH by AGUS WIDODO