header-daun_01 kayon_01
iklan logoUKM kayon_02
kayon_03
Selamat Datang di PESANTREN BUDAYA NUSANTARA

Serat Menak Lakon Menak Sarehas

oleh: K Ng H Agus Sunyoto

                  Dalam tradisi sastra Jawa dikenal adanya empat wiracarita (epos) besar yang dikagumi dan digemari masyarakat. Wiracarita pertama dan kedua, adalah wiracarita bernafaskan Hindu, yaitu Ramayana dan Mahabharata dengan latar cerita Bharatnagari (India). Wiracarita ketiga, juga bernafaskan Hindu yang disebut  kisah Panji yang berlatar kisah-kisah lokal. Wiracarita keempat, adalah wiracarita bernafaskan Islam yang dikenal dengan sebutan Serat Menak. Selain itu, masih terdapat wiracarita bernafas Islam seperti Serat Iskandar dan Serat Yusuf, tetapi tidak cukup menandingi kemasyhuran keempat wiracarita sebagaimana tersebut di atas.

           Kisah kepahlawanan Serat Menak merupakan hasil transformasi dari sastra Melayu Hikayat Amir Hamzah, di mana Hikayat Amir Hamzah pun berasal dari sebuah wiracarita Persia berjudul Qissa il Emir Hamza, yaitu sebuah epos yang mengkisahkan kepahlawanan tokoh Amir Hamzah. Di dalam cerita itu tokoh Amir Hamzah digambarkan sebagai pahlawan yang hebat dan gagah berani, seorang tokoh penyebar Agama yang dibawa Nabi Ibrahim. Poerbatjaraka (1940) memperkirakan cerita Menak masuk ke dalam kesusasteraan Jawa sekitar abad ke-17 Masehi. Sementara Pigeaud (1967) memperkirakan cerita Menak sudah ditulis di daerah pesisir utara Jawa Timur, Madura, Bali, dan Lombok pada abad ke-16 dan ke-17 dengan pembacaan ditembangkan.

            Oleh karena Serat Menak berinduk pada epos Persia Qissa il Emir Hamza, maka terdapat nama-nama tempat maupun nama-nama tokoh yang berasal dari bahasa Persia yang di-Jawa-kan sesuai pungucapan lafal Jawa. Nama Mihrnigar, misal, dimunculkan dalam nama Dewi Muninggar; Raja Shehriar dimunculkan dalam nama tokoh Sarehas; Qobath Shehriar dimunculkan dalam nama tokoh Kobatsah; Raja Anusyirvan dimunculkan dalam nama tokoh Prabu Nursewan; Qoraishi dilafalkan menjadi Dewi Kuraisin; Unekir dilafalkan Dewi Adaninggra; Madain dilafalkan Medayin; Najra' dilafalkan Najerak; Baghdad dilafalkan Mbagedad, dsb. Dan tidak berbeda dengan wiracarita Ramayana, Mahabharata, Panji, Serat Menak dikembangkan di tengah masyarakat lewat seni pertunjukan wayang. Berbeda dengan lakon wiracarita Ramayana dan Mahabharata yang disebarluaskan lewat pertunjukan wayang purwa dan cerita Panji dengan wayang beber (karebet), Serat Menak disebarkan lewat seni pertunjukan wayang golek, wayang tengul,  cerita tutur kentrung, cerita tutur jemblung, dan wayang kulit Sasak.

               Secara garis besar, wiracarita  Menak mengisahkan permusuhan antara  Amir Ambyah  yang juga disebut Wong Agung Jayengrana dari Mekah dengan mertuanya, Raja Nursewan, penguasa  Medayin yang masih kafir. Raja Nursewan  tidak mau tunduk dan  selalu berusaha mencari bantuan dan perlindungan dari negara-negara lain yang rajanya bersedia memusuhi Amir Ambyah. Karena itu, terjadilah peperangan berkepanjangan yang melibatkan negara-negara tersebut dengan Amir Ambyah. Semua dikisahkan kalah.  Setelah semua raja berhasil ditaklukkan, Amir Ambyah kembali ke Medinah dan bertemu dengan keponakannya, Nabi Muhammad. Amir Ambyah  berganti syariat dari syariatnya  Nabi Ibrahim ke syariatnya Nabi Muhammad. Ketika Medinah diserang pasukan Medayin yang bersekutu dengan pasukan dari Lakat dan Jenggi, Amir Ambyah maju ke medan perang. Ia gugur di medan perang sebagai prajurit Allah. Dalam sejarah, pertempuran Amir Ambyah itu disebut "Perang Uhud" di mana paman Nabi Muhammad Saw yang bernama Hamzah gugur dalam pertempuran akibat dilempar tombak oleh Wasi'.

            Serat Menak tertua ditulis di Keraton Kartasura atas perintah Kanjeng Ratu Mas Blitar, permaisuri Sunan Paku Buwana I. Serat Menak itu ditulis pada hari Jum'at, tanggal 17, bulan Rajab, Tahun Dal, Wuku Marakeh, mangsa Kasa, dengan sengkalan: Lenging Welut Rasa Purun (Liang Belut Rasa Berani) yang sama dengan tahun 1639 Jawa atau bulan Juli 1717 Masehi. Yang menulis adalah Carik Narawita, menantu Waladana. Serat Menak kartasura ini masih dekat sekali dengan Hikayat Amir Hamzah berbahasa Melayu, karena redaksinya masih terdapat kosa kata Melayu. Terdapat juga pengaruh dari kidung Jawa pertengahan. Naskah Menak Kartasura ini sekarang tersimpan di Perpustakaan nasional RI dengan nomor koleksi BG 613.

            Cerita Serat Menak bagian pertama berkisah tentang Menak Sarehas. Ringkasan ceritanya, sebagai berikut:

Syahdan pada jaman Menak tidak ada negara yang lebih jaya dibanding Medayin, negara besar dengan empat ribu negara jajahan. Negara itu dipimpin oleh seorang raja yang arif bijaksana, Sarehas. Namun belum puas dengan kekuasaannya, Sarehas ingin menjadi yang paling unggul di antara segala makhluk. Ia ingin memiliki kekuasaan dan kesaktian seperti Nabi Sulaiman. Karena didorong keinginan kuat untuk  memperoleh kesaktian seperti Nabi Sulaiman, Sarehas  bertapa di dasar laut. Karena ketekunannya, datang Nabi Kilir menemuinya dan menganugerahi kulit kayu yang berkhasiat dapat menjadikan orang bijaksana dan mengerti bahasa segala mahkluk hidup. Oleh  Sarehas, kulit tersebut diberikan kepada Nimndahu, juru masak istana agar diolah menjadi kue apem. Nimndahu sendiri sejatinya berdarah ksatria keturunan nabi dan masih kerabat Raja Sarehas. Sejak isterinya meninggal, ia tinggal bersama anak tunggalnya yang bernama Lukmanakim. Karena kepandaiannya memasak, Nimndahu dijadikan juru masak raja.

Sesuatu yang tak terduga tiba-tiba terjadi di mana sewaktu  apem pesanan Raja Sarehas itu sudah masak, langsung dimakan oleh Lukmanakim, anak tunggal Nimndahu. Paniklah Nimndahu setelah tahu apem pesanan raja dimakan habis Lukmanakim. Akhirnya Raja Sarehas diberi kue apem biasa. Itu sebabnya,  setelah  memakan  kue apem, Prabu Sarehas tetap saja seperti semula, ia  tidak memiliki kesaktian apapun. Sebaliknya Lukmanakim tiba-tiba menjadi orang yang arif  bijaksana dan mengerti bahasa segala makhluk hidup.

Dalam perkembangannya, Lukmanakim bertemu dengan Raja Jin dan  memperoleh  berbagai ilmu dari raja jin tersebut. Ilmu tersebut ditulisnya sehingga menjadi sebuah kitab yang dinamakan Adam Makna. Di antara khasiat ilmu yang dimiliki Lukmanakim, adalah kemampuannya untuk  menghidupkan orang mati dan menjadikan muda orang yang sudah tua. Karena dianggap berbahaya, kitab itu yang dua pertiga bagian direbut oleh  Jabarail, yang  sepertiga bagian lagi dibuang dan jatuh ke laut, dan yang  sepertiga bagian lagi dilemparkan dan jatuh di negara Ngajrak, diterima oleh Asan Asil.

Beberapa tahun setelah itu, dikisahkan  Lukmanakim meninggal dunia. Ia memiliki seorang putra bernama Bekti Jamal. Tidak lama kemudian, Raja  Sarehas juga meninggal dunia, dan digantikan oleh putranya yang bernama Raja Kobatsah.  Patih Raja Sarehas yang bernama Abujantir juga meninggal dunia digantikan oleh Patih Aklaswajir. Bekti Jamal dikisahkan memiliki seorang putra bernama Betal Jemur. Betal Jemur  inilah yang menerima warisan sisa kitab Adam Makna setelah Bekti Jamal mati dibunuh oleh Patih Aklaswajir  karena berebut harta karun. Karena menguasai kitab, Betal Jemur  menjadi orang yang pandai, arif dan  bijaksana.

Patih Aklaswajir memiliki putra tiga orang, dua putri dan seorang putra lelaki. Putra  yang laki-laki diberi nama Bestak. Putri yang sulung diperistri putra raja Ngabesi, sedangkan adiknya menjadi istri Betal Jemur. Beberapa tahun kemudian ketika Raja Kobatsah meninggal, putranya yang bernama Yayi  menggantikannya menjadi raja Medayin dan bergelar Prabu Nusirwan. Bestak diangkat sebagai patihnya, sedangkan Betal Jemur dijadikan penasehat negara Medayin. Kejahatan Patih Aklaswajir yang membunuh Bekti Jamal tanpa kesalahan apa pun, akhirnya terbongkar dan ia dijatuhi hukuman mati oleh Raja Kobatsah.

2011-09-16


script_end

..lebih lama
.:: SASTRA LISAN - 4/12 ::.
lebih baru..

DAFTAR 10 ARTIKEL TERBARU KATEGORI SASTRA LISAN
Free counters!
SEKRETARIAT:
Jl. Karya Timur IV/68 Malang 65122 Telp/Fax. 0341-416711
email: info@pesantrenbudaya.com

DEVELOPED from SCRATCH by AGUS WIDODO