header-daun_01 kayon_01
iklan logoUKM kayon_02
kayon_03
Selamat Datang di PESANTREN BUDAYA NUSANTARA

Zaman Edan
adalah
Kerusakan Moral Aparatur Negara

oleh: K. Ng. H. Agus Sunyoto

Fenomena Zaman Edan yang dimunculkan R.Ng.Ranggawarsita pujangga Keraton Surakarta pada paruh kedua abad ke-19 itu banyak difahami sebagai era kegilaan masyarakat di masa itu yang mengikuti nilai-nilai menyimpang dari norma-norma. Padahal, jika dicermati secara lebih teliti kehidupan masyarakat saat itu - melalui catatan-catatan koloniaal archive dan laporan-laporan harian (daghregister) maupun catatan keraton - tidak ada satu pun sumber yang memberitakan bahwa dewasa itu terjadi kegilaan massal masyarakat. Itu artinya, istilah Zaman Edan yang dimunculkan R.Ng.Ranggawarsita tentu bukan sebuah kurun waktu yang berisi orang-orang gila massal atau orang-orang yang hidup tidak mengikuti norma-norma.

Meresapi dan merenungkan makna dari bait-bait tembang sinom yang tersusun dalam Serat Kalatidha yang ditulis R.Ng.Ranggawarsita, dapatlah kita tangkap makna di balik istilah Zaman Edan yang dimaksud pujangga kelahiran 1802 itu bukanlah kegilaan masyarakat. Sekali-kali bukan. Justru dari makna bait-bait tembang dalam Serat Kalatidha kita ketahui bahwa yang dikecam dengan keras akibat rendahnya moralitas bukanlah masyarakat, melainkan aparatur negara mulai Raja, Patih (perdana menteri), nayaka (pejabat-pejabat setingkat menteri), punggawa (pejabat tinggi), panekar (pegawai). Para aparatur negara yang tidak jujur, suka memfitnah, gemar menjilat, mahir berbohong, piawai bersilat lidah, dan ketagihan korupsi inilah yang dikecam dengan keras oleh Ranggawarsita. Bahkan untuk menggambarkan suasana kehidupan di negara Surakarta dewasa itu, Ranggawarsita menganalogikan dengan ketidak-warasan aparatur yang menyimpang dari pedoman etis menjalankan pemerintahan sebagaimana termaktub dalam Serat Panitisastra. Bahkan dengan sarkastis, Ranggawarsita menggambarkan keruntuhan moral aparatur negara yang korup itu dengan sebutan Zaman Edan, yang akan mendatangkan Zaman Azab Kutukan (Kalabendhu).

Serat Kalatidha ditulis dalam duabelas pupuh. Sebagian di antaranya - yang menggambarkan kerendahan moralitas aparatur negara itu - dipaparkan sebagai berikut di bawah ini:

I
Mangkya darajating praja/ Kawuryan wus sunyaruri/ Rurah pangrehing ukara/ Karana tanpa palupi/ Atilar silastuti/ Sujana sarjana kelu' Kalulun kala tida/ Tidhem tandhaning dumadi/ Ardayengrat dene karoban rubeda//

(sekarang harkat negara/ telah sepi-hampa/ (akibat) rusaknya perundang-undangan/ karena tiada lagi teladan/ (sehingga) sang pujangga/ hatinya diliputi kepedihan dan prihatin/tampak jelas hina-dinanya/ suram sudah tanda kehidupannya/ kesulitan di dunia akibat kebanjiran aral yang melintang)

II
Ratune ratu utama/ Patihe patih linuwih/ Pra nayaka tyas raharja/ Panekare becik-becik/ Paranedene tan dadi/ Paliyasing Kala Bendu/ Mandar mangkin andadra/ Rubeda angrebedi/ Beda-beda ardaning wong sak negara//

(Rajanya raja utama/ perdana menterinya sangat pandai/ para menteri bercita-cita sejahtera/ pegawai-pegawai pun berperilaku baik/ kendati begitu/ (semua) itu tidak menjadi penolak zaman kutukan/ malah (kutukan) akan semakin merajalela/ (banyak) halangan yang mengganggu/ berselisih pendapatlah orang seluruh negeri karena keserakahan dan kerakusan//)

III
Katatangi tangisira/ sira sang para-mengkawi/ kawileting tyas duhkita/ kataman ing reh wirangi/ dening upaya-sandi/ sumaruna anarawung/ mangimur manuhara/ met pamrih melik pakolih/ temah suh-ha ing karsa tanpa weweka//

(Bangkitlah tangisan/ sang pujangga/ hatinya diliputi dukacita/ terhimpit oleh rasa malu/ karena tipu muslihat/ (orang-orang) yang mendekati/ yang menyanjung dan memuji/ dengan tujuan memperoleh keuntungan/ akibatnya hancur semua cita-cita jika berhati-hati//)

IV
Dhasar karoban pawarta/ babaratun ujar lamis/ pinudya dadya pangarsa/ wekasan malah kawuri/ yan pinikir sayekti/ pedhah apa aneng ngayun/ andhedher kaluputan/ siniraman banyu lali/ lamun tuwuh dadi kekembanging beka//

(ketika banjir berita/ kabar angin hanya basa-basi/ didoakan agar menjadi pemuka/ akhirnya malah jadi yang terkebelakang/ jika dipikir dengan sungguh-sungguh/ apakah manfaat jadi pemuka/ menebar benih kesalahan/ tersirap air kealpaan/ jika tumbuh menjadi kesulitan//)

V
Ujaring Paniti sastra/ awewarah asung peling/ Ing jaman keneng musibat/ wong ambeg jatmika kontit/ mengkono yen niteni/ pedah apa amituhu/ pawarta lalawora/ mundhuk angroronta ati/ angur baya ngiket cariteng kuna//

(menurut (kitab) Panitisastra/ mengajar membei peringatan-nasehat/ di jaman yang terkena musibah/ orang yang santun terkebelakang/ demikian jika kita cermat memperhatikan/ apakah manfaat percaya/ jika berita sudah tidak bermakna/ menambah rasa sakit hati/ lebih baik menggubah kisah-kisah kuno//)

VI
Keni kinarya darsana/ panglimbang ala lan becik/ sayekti akeh kewala/ lalakon kang dadi tamsil/ masalahing ngaurip/ wahanira tinemu/ temahan anarima/ mupus papasthening takdir/ puluh-puluh anglakoni kaelokan//

(dapat dipakai teladan/ (untuk) membandingkan baik dan buruk/ tentulah cukup banyak/ kisah-kisah yang dijadikan contoh/ (tentang) masalah kehidupan/ akhirnya ditemukan/ akibatnya (bisa) menerima/ menyadari keputusan takdir/ apa boleh buat (harus) mengalami keanehan//)

VII
Amenangi jaman edan/ Ewuh aya ing pambudi/ Milu edan nora tahan/ Yen tan milu anglakoni/ Boya kaduman melik/ Kaliren wekasanipun/ Ndilalah karsa Allah/ Begja-begjane kang lali/ Luwih begja kang eling lawan waspada//

(mengalami Zaman Gila/ sulit (diterima) nalar sehat/ ikut gila tiada tahan/ jika tidak ikut menjalani (kegilaan)/ tidak kebagian harta benda/ kelaparanlah akhirnya/ takdir kehendak Allah/ seberuntung-beruntungnya orang yang alpa/ lebih beruntung (orang) yang ingat dan waspada//)

Lepas dari parah dan tidak parahnya fenomena korup di era Negara tradisional Surakata dalam kenyataan sampai pantas diberi sebutan Zaman Edan oleh Ranggawarsita yang menggunakan pedoman Serat Panitisastra - kitab pedoman etis dalam pemerintahan, tentunya tidak bisa dibandingkan dengan fenomena korupsi yang terjadi di Negara Indonesia belakangan ini. Sebab kalau fenomena korup di Negara Indonesia belakangan ini dinilai berdasar nilai-nilai etika pemerintahan sebagaimana termaktub di dalam Serat Panitisastra, Niti Praja, Niti Sruti, Nawa Natya, Salokantara dipastikan bukan "Zaman Edan" yang layak disandangkan kepada keadaan aparatur Negara Indonesia yang masuk peringkat tiga besar Negara terkorup di dunia, melainkan yang lebih cocok adalah ‘Zaman Ultra Edan wa al-Majnun wa al-Gendeng wa al-Gemblung min al-Gila Kuadrat"

2011-08-25


script_end

.:: PUSTAKA - 1/10 ::.
lebih baru..

DAFTAR 10 ARTIKEL TERBARU KATEGORI PUSTAKA
Free counters!
SEKRETARIAT:
Jl. Karya Timur IV/68 Malang 65122 Telp/Fax. 0341-416711
email: info@pesantrenbudaya.com

DEVELOPED from SCRATCH by AGUS WIDODO