header-daun_01 kayon_01
iklan logoUKM kayon_02
kayon_03
Selamat Datang di PESANTREN BUDAYA NUSANTARA

Wudhu Pijakan Awal Bersuluk

oleh: K Ng H Agus Sunyoto

Setelah lulus dari Pesantren Salafiyyah Syafi'iyyah Al-Fiqiyyah dan lontang-lantung selama dua tahun tak punya pekerjaan, terpusar dalam roda kehidupan makan-beribadah-tidur yang membuat jiwa hambar,  Mas Grangsang Mahjubun menghadap Kyayi Kasyful Arifin, Guru Sufi di Pesulukan Tarikat Akbar yang terletak  di kaki  gunung Jabal Qaf. Dengan keinginan berkobar-kobar memasuki dunia ruhani  ia menyatakan keinginan untuk bersuluk, dan memohon bimbingan dari Sang Guru Sufi. Sebagaimana pengetahuan ilmu fiqih yang telah dipelajarinya di pesantren salafiyyah, ia membayangkan bahwa Guru Sufi akan mengajarinya laku suluk dengan mula-mula mendefinisikan makna suluk, dalil-dalil pendukung laku suluk, maksud dan tujuan bersuluk, silsilah kepewarisan amalan-amalan dalam suluk, bentuk  amalan-amalan yang harus dijalankan, prasyarat-prasyarat yang harus dipatuhi selama suluk, dan berbagai aturan lain yang harus dilaksanakan dalam melakukan suluk.

Beda dengan yang dibayangkan beda pula fakta terkait pembelajaran yang disampaikan Guru Sufi kepada seorang salik yang akan melakukan suluk. Mula-mula, Guru Sufi memang menjelaskan makna harfiah  suluk, yaitu ‘menempuh', maksudnya Menempuh Perjalanan Ruhani menuju Sumber Segala Sumber, suatu perjuangan menempuh jalan untuk kembali kepada Sang Pencipta, yakni melalui jalan taubat (taaba = kembali) yang dipungut dari sabda Allah :

Q. S. 16 : 69 "Fasluki subula Rabbiki zululan"

 

Fasluki subula Rabbiki dzululan! (Q.S.An-Nahl: 69).

Dengan kata-kata lembut tapi tegas, Guru Sufi menjelaskan bahwa yang dimaksud ‘menempuh jalan suluk' bukan berjalan melewati jalan tertentu yang lurus seperti halnya jalan tol, melainkan lebih bermakna laku dari serangkaian amaliyyah dari  sebuah disiplin tertentu untuk  menyucikan qalb dari dorongan-dorongan inderawi dan membebaskan nafs (jiwa) dari dominasi hasrat rendah  keduniawian dengan  dibimbing seorang guru ruhani atau mursyid, yaitu guru ruhani yang telah wushul meraih pengenalan akan dirinya dan Rabb-nya dalam makna yang sebenarnya. Di bawah bimbingan dan pengawasan guru ruhani atau mursyid, seorang  penempuh jalan ruhani (salik) berjuang mengendalikan hawa nafsu rendahnya, membersihkan qalbu dari dorongan-dorongan dan tarikan-tarikan rendah hasrat inderawi, dengan melakukan mujahadah, muraqabah, hingga mukasyafah sampai mencapai  tingkat hakikat. Orang yang meniti  jalan suluk, disebut salik (orang yang melakukan perjalanan ruhani).

Selama mendengar penjelasan Guru Sufi, Mas Grangsang Mahjubun berharap ia segera diberi amalan-amalan wirid yang akan langsung diamalkannya dalam uzlah (pengasingan diri). Namun beda yang diangankan dan diharapkan, Guru Sufi justru memberinya amaliah wudhu yang benar beserta doa-doa yang harus dibacanya selama wudhu.

Guru Sufi yang faham dengan apa yang dipikir dan dirasakan Mas Grangsang Mahjubun, dengan suara lembut member penjelasan bahwa

 menjalani suluk  bukanlah sebuah pengasingan diri dengan ber-uzlah meninggalkan kehidupan keduniawian. Menjalani suluk, ungkap Guru Sufi, adalah menjalankan agama sebagaimana mestinya, yakni mencapai tiga aspek ibadah yang meliputi  ‘Iman' - ‘Islam' - ‘Ihsan' (tauhid - fiqih - tasawuf) dalam kesatuan integral,  satu kesatuan diin Al-Islam yang sempurna. "Bacalah doa-doa ini dalam melaksanakan wudhu menurut cara sufi," kata Guru Sufi memberikan selembar kertas berisi doa-doa wudhu kepada Mas Grangsang Mahjubun.

            Dengan takzim Mas Grangsang Mahjubun menerima kertas berisi doa itu dan membacanya. Seketika benaknya dipenuhi tanda tanya sewaktu memahami isi doa-doa dalam pelaksanaan berwudhu, yang isinya seperti ini:

1.      Ketika melihat air yang akan digunakan wudhu, harus membaca doa : Bismillahi Alhamdu Lillahiladzii Ja'alal Maa'a Thohuuran!

2.      Sebelum berwudhu membaca: Allahummaghfir lii dzanbii wa wass'lii fii daarii wa baarik lii fii rizqi!

3.      Ketika membasuh kedua telapak tangan membaca doa: Allahumma inni as-‘alukal yumnaa wal barakata wa a'udzu bika minasy syu'mi wal halakati!

4.      Doa waktu berkumur: Allahummasqinii min haudli nabiyyika Muhammadin shallaahu ‘alaihii wassalama ka'san laa azhma-u ba'dahu Abadan!

5.      Doa ketika menyesap air ke lubang hidung:Allahumma arihnii raa-ihatal jannah!

6.      Doa ketika mengeluarkan air dari lubang hidung: Allahumma innii a'uudzu bika min rawaihinnaari wa suu-iddaari!

7.      Doa saat membasuh wajah: Allaahumma bayyidi wajhii yauma tabyadl-dlu wujuuh wa taswaddu wujuuh!

8.      Doa saat membasuh tangan kanan: Allaahumma  a'thinii kitaabii biyamii niiwa haasibnii hisaaban yasiiran!

9.      Doa saat membasuh tangan kiri: Allaahumma laa'thinii kitaabii bisyimaalii wa laa min waraa-i zhahrii!

10.  Doa ketika mengusap kepala: Allaahumma harrim sya'rii wa basyarii ‘alannaari wa azhillanii tahta ‘arsyika yauma laa  zhilla illaa zhilluk!

11.  Doa saat mengusap kedua telinga: Allaahumma asmi'nii munaadiyal jannati fil jannati ma'al abraar!

12.  Doa saat membasuh kaki kanan: Allaahumma tsabbit qadamii ‘alash-shirathil mustaqiim ma'a aqdaami ‘ibaadikash shaalihiin!

13.  Doa saat membasuh kaki kiri: Allaahumma inni a'uudzu bika an tazilla qadamii ‘alash-shiraathi finnaari yauma tazillu aqdamaamul munaafiqiina wal musyrikiin!

14.  Doa setelah wudhu: Asyhadu allaa ilaaha illallaah wahdahu laa syariika lahu wa asyhadu anna Sayyidanaa Muhammadan ‘Abduhu wa Rasuuluh. Allaahummaj'alnii minattawwaabiina waj'alnii minal mutathahhiriina waj'anii min ‘ibaadikash shaalihiina. Subhaanakallaahumma  wa bihamdika asyhadu allaa ilaaha illaa Anta astaghfiruka wa atuubu ilaika faghfirlii wa tub ‘alayya innaka antat tawwaaburrahiim.

           Kekecewaan tampak membias di wajah Mas Grangsang Mahjubun, sebab ia merasa diposisikan seperti orang awam atau malah anak kecil. Guru Sufi yang memahami kekecewaan Mas Grangsang Mahjubun bersikap tenang seolah tidak terjadi sesuatu. Namun ia memberitahu Mas Grangsang Mahjubun, bahwa sekali pun yang disampaikan hanya doa-doa untuk berwudhu hendaknya hal itu dilihat dari maksud dan tujuan kenapa laku suluk harus dilewati dengan mengamalkan doa-doa untuk berwudhu. "Selama ini, orang hanya melihat bentuk dan isi doa. Itu sebabnya, orang membagi-bagi doa dalam klasifikasi doanya anak-anak, remaja, orang dewasa, dan orang tua Bangka. Padahal, maksud dari doa yang sangat banyak dan beragam itu adalah melatih dan bahkan setengah memaksa orang untuk selalu ingat kepada Sang Pengabul doa. Maksudnya, sewaktu anak-anak diajari cara berdoa akan tidur, bangun tidur, masuk kamar mandi, mengenakan pakaian, bercermin, makan, setelah makan, keluar rumah, naik kendaraan, menuntut ilmu, dan berbagai aktivitas keseharian, tujuan utamanya tidak lain adalah agar anak-anak selalu mengingat Sang Pencipta di mana pun ia berada dan melakukan aktivitasnya. Eling. Dzikr. Itu yang utama," kata Guru Sufi memberi penjelasan seputar tujuan berdoa.

            "Mohon maaf guru," sahut Mas Grangsang Mahjubun merendah,"Saya berusaha untuk faham."

            "Dengan senantiasa berdoa dalam memenuhi rukun wudhu, maka berusahalah untuk selalu eling, ingat, dzikir kepada Allah. Dan senantiasa berusahalah untuk tidak batal wudhu selama melakukan suluk," kata Guru Sufi mewanti-wanti.

            "Saya pusakakan petunjuk guru," sahut Mas Grangsang Mahjubun takzim.

            "Senantiasa ingatlah," kata Guru Sufi berpesan,"Bahwa yang harus engkau lakukan selama bersuluk, setiap saat hendaknya engkau  berjuang keras  untuk menjaga dan menghadapkan qalb dan pikiranmu kepada Allah. Berbagai tantangan, terutama dari kilasan-kilasan pikiranmu akan mengganggu perjuanganmu. Tapi engkau harus selalu ingat bahwa semua pikiran diskursif itu adalah daya setani yang akan menggagalkan usaha kerasmu untuk selalu mengingat-Nya. Yang lazim dilakukan para salik selama bersuluk adalah memperbanyak amalan ibadah sunnah sebagai tambahan ibadah wajib.  Semoga dengan selalu sadar  bahwa bersuluk adalah berjuang menghadapkan kiblat qalbu dan pikiran hanya kepada Allah."

 

2011-09-11


script_end

..lebih lama
.:: PESULUKAN - 4/12 ::.
lebih baru..

DAFTAR 10 ARTIKEL TERBARU KATEGORI PESULUKAN
Free counters!
SEKRETARIAT:
Jl. Karya Timur IV/68 Malang 65122 Telp/Fax. 0341-416711
email: info@pesantrenbudaya.com

DEVELOPED from SCRATCH by AGUS WIDODO