header-daun_01 kayon_01
iklan logoUKM kayon_02
kayon_03
Selamat Datang di PESANTREN BUDAYA NUSANTARA

Tanggal dan Panglong Berdasar Siklus Bulan Kelilingi Bumi

oleh: K Ng H Agus Sunyoto

Setelah menjelaskan tentang Wewaran, yaitu siklus satuan hari yang dibagi sesuai satuan dengan rentang pembagian satu (ekawara) sampai sepuluh (dasawara), Rakean Jambri mengajarkan tentang pratiti, yaitu penghitungan tanggal yang didasarkan pada siklus rembulan mengelilingi bumi. Berbeda dengan tahun Masehi yang membagi siklus rembulan mengelilingi bumi dengan satuan hitungan 28, 29, 30 hingga 31 hari, dalam kalender Nusantara siklus rembulan mengelilingi bumi yang  disebut dengan Tanggal (Cuklapaksa) dan Panglong (Kresnapaksa),  menetapkan masing masing siklus selama 15 hari sesuai pergerakan rembulan. "Maksudnya, perhitungan Tanggal (Cuklapaksa) dimulai 1 hari setelah (H+1) hari Tilem (bulan Mati) dan perhitungan Panglong (Kresnapaksa) dimulai 1 hari setelah (H+1) hari purnama (bulan penuh)," kata Rakean Jambri menjelaskan.

            "Maaf romo  guru," Mas Bhrangga yang berusaha memahami bertanya,"Berarti dalam kalender Nusantara tidak ada tanggal 16, 17, 18 dan seterusnya sampai tanggal 30 atau 31, begitukah?"

            "Tepat sekali, penanggalan dalam kelender Nusantara hanya mengenal tanggal satu sampai tanggal 15," kata Rakean Jambri.

"Jika demikian, bagaimanakah membedakan tanggal 1 sampai tanggal 15 pada pergerakan rembulan pertama dan tanggal sampai tanggal 15 pada pergerakan rembulan berikutnya?" tanya Mas Bhrangga ingin tahu.

"Dengan sistem pembagian 15 hari itu, siklus pergerakan rembulan mengitari bumi dibagi dua," kata Rakean Jambri memaparkan,"Yang 15 hari pertama disebut  Tanggal (Cuklapaksa) dan yang 15 hari kedua disebut Panglong (Kresnapaksa). Dengan pembagian tanggal dan panglong itu, maka kalender Nusantara menandai  siklus rembulan mengelilingi bumi yang  15 hari yang  disebut Tanggal atau Cuklapaksa dengan sebutan Paruh Terang dan menandai siklus rembulan mengelilingi bumi yang 15 hari yang disebut Panglong atau Kresnapaksa itu dengan sebutan Paruh Gelap."

"Oo begitu  romo guru," Mas Bhrangga mengangguk-angguk,"Tapi bagaimana membedakan Tanggal (Suklapaksa) atau Paruh Terang itu dengan Panglong (Kresnapaksa) atau Paruh Gelap itu?".

 "Hitungan Tanggal (Cuklapaksa) yang disebut Paruh Terang dimulai dengan melihat bentuk  rembulan seperti garis tipis berbentuk sabit (hilal) yang dihitung sebagai tanggal 1 yang dihitung perubahannya sampai rembulan bersinar penuh pada tanggal 15, yaitu saat rembulan disebut purnama. Sebaliknya hitungan Panglong (Kresnapaksa) yang disebut Paruh Gelap  dimulai dari hitungan  sehari setelah rembulan purnama sampai  rembulan lenyap dariu cakrawala pada tanggal 15, yaitu  saat rembulan  disebut tilem. Siklus tanggal dalam satu bulan menurut kalender Nusantara, bagan gambarnya sebagai berikut:

 

Tanggal (Cuklapaksa) = Paruh Terang

Panglong (Kresnapaksa) = Paruh Gelap

Esa   (Pratipada)                   = tanggal   1

Rwa (Dwitya)                      = tanggal   2

Telu  (Tritiya)                      = tanggal   3

Pat   (Caturtha)                    = tanggal   4

Lima (Pancatha)                   = tanggal   5

Nem  (Sadwi)                         = tanggal   6

Pitu   (Saptami)                      = tanggal   7

Wwalu (Astami)                     = tanggal   8

Sanga  (Nawami)                   = tanggal    9

Sapuluh (Dasami)                  = tanggal   10

Sawelas (Ekadaci)                 = tanggal    11

Rwawelas (Dwidaci)             = tanggal    12

Teluwelas (Triyodaci)           = tanggal    13

Patwelas (Caturdaci)             = tanggal    14   Prawaning Purnama

Limawelas (Pancadaci)         = tanggal    15  (Purnama)

Esa ireng   (Ekakalpa)          = panglong    1

Rwa ireng (Dwiklika)           = panglong   2

Telu ireng  (Trimuka)            = panglong   3

Pat remeng (Caturtinca)        = panglong  4

Lima soca  (Pancanetra)       = panglong  5

Nem irung (Sadgana)            = panglong  6

Pitulung (Saptabhuwana)      = panglong 7

Wwalirung (Astagana)         = panglong 8

Sangareng (Nawadhipa)      = panglong  9

Sapuluhireng (Dasabhuja)     = panglong 10

Sawelasireng (Ekadasakala)  = panglong  11

Rwalasireng  (Dwidasakala)  = panglong  12

Telulasireng  (Tridasaguna)   = panglong  13

Patwelasreng (Caturdasanetri)= panglong  14 Prawaning Tilem

Limalasreng (Pancadasabhuja)= panglong 15 Tilem

 

              "Maaf  romo guru," kata Mas Bhrangga minta penjelasan,"Dengan melihat perubahan bentuk rembulan selama siklus paruh terang dan paruh gelap, bukankah dituntut keharusan untuk terus menerus melihat bentuk rembulan?"

              "Memang demikian leluhur kita senantiasa melihat perubahan bentuk rembulan untuk dicocokkan dengan hasil hitungan Tanggal dan Panglong mereka," kata Rakean Jambri.

             "Bagaimana jalan mudah untuk menandai tanggal awal rembulan yang masih tipis bentuknya?" tanya Mas Bhrangga ingin tahu.

              "Leluhur kita menandai tanggal awal Paruh terang dengan selembar kain putih," kata Rakean Jambri membentangkan selembar kain,"Maksudnya, dengan melihat bentuk rembulan dari balik kain putih ini, bayangan rembulan akan terlihat jelas. Maksudnya, jika  rembulan di balik kain putih itu berbentuk dua garis bayangan tipis, maka itu menunjuk tanggal dua. Jika rembulan berbentuk tiga garis bayangan tipis, maka itu menunjuk tanggal tiga. Nah, dengan cara seperti itu, leluhur kita mengetahui saat waktu dengan tepat."

            "Wah susah juga ya kalau tiap malam harus mengawasi rembulan," gumam Mas Bhrangga geleng-geleng kepala.

            "Untuk mengetahui saat waktu yang tepat, memang dibutuhkan semangat tinggi dan kerja keras. Itulah yang menjadikan leluhur kita dulu mampu mencatatkan diri di tengah sejarah bangsa-bangsa di dunia sebagai bangsa yang berbudaya tinggi. Sementara, anak-anak sekarang berjiwa hedonis, minta semua tersedia serba instant. Akibatnya, mereka hanya menjadi konsumen dari pengetahuan orang lain."

            Mas Bhrangga tersenyum kecut dan menunduk dalam-dalam karena merasa tersindir.

 

2011-09-14


script_end

..lebih lama
.:: ALMANAK - 3/9 ::.
lebih baru..

DAFTAR 9 ARTIKEL TERBARU KATEGORI ALMANAK
Free counters!
SEKRETARIAT:
Jl. Karya Timur IV/68 Malang 65122 Telp/Fax. 0341-416711
email: info@pesantrenbudaya.com

DEVELOPED from SCRATCH by AGUS WIDODO